Ally Wooden - Part 25

798 110 9
                                        

Sudah lima hari sejak terakhir kali Ally melihat Paul Walton berkeliaran di kota tempatnya tinggal. Kabar itu juga dibenarkan oleh Mrs. Zoe, bahwa Jane dan tunangannya sudah meninggalan North Carolina empat hari yang lalu. Menyisakan Ally Wooden dengan kehidupan normalnya yang tidak pernah benar-benar normal sejak dia bertemu dengan Paul Walton.

***

Hari itu sebelum Paul kembali ke New York, dia menemui Ally sepulang kerja dan mengajaknya ke hotel tempatnya menginap selama di North Carolina. Ally tidak bisa menolak karena sebagian dirinya justru menginginkan hal itu.

"Paul,..." Alis Ally bertaut saat dia melihat sosok pria yang duduk dibalik kemudi mobil dengan mesin yang menyala malam itu. Ally bahakan sempat dibuat jengkel karena mobil itu mengklaksonnya berkali-kali, hingga Ally memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan berniat memaki si pengendara. Tapi setelah kaca mobil gelap itu turun dan Ally melihat siapa yang duduk di belakang kemudi, dia mengurungkan niatnya.

"Masuklah." Ucap paul setengah berteriak, dia tampak mencondongkan kepala ke arah jendela mobil yang kacanya terbuka agar Ally bisa melihat wajahnya.

"Tidak." Tolak Ally.

"Masuk atau seseorang mungkin melihat kita dan akan jadi masalah." Ancam Paul, hingga Ally mengalah dan masuk. Dia tidak ingin siapapun melihat Paul di sekitarnya dan bertanya-tanya perihal hubungan mereka. Namun sayang, saat itu Layla melintas dan melihat plat mobil itu pernah bertengger di depan toko dan mengantar Jane. Alis Layla bertaut, dia melihat Ally membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil itu. Sementara sore itu langit belum terlalu gelap hingga Layla masih bisa melihat bayangan pria yang duduk di belakang kemudi. Itu jelas bukan Jane.

Mobil itu segera melesat dan hilang di ujung jalan.

***

Ternyata Paul Walton membawa Ally ke hotel tempatnya menginapm President Suit nan sangat mewah.

Ally mengikuti Paul masuk kedalam kamar dan tanpa aba-aba Paul segera memojokkannya ke tembok dan menghujaninya dengan ciuman sebelum Ally sempat mengelak. Paul bahkan membuat Ally menjatuhkan tasnya dan memaksa coat yang menyelimuti tubuh Ally lepas dan terlempar begitu saja ke lantai. Ally benar-benar tidak bisa berpikir entah untuk membalas ciuman, melawan, atau menolak. Dia terdiam seperti boneka tak bernyawa saat Paul melakukan semuanya itu. Alih-alih menangis memohon belas kasihan, Ally bahkan mungkin sudah gila dan akan diam saja jika Paul melampiaskan hasratnya karena frustasi.

Bahkan saat Paul menarik paksa kemeja Ally hingga kancingnya terlepas dan berhamburan jatuh begitu saja, menyisakan pakaian dalam Ally yang tampak di sela kemejanya, gadis itu tetap diam.

Paul terus merangsang Ally agar membalas, tapi tak berhasil, bahkan hingga Paul memindahkannya ke sofa, Ally bergeming bag boneka sex yang tidak bisa melawan meski si lawan tampak seperti orang kerasukan karena adrenalin yang terus naik.

"Ally,..." Paul terengah, dia menatap Ally dan gadis itu memilih tidak menatapnya. "Kau benar-benar tidak menginginkanku?" Bisik Paul tidak percaya, selama ini dia selalu berhasil membuat wanita bertekuk lutut memohon untuk diberikan kepuasan, tapi Ally, dia bahakan menolak Paul dengan cara mengerikan seperti ini. Diam, tanpa perlawanan dan itu jelas bukan hal yang diinginkan Paul Walton dari seorang gadis.

"Ikut denganku ke New York." Paul berguling di sisi Ally dan memilih untuk memeluknya, untuk kedua kalinya dia harus meredam hasrat seksualnya di hadapan gadis ini.

"Ally, berhentilah menjadi batu." Protes Paul, Ally tetap diam. Diamnya bukan semata karena dia tidak ingin menjawab Paul, tapi dia lakukan agar tubuhnya tidak memberontak dan membalas pelukan, cuman, bahkan sentuhan penuh gairah seperti yang Paul lakukan untuknya.

Ally WoodenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang