Happy Reading!!!
***
Hari-hari selanjutnya Dania habiskan bersama Dava, laki-laki baru yang mengisi hatinya yang sudah terlalu lama kosong, laki-laki baru yang sudah menghangatkan perasaannya yang dingin, dan laki-laki baru yang tidak pernah di sangka akan menjadi partnernya meraih kebahagiaan yang baru.
Dania bukan main senangnya dan ia sangat bersyukur karena Tuhan memberikan Dava sebagai penyambung kebahagiaan yang beberapa tahun dirinya lupakan.
Dania memang lebih suka menyebut Dava sebagai penyambung dari pada pengganti, karena pada kenyataannya Mike tidak akan pernah terganti walau sudah tidak berada disisi, dan Dava bukanlah sosok yang ingin Dania jadikan pengganti.
Mike berarti, tapi itu dulu, karena kisahnya dengan pria itu sudah berhenti, di bawa pergi sang pemilik hati yang sudah mati. Sementara Dava, laki-laki itu yang kini menjadi pemilik hati, sosok baru yang Dania cintai, dan tak akan pernah ingin dirinya khianati. Semoga kisahnya berjalan sesuai dengan apa yang dirinya inginkan.
“Semangat kerjanya sayang,” Dava berujar lembut seraya memberikan kecupan singkat di kening sang tunangan begitu mobilnya berhenti di depan kantor tempat Dania bekerja.
Sejak resmi berstatus tunangan dua minggu lalu, Dava memang rajin menjemput Dania pagi-pagi di rumah perempuan itu untuk di ajak berangkat bersama. Dania tidak Dava izinkan membawa mobil sendiri karena dirinya ingin menjaga wanitanya secara langsung. Itu alasan yang Dava ucapkan, padahal Devin sendiri tahu bahwa calon abang iparnya itu ingin terus berduaan.
“Kamu juga semangat kerjanya, hati-hati juga di jalan. Jangan lupa kabari aku begitu sampai di kantor.” Pesan Dania seperti biasa. Dan Dava tidak pernah sekalipun bosan mendengarnya. Meskipun sangat sederhana, tapi dari ucapan Dania itu menggambarkan banyak makna. Dava menyukainya.
“Kalau gitu aku turun. Bye sayang.” Dania keluar dari mobil itu, meninggalkan si pemilik yang terpaku tak percaya.
Panggilan ‘sayang’ memang untuk pertama kalinya Dania lontarkan selama dua minggu hubungan mereka terjalin. Tidak seperti Dava yang memang sudah menggunakannya sejak tukar cincin mereka lakukan. Dania bukan tidak ingin memanggil menggunakan kata itu untuk Dava, tapi dirinya terlalu malu dan selalu tidak bisa mengendalikan pipinya yang sangat mudah merona bila di dekat Dava.
Sekarang pun wajahnya sudah menghangat dan Dania yakin bahwa rona merah itu sudah menghiasi pipinya. Itu juga alasan Dania berjalan cepat tanpa menoleh kembali ke arah mobil Dava yang masih diam di depan lobi. Dadanya yang berdetak kuat, Dania tekan agar jantungnya tidak kabur dari tempat.
“Bu Dania kenapa?”
“Astaga.” Dania terlonjak kaget saat sebuah tepukan kecil mampir di pundaknya.
“Bu Dania baik-baik saja ‘kan?” tanya perempuan cantik dengan pakaian formalnya itu dengan kening mengerut heran.
“Saya baik-baik aja,” Dania menggeleng seraya melayangkan senyum kecil. “Ah iya, apa jadwal saya hari ini?” tanyanya kemudian, setelah di rasa detakan jantungnya kembali normal dan ia sudah bisa mengendalikan diri dari keterkejutannya barusan.
Kini Dania sudah berlaku santai membahas jadwalnya dengan sang sekretaris, dan tidak menyangka bahwa jadwalnya hari ini cukup padat. Ada beberapa meeting yang di hadiri terlebih membahas pengenai perkembangan keuangan perusahaan sebagaimana menjadi tanggung jawab Dania selama tiga tahun bekerja di kantor yang didirikan oleh sang kakek. Yang saat ini sepenuhnya di pegang oleh Levin, sebelum beberapa tahun ke depan akan di serahkan pada Devin, saat putra satu-satunya itu mampu mengemban tanggung jawab besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Welcome My Happiness
General FictionKesedihan seolah sudah menjadi teman setia Dania sejak calon suaminya pergi tanpa pesan, bukan pergi karena sebuah penghianatan, melainkan kecelakaan yang tidak pernah terbayangkan akan merenggut nyawa orang tersayang. Kejadian itu merenggut kebahag...
