Chapter 30

1.4K 121 14
                                        

Happy Reading !!

***

“Dania!” teriak heboh Queen dan Ratu dari dalam café begitu Dania dan Dava berjalan masuk. Membuat suasana café yang ramai berubah sunyi dan semua mata tertuju pada kedua orang yang berteriak tidak tahu tempat itu. Untung mereka berada di café milik Chiko, jadi tidak pasti akan terancam dengan pengusiran karena sudah membuat tidak nyaman pengunjung.

Dania membalas teriakan itu dengan lambaian tangan, lalu melanjutkan langkah bersama Dava yang setia menggandeng tangannya, menghampiri meja di pojok paling belakang yang sudah di isi oleh teman-teman Dava.

“Toa banget emang kedua nenek sihir itu.” Gerutu pelan Dava yang hanya bisa di dengar oleh Dania. Wanita cantik itu kerkekeh pelan seraya melayangkan cubitan kecil di pinggang sang tunangan.

“Gitu-gitu juga mereka sepupu aku, Dav. Calon sepupu kamu juga.”

“Kamu gak bisa ganti sepupu aja gitu, Yang? Pilih sepupu yang agak kaleman dikit,” kata Dava yang kembali di sambut dengan cubitan kecil Dania.

“Ya gak bisa. Lagian aku gak bisa menentukan dari keluarga mana aku lahir, gak bisa juga pilih sepupu seperti yang kamu sebutkan itu, kecuali kalau kamu mau ganti calon istri, cari yang keluarganya kalem-kalem. Kamu kan tahu sendiri gimana keluarga aku,” Dania menoleh pada Dava. “nyebelin semua.” Dania semakin berbisik, lalu terkekeh setelahnya.

“Tapi gak ada calon istri yang aku mau lagi selain kamu, gimana dong?”

“Ya udah, kalau gitu kamu terima aja sepupu yang modelannya kayak Queen, Ratu sama Bang Rapa,” jawab ringan Dania.

“Ya mau bagaimana lagi …,” Dava menaikan sedikit bahunya. “Aku terlalu mencintai kamu, itu artinya aku memang harus menerima mereka segila dan semenyebalkan apa pun sepupu kamu itu.” Dava pura-pura pasrah.

Obrolan singkat mereka barusan memang hanya sekedar candaan. Lagi pula, Dava mana mungkin keberatan memiliki keluarga yang seru seperti keluarga calon istrinya itu, walaupun ... ya, sedikit berat juga karena tahu bagaimana jahilnya keluarga itu. Tapi Dava tetap bersyukur mendapatkannya, alasannya hanya satu, ada Dania di dalamnya, perempuan yang begitu dirinya cintai.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Dania tulus, membuat Dava menyunggingkan senyum manisnya. Bukan karena ucapan terima kasihnya, tapi kata terakhir yang dilontarkan Dania. Sudah lama Dava tidak mendengarnya, dan saat kembali kata itu terucap dari bibir manis sang tunangan membuat kupu-kupu yang semula bersembunyi berhamburan keluar, menggelitik hatinya.

“Sejak dari pintu masuk gue perhatiin, lo kayaknya bahagia banget, Dav?” Dava tidak merespons ucapan Chiko barusan, karena tahu tanpa di jawab pun semua sahabatnya itu pasti paham dengan perasaannya saat ini. Dava Memilih menarik satu kursi untuk sang tunangan duduki, setelah itu barulah dirinya menyusul duduk di kursi satunya yang masih kosong.

“O jelas bahagia, bidadarinya udah ketemu,” cibir Daniel yang hanya Dava respons dengan sebuah senyuman. Tidak salah dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu, ia memang bahagia bertemu kembali dengan bidadarinya.

“Dan, cerita dong lo ke mana aja selama empat bulan ini?” tanya Kayla yang begitu penasaran dengan kepergian Dania yang sukses membuat sahabat lelakinya itu bagai orang gila yang hidup segan mati pun tidak mau.

Hooh, gue penasaran, lo pergi ke mana dan ngapain aja selama itu sampai kita-kita sulit banget nemuin lo,” tambah Nino.

“Sahabat kita sampai mirip banget sama zombie waktu tahu lo pergi,” Akbar ikut menambahkan.

Dania mengukir senyumnya, menoleh pada sang tunangan. Tanpa di beri tahu pun Dania sudah tahu bagaimana kacaunya Dava, karena saat pertemuan mereka di pantai Mbhi beberapa hari lalu, kekacauan pria itu terlihat jelas dari seberapa kurusnya Dava dan setidak terawat apa tunangannya itu.

“Iya Dan, gue juga penasaran, lo kok bisa sembunyi dengan begitu apiknya sampai gak ada yang bisa menuin lo. Nanti ajarin gue, ya, siapa tahu suatu saat nanti gue niat kabur juga.” Nirmala ikut mengeluarkan suaranya.

“Dih, sok-sokan mau kabur, kayak ada aja yang mau nyari lo,” sahut Nino mencibir.

Ish, lo kok jahat sih, Kak!” kesal Nirmala seraya melayangkan pukulan-pukulan kecil di lengan laki-laki bergingsul manis itu.

“Gue ganteng, bukan jahat!”

“Heleh, gantengan juga kucing gue,” Nirmala memutar bola matanya malas.

“Pergi ke dokter sana, mata lo udah parah banget rusaknya.” Ejek Nino.

“Sialan!” kembali Nirmala melayangkan pukulan di lengan Nino, dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Lo berdua kalau mau pacaran jangan sekarang, ini kita mau tahu cerita Dania, bukan mau lihat lo berdua sok-sokan berantem tapi nyatanya nyimpen perasaan. Pura-pura gak peduli padahal saling sayang. Kode aja terus yang di kencengin, peka enggak!” cibir Rapa yang berhasil membungkam keduanya. Sementara yang lain tertawa puas.

Semua yang ada di meja itu memang sudah tahu bagaimana Nino dan Nirmala saling melayangkan ketertarikan, tapi tidak juga ada yang berani mengambil tindakan.

Namun kali ini bukan kisah cinta kedua orang tidak peka itu yang menjadi sorotan, melainkan cerita Dania yang membuat sahabat mereka lupa daratan, hingga hampir gila karena tenggelam dalam kerinduan.

“Jadi gimana, Dan?” tanya Ratu yang sudah tidak sabar mengetahui cerita perjalanan acara kabur-kaburan sepupunya itu.

Dania pada akhirnya menceritakan bagaimana perjalanannya yang terasa berat itu, perjalanan yang dinikmatinya bersama kekecewaan dan sakit hati yang baru pertama kali dirinya dapatkan juga rasa rindu yang dirinya bawa menyiksa setiap langkahnya.

Disini bukan hanya Dava yang kacau dan kehilangan, karena nyatanya Dania pun sama merasakannya. Terlebih Dania pergi sendiri, tidak ada sandaran, tidak ada juga teman untuk berbagi kesedihan.

Dania sempat menyesali kepergiannya, tapi tidak urung ia pun mensyukurinya, karena ternyata kepergiannya membuktikan seberapa besar Dava mencintainya dan seberapa besar pengorbanan laki-laki yang akan menjadi suaminya itu.

Dania tidak lagi takut sekarang, tidak juga merasa ragu pada pernikahan yang akan di selenggarakan. Dan lagi satu hal yang Dania sadari dari kepergiaannya. Hatinya sudah sepenuhnya Dava miliki. Terbukti dari selama empat bulan kepergiannya ini hanya nama Dava yang Dania gumamkan dalam hati dan pikirannya. Tidak ada lagi Mike dan masa lalunya. Meskipun Dania tidak akan pernah melupakan sosok yang kini sudah berada di sisi Tuhan itu. Namun cintanya kini hanya milik Dava seorang. Sejak awal Dania memang sudah yakin akan perasaannya pada Dava, tapi kali ini keyakinan itu semakin kuat dirinya rasakan.

Bukan hanya sekedar perjalanan Dania yang menjadi pembahasan mereka, tapi alasan kepergian Dania pun ikut mereka tanyakan. Dan meski dengan malu-malu Dania turut menceritakan bagian itu, dimana kecemburuanlah yang menjadi alasannya pergi, meskipun pada kenyataannya itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.

“Kenapa selalu Mirna yang menjadi alasan pasangan pergi? Dulu gara-gara Mirna juga Queen pergi meninggalkan gue, dan kemarin Dania yang kabur gara-gara kesalahpahaman karena lo yang bantu Mirna. Gue heran, sebenarnya ada apa sih sama Mirna?” tanya Rapa dengan raut wajah penuh keheranan begitu tahu alasan sebenarnya yang membuat sepupunya melarikan diri.

“Ya mana gue tahu, lo tanya aja sama orangnya,” Daniel menyahuti dengan acuh, tidak terlalu ingin memikirkan keheranan sahabatnya itu. Lagi pula belum tentu semua pasangan pergi gara-gara teman perempuan mereka semasa SMA dulu. Rapa-nya saja yang terlalu lebay, memikirkan apa yang tidak sepatutnya di pikirkan. Dan lagi kedua wanita itu pergi memang karena ada alasannya, meskipun intinya sama-sama cemburu. Salah Dava dan Rapa sendiri kenapa begitu dekat dengan Mirna di saat sudah memiliki pasangan. Wajar saja kalau mereka lari.

***
Tbc ...

Welcome My HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang