Happy Reading!!!
***
Pulang dari kantor, Dava tidak langsung menuju rumahnya, melainkan datang ke cafe Chiko atas undangan sahabatnya itu untuk berkumpul seperti biasanya.
Meskipun kini mereka semua sudah sama-sama sibuk bekerja dan ada juga yang sudah memiliki keluarga, tapi tetap selalu menyempatkan berkumpul setidaknya satu atau dua jam di setiap minggunya, hari apa pun itu asal tidak pada weekend.
Dava yang sebenarnya ingin langsung pulang dan beristirahat pun akhirnya terpaksa datang, dari pada nanti harus menghabiskan uang demi mentraktir semua sahabat-sahabatnya yang sudah pasti akan membuatnya bangkrut dalam sekejap. Walau sebenarnya itu tidak mungkin, mengingat Dava adalah seorang anak sultan. Bukan karena nama ayahnya Sultan, tapi juga karena pada kenyataannya keluarga Dava adalah orang kaya. Sang ayah yang keturunan Arab itu memiliki harta yang tidak akan ada habisnya jika bukan karena Tuhan yang mengambil semua itu kembali.
Sejenak Dava menoleh ke sekeliling cafe itu yang setiap harinya memang selalu ramai, lalu setelahnya naik ke lantai dimana tempat mereka semua berkumpul, tidak lupa untuknya memesan kopi terlebih dulu.
“Lesu amat lo, Dav, kenapa? Galau?” tanya Rapa yang ternyata sudah duduk anteng dengan stik PS-nya.
Tak berminat untuk menjawab, Dava kemudian menjatuhkan diri di sofa yang ada di ruangan luas itu, menghembuskan napasnya lelah.
“Rap, lo sahabat gue sejak SMA, masa gak kasihan sama gue yang ingin mengejar masa depan. Gue baru aja jatuh cinta lagi, Rap setelah terakhir kali gak dapat Mirna.”
“Ya terus urusannya sama gue apa?” heran Rapa mengerutkan keningnya, bukan hanya Rapa, tapi juga semua orang yang berada di sana termasuk Akbar yang baru saja datang.
“Gue cuma butuh jawaban lo, Dania udah nikah apa belum?” tanya Dava dengan wajah memelas penuh permohonan.
“Ya lo tanya aja sama orangnya langsung.” Jawab Rapa seraya menoleh kembali pada layar datar di depannya, melanjutkan game yang semula di pause.
“Kalau bisa udah gue tanya orangnya langsung, Rap. Tapi mau gimana lagi, dia sulit gue hubungi, dan lagi siang tadi gue sempat datang ke kantor dia, niatnya mau ketemu untuk membuang keresahan gue mengenai status Dania. Eh, baru aja turun dari mobil, gue udah lihat dia sama cowok. Hancur hati gue, Rap.” Dava menghembuskan napasnya begitu lelah, wajahnya yang lesu dan mengenaskan membuat sahabat-sahabatnya yang lain menatap iba, bahkan Daniel berusaha menenangkan Dava dengan pelukannya.
“Lo sepupunya, Rap dan gue sahabat lo, masa iya lo tega biarin gue merana gini?” nada suara yang tidak bertenaga juga wajah memelas Dava, membuat Rapa yang sudah kembali menoleh, menatap tak tega sahabatnya itu. Sementara hati Dava bersorak kemenangan, tidak menyangka bahwa aktingnya akan se-meyakinkan ini.
“Lo pasti udah tahu Bapaknya ‘kan? Uncle gue, ibunya Aunty Devi, dan Dania anak pertama, lahir cuma beda beberapa bulan dari adik gue, dan dia punya adik kembar cewek-cowok. Hanya sebatas itu yang bisa gue info sama lo, selebihnya lo cari sendiri. Ingat kalau cinta itu berjuang.” Rapa sedikit memberi informasi, tidak tega juga melihat sahabatnya yang begitu kacau dan menghawatirkan. Rapa merasa bahwa mungkin Dava bersungguh-sungguh menyukai sepupunya. Apa lagi kembali mengingat bagaimana laki-laki itu dulu tanpa lelahnya mengejar Mirna yang sama sekali tidak pernah meliriknya.
“Tapi sepertinya gue gak bisa lanjut, Rap,” cicit Dava lesu. Mengalihkan semua pasang mata dengan tatapan yang menyiratkan akan sebuah tanya. “Gue di jodohin.”
“Serius lo, Dav? Bapak Sultan yang jodohin lo?” tanya heboh Daniel dengan sorot mata terkejut, Dava hanya bisa mengangguk lesu untuk menipu semua orang terutama Rapa yang saat ini terdiam.
Dari sudut mata, Dava dapat melihat kebimbangan sahabat satunya itu, semakin meyakinkan dirinya bahwa kesulitannya dalam mengejar Dania memang sudah di rencanakan oleh calon sepupu iparnya itu.
“Sama siapa lo di jodohin?” tanya Chiko dengan sorot penasaran, memang bukan untuk kali ini saja dirinya mendengar bahwa Dava akan di jodohkan, tapi biasanya sahabatnya itu terlihat biasa dan tidak peduli, berbeda dengan sekarang yang sepertinya benar-benar serius.
“Gue belum tahu, tapi Papi gue bilang dia akan datang dua minggu lagi dari Filipina, dan gue akan langsung tunangan.” Jawab Dava, dan percayalah bawa semua itu hanyalah berita hoax, demi untuk menyempurnakan kebohongannya. Dava mana mau di jodohkan, apa lagi di saat ada perempuan yang mencuri hatinya.
“Lo gak nolak?” Nino yang kini berkesempatan bertanya, dan gelengan kecil menjadi jawaban yang di berikan Dava.
“Tumben?” Akbar yang sejak tadi hanya menyimak sambil menikmati nasi gorengnya membuka suara.
“Gue udah keseringan nolak, dan sekarang Papi sama Mami gue gak lagi mau mendengar itu, apa lagi hingga saat ini belum ada perempuan yang bisa gue bawa ke depan mereka. Padahal niat awal gue mau ngenalin Dania sama keluarga,” sejak tadi Dava entah sudah berapa banyak helaan dirinya keluarkan. “Ah, sudahlah, mungkin Dania bukan jodoh gue.” Dava tersenyum kecut, menoleh pada Rapa yang sejak beberapa menit lalu hanya diam dengan tatapan yang terlihat bimbang.
“Da--”
Suara Rapa yang hendak bicara harus di hentikan dengan bunyi nyaring yang berasal dari ponsel Dava, dan nama Mami juga foto wanita cantik di usia tuanya itu memenuhi benda pipih Dava yang tergeletak di sampingnya.
“Halo, iya Mi? Oke aku pulang sekarang.” Mengakhiri obrolan singkatnya, Dava menghela napas, dan menatap satu per satu sahabatnya, sebelum kemudian bangkit dan pamit pada mereka semua.
“Sorry, Rap, bukan maksud gue mau permainin sepupu lo, tapi gue juga gak tahu harus mengambil keputusan apa di saat status dia aja gak gue ketahui, mungkin dengan dia sulit gue hubungi pun seharusnya sudah jelas, karena Dania memang gak ingin memberi harap lebih terhadap gue. Lo benar, gue terlalu cepat untuk melayangkan pernyataan mengenai melamar dia. Jika sempat, tolong suruh Dania angkat telepon, gue pengen minta maaf.” Setelah mengucapkan itu, Dava benar-benar pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya.
Pertemuan yang biasa di habiskan dengan canda dan tawa, kali ini nyatanya berbeda, karena senyum pun bahkan tak ada. Mungkin itu hanya berlaku untuk lima orang lainnya, karena pada kenyataannya Dava sejak tadi justru tersenyum walau semua orang tidak dapat melihatnya. Tentu saja, memangnya siapa yang dapat melihat hati, jika bukan Sang Pencipta?
Beruntunglah sang mami menelepon di waktu yang tepat, jadi Dava tidak harus berlama-lama lagi berakting, yang takutnya malah gagal gara-gara tidak kuat menahan tawa. Apa lagi saat melihat raut bimbang Rapa tadi, Dava rasanya ingin sekali mendorong sahabatnya itu ke kolam buaya. Sok menguji perasaannya dengan cara tidak berkelas dan kekanakan seperti ini, Dava akan buktikan siapa yang pada akhirnya menang dalam permainan ini.
“Lo yang mulai permainan ini, Rapa, jadi jangan salahkan gue mempermudah semuanya.” Ujar Dava pada jalanan di depannya yang terlihat cukup lenggang di jam tujuh malam ini. Tawa jahat tak lupa laki-laki itu lantunkan.
“Dania, tunggu kejutan dari gue.” Gumamnya dengan senyum manis yang terukir.
***
Tbc ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Welcome My Happiness
General FictionKesedihan seolah sudah menjadi teman setia Dania sejak calon suaminya pergi tanpa pesan, bukan pergi karena sebuah penghianatan, melainkan kecelakaan yang tidak pernah terbayangkan akan merenggut nyawa orang tersayang. Kejadian itu merenggut kebahag...
