Chapter 33

1.2K 123 21
                                        

Happy Reading !!!

***

"Astaga Dan, lo cantik banget!” Ratu berseru girang, melihat sosok sepupu cantiknya begitu menakjubkan di hari pernikahannya ini. Dania sudah seperti putri-putri keraton yang anggun, membuat Ratu, Queen dan yang lainnya tidak mau berpaling dari sosok pengantin yang akan menjadi Ratu sehari di pelaminan ini.

“Gue emang dari lahir udah cantik,” sahut Dania dengan begitu percaya diri.

“Nyesel gue muji!” Ratu pada akhirnya mendengus seraya memutar bola matanya malas. Namun harus tetap dirinya akui, bahwa Dania memang sudah terlahir cantik, Ratu saja yang tidak rela mengatakan itu, karena bagaimanapun dirinyalah yang tercantik. Sayang itu hanya di akui oleh suaminya.

“Liat lo, gue jadi gak sabar buat nikah juga,” kata Nirmala tiba-tiba, pandangannya tidak lepas dari sosok cantik pengantin perempuan yang saat ini duduk di tepi ranjang, menunggu calon mempelai dan rombongan datang.

Mendengar ucapan Nirmala tersebut, semua orang yang ada di ruangan itu tertawa, merasa lucu. Bukan Nirmala-nya yang lucu, tapi ucapan perempuan itu. Sok-sokan ingin segera menikah padahal pacar saja tidak punya. Ingin sekali menghujat, tapi ditahannya karena bagaimanapun Nirmala tetaplah teman mereka.

Tawa mereka terhenti begitu Devina datang dan mengabarkan bahwa rombongan mempelai pria sudah tiba. Kehebohan yang semula berlangsung di gantikan dengan ketegangan dan kegugupan calon pengantin perempuan.

Dania yang semula anteng-anteng saja, berubah panik dan merasa tidak nyaman dengan duduknya. Beruntung sang mama datang dan memberikan pelukan hangat untuk meredakan kegugupannya, sebelum kemudian Dania di tuntun menuju ruangan dimana ijab kobul akan dilangsungkan, duduk di samping Dava yang gagah dalam balutan kemeja putih dan jas hitam yang serasi dengan kebaya yang Dania kenakan.

“Hallo calon istri,” sapa Dava riang, setelah beberapa menit terpesona akan sosok cantik yang dirindukannya selama empat hari ini. Ah, ralat, Dava merindukan perempuan itu setiap hari, di setiap jam, menit dan detiknya.

“Empat hari gak ketemu, kamu makin cantik aja, buat aku gak sabar untuk segera halalin kamu.” Lanjut Dava secara terang-terangan, seolah orang-orang di sekitarnya hanyalah benda mati yang tidak sama sekali dapat mendengar ucapannya.

“Ekhhem!”

Dava menoleh ke arah suara deheman itu berasal, lalu melayangkan cengirannya. “Papa mertua, liat bidadari secantik ini jadi buat Dava menyesal …,” tatapan tajam dari calon mertuanya tidak sama sekali Dava hiraukan. Senyumnya masih terukir seperti orang bodoh. “Menyesal kenapa waktu lamar Dania gak sekalian aja Dava bawa penghulu biar bisa langsung di nikahin waktu itu juga.”

Karena perkataan Dava itulah sorakan terdengar dari arah sekitarnya, terlebih sahabat-sahabatnya yang begitu bar-bar, saling bersahutan melayangkan godaan berupa cibiran di belakang sana, dan siulan demi siulan menambah kehebohan di lontarkan calon keluarga barunya yang jauh dari kata berwibawa. Namun meskipun begitu tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan Dava dan Dania saat ini.

Untunglah rasa malunya sudah dilatih dengan sedemikian rupa, jadi tidak membuat Dava salah tingkah berada dalam situasi yang tidak kondusif ini. Laki-laki yang akan segera menjabat tangan ayah dari calon pengantinnya itu malah asyik melayangkan kedipan menggoda pada perempuan cantik yang duduk di sampingnya, membuat wajah Dania yang sudah memerah karena blush on bertambah merah karena godaan itu.

Kehebohan yang tidak juga ingin berhenti membuat penghulu yang siap menikahkan kedua mempelai di depannya menggelengkan kepala, dan mulai mengeluarkan suaranya sebagai instruksi bahwa ijab kobul akan segera di mulai.

Welcome My HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang