Chapter 31

1.2K 121 5
                                        

Happy Reading !!!

***

Pagi-pagi sekali, Dava sudah datang untuk menjemput tunangannya. Mereka akan pergi untuk melakukan prewedding yang memang sudah mereka jadwalkan jauh-jauh hari.

Berbulan-bulan lalu seharusnya itu sudah mereka lakukan sekembalinya Dava dari Inggris. Sayang, Dania lebih dulu melarikan diri, jadi itu belum sempat terealisasikan.

Namun perempuan yang ingin Dava ajak nyatanya masih nyaman bergelung di bawah selimut, membuat Dava geleng kepala dan harus dengan sabar menunggu putri tidurnya bangun dan bersiap. Untung saja Dava mencintai Dania, jadi rela menunggu walau selama apa pun itu.

“Dania belum turun juga, Dav?” tanya Devi begitu kembali dari dapur selesai menyediakan sarapan untuk keluarganya.

“Belum Ma,” Dava menjawab dengan senyum tipis yang terukir.

Panggilannya memang sudah berubah, dari tante jadi mama. Itu karena permintaan wanita itu sendiri, karena menurutnya sebentar lagi Dava akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Dava menurut saja, karena bagaimanapun ia bahagia memanggil orang tua Dania dengan sebutan itu. Merasa lebih dekat dan tentunya diakui.

“Gak biasanya tuh anak telat kayak gini,” Devi menggelengkan kepala, tidak habis pikir mengapa putri pertamanya berubah jadi pemalas dan lelet, padahal biasanya selalu bangun pagi dan on time di setiap ada janji.

“Gak apa-apa, Ma, kita juga belum telat kok, Dava aja yang kepagian jemputnya.” Memang begitulah kenyataannya, Dava terlalu pagi datang saking tidak sabarnya bertemu sang pujaan hati yang amat dirindukan, padahal seharian kemarin mereka bersama dan baru berpisah sekitar pukul sembilan malam.

Namun mau bagaimana lagi, rindunya yang sudah menggunung akibat di tinggalkan empat bulan oleh sang tunangan belum terbayar sepenuhnya dengan kebersamaan mereka kemarin, karena inginnya Dava menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan perempuan tercintanya itu.

“Ya sudah kalau begitu, Mama panggil Papa dulu biar kita sarapan bareng.” Dava hanya mengangguk sebagai jawaban dan membiarkan wanita cantik di usianya yang tidak lagi muda itu pergi dari hadapannya, dan tidak lama Devi kembali bersama suaminya di susul kedua anak kembarnya, sementara Dania masih belum juga menampakan diri.

“Dania baru selesai mandi, Dav, kita sarapan duluan aja,” kata Devi pada calon menantunya itu.

“Eum … Dava nanti aja Ma sama Dania.” Tolak Dava halus.

“Dania masih lama loh, Dav,”

“Gak apa-apa, Ma lagi pula Dava belum lapar kok,” kembali Dava melayangkan penolakannya dengan halus. Bukan tidak ingin bergabung dengan calon keluarga barunya, tapi Dava memang ingin sarapan bersama calon istrinya, agar paginya lebih manis.

“Ya sudah kalau gitu, Mama sama yang lainnya sarapan duluan. Kalau merasa lapar dan Dania masih belum juga turun, kamu gak usah sungkan untuk susul ke meja makan.” Dava mengangguk santun sebelum Devi berlalu pergi meninggalkannya, menyusul ketiga orang yang sudah lebih dulu pergi menuju ruang makan.

Dua puluh menit kemudian, Dania menampakan diri, berjalan dengan anggunnya menghampiri Dava yang melongo, terpesona.

“Maaf lama,” sesal Dania.

“Gak kok,” Dava menggelengkan kepala tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok cantik di depannya itu. “Aku masih sanggup nunggu selama itu kamu yang menjadi objeknya.”

Blush. Begitu saja sudah membuat pipi Dania merona. Dava memang paling bisa membuat Dania jatuh cinta.

“Mau berangkat sekarang atau gimana?” tanya Dava setelah beberapa saat hanya diam menatap sang pujaan.

“Kamu udah sarapan?” balik Dania bertanya mengingat tunangannya itu datang pagi buta. Gelengan menjadi jawaban yang Dava berikan. “Kalau gitu sarapan dulu yuk, aku juga udah lapar.” Ajaknya hendak melangkah menuju dapur, namun Dava lebih dulu menghentikannya.

“Kalau sarapan di luar mau gak? Aku pengen makan bubur ayam di dekat kantor kamu,”

Dania tidak langsung menjawab. Perempuan cantik itu malah mengernyitkan kening, menatap Dava. Namun kemudian mengangguk juga, menyetujui usulan tunangannya. Sudah lama juga dirinya tidak menikmati bubur ayam lezat favoritnya itu.

Selesai pamit pada orang rumah, Dava dan Dania pergi menuju tempat tujuan mereka untuk sarapan, setelahnya barulah pergi ke studio untuk melakukan pemotretan.

Dava bukannya kekurangan uang untuk melakukan prewedd di tempat-tempat indah seperti pantai, pegunungan atau apa pun itu, karena pada kenyataannya Dava mampu menyewa kapal pesiar sekalipun untuk membuat prewedd mereka terlihat mahal dan mewah. Namun sang calon istri menolak itu karena menurutnya prewedd tidaklah terlalu penting. Hanya buang-buang uang untuk foto yang pada akhirnya hanya akan di pajang lalu menjadi penghuni gudang.

Kenangan tidak harus selalu berbentuk, cukup dalam ingatan semua itu di kenang dan ijab kobul menjadi pengikat mereka dalam sebuah pernikahan. Lagi pula kemewahan tidak menjamin sebuah kesetiaan. Dania hanya ingin yang sederhana tapi bermakna, sederhana tapi mampu membawa mereka ke dalam sebuah bahagia yang di damba. Siapa yang tidak akan bangga memiliki Dania? Dava saja sudah amat jatuh cinta dan enggan untuk melepaskan.

“Cape?” Dania hanya memberikan anggukan manjanya sebagai jawaban, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Dava, membuat laki-laki itu mengulas senyum manisnya seraya memberikan elusan lembut di kepala sang tunangan. Dava suka di saat perempuan tercintanya itu bertingkah manja padanya seperti ini. Dava jadi merasa berguna dan dicintai oleh wanitanya.

Istirahat untuk beberapa menit setelah melakukan prewedd, Dava dan Dania kembali melanjutkan jadwal mereka hari ini, yaitu ke butik untuk mencoba gaun pengantin yang waktu itu belum sempat mereka lihat lagi karena Dania yang lebih dulu melarikan diri dan pernikahan di batalkan, setelahnya datang ke tempat percetakan undangan untuk mengganti tanggal pernikahan mereka yang sudah kembali di sepakati.

Selesai dengan itu semua, Dava membawa calon istrinya mampir ke restoran milik sang ibu yang memang kebetulan tidak terlalu jauh dari lokasi mereka saat ini.

Hari sudah berganti malam dan Dava ingat bahwa mereka belum makan sejak siang tadi saking sibuknya dengan urusan yang harus segera di selesaikan mengingat pernikahan akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi. Dan keduanya tentu berharap bahwa rencana kali ini tidak akan lagi gagal seperti sebelumnya.

“Dania, terima kasih sudah mau kembali,” kata Dava seraya meraih tangan Dania di atas meja begitu menyelesaikan makan malamnya.

“Bukan aku yang kembali, tapi kamu yang menemukanku,” Dania membenarkan, karena pada kenyataannya memang seperti itu. Dava yang berhasil menemukannya, bukan Dania yang kembali. Karena jika laki-laki itu tidak menemukannya, belum tentu Dania bersedia untuk kembali. Bukan karena tidak ingin, tapi Dania terlalu takut, ia terlalu pengecut untuk kembali sendiri di saat dirinya sudah mengecewakan banyak orang termasuk keluarganya.

“Tapi setelah ini kamu gak akan kabur-kabur lagi ‘kan?” tanya Dava dengan raut was-was, karena jujur saja sejak bertemunya kembali dengan Dania, Dava menjadi ketakuan sendiri, tidurnya pun tidak nyenyak dan inginnya terus berada di samping sang tunangan agar bisa memastikan sendiri bahwa Dania memang tidak lagi pergi meninggalkannya.

“Tidak ada alasan untuk aku kembali melarikan diri, kecuali kalau kamu memang berniat selingkuh dan memang ingin aku pergi ….”

Dengan cepat Dava menggelengkan kepala, bangkit dari duduknya untuk pindah kesamping Dania, membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.

Dava tidak pernah ingin wanitanya itu pergi, dan ia tidak akan pernah membiarkan Dania kembali pergi darinya. Cukup empat bulan menjadi siksaannya, jangan sampai hal itu kembali terulang dan menyiksanya lebih kejam, karena Dava tidak yakin akan sanggup menerimanya.

“Tetap di sampingku, Dania, karena aku pastikan, hanya di sinilah tempatmu berbahagia.”

Dania mengangguk seraya mengulas senyumnya dalam pelukan sang tunangan. Apa yang di katakan Dava memang benar adanya. Karena dirinya akui, selama jauh dari pria itu tidak ada bahagia yang di rasa selain sesal karena telah meninggalkan dan sesak akibat rindu yang tak mampu tersampaikan.

***

Tbc ..

Welcome My HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang