Chapter 32

1.2K 121 23
                                        

Happy Reading !!!

***

"Kenapa harus ada pingitan segala sih, Mi! Baru juga ketemu Dania beberapa hari, masa udah di pisahin lagi?” protes Dava begitu mendengar masa pingitan dari sang mami.

“Jangan lebay kamu, Dav, Mami sama calon mertua kamu cuma melarang kalian bertemu hingga pesta pernikahan, bukan misahin kalian.” Risty memutar bola matanya malas, tidak lupa satu jitakan kecil di layangkannya pada kening putra bungsunya itu.

“Apa bedanya? Itu kan sama-sama misahin juga, Mi! Mami gak paham sih gimana beratnya nahan rindu ingin bertemu. Dava bisa gila tahu gak, Mi?!” rengeknya berlebihan, membuat Risty menggeleng tak habis pikir dengan tingkah putranya yang mirip anak kecil, padahal pada kenyataannya laki-laki itu sudah berusia matang dan akan melangsungkan pernikahan.

Tanpa menghiraukan rengekan putra bungsunya itu, Risty memilih bangkit dan meninggalkan kamar anaknya mengingat masih banyak yang harus dirinya selesaikan dengan calon besan mengenai pernikahan yang akan berlangsung empat hari lagi.

“Dava, ingat jangan hubungi Dania dan jangan berani keluar dari rumah untuk menemui Dania!” Risty kembali melongo dari balik pintu yang hendak di tutupnya hanya untuk mengingatkan sang putra.

“Mau ngehubungi gimana kalau ponsel aku aja Mami yang pegang!” Dava mendengus kesal seraya membanting sendiri tubuhnya ke atas tempat tidur empuknya, sementara Risty hanya terkekeh pelan, sebelum benar-benar keluar dan menutup pintu kamar putranya itu.

Lagi dan lagi Dava mengeluarkan dengusannya, berguling ke sana kemari hanya untuk menghilangkan kebosanan yang tengah mendera, namun tetap saja tidak membuahkan hasil.

Dava kesal pada orang tuanya, juga orang tua calon istrinya yang malah memberikan pingitan empat hari menjelang pernikahan, bahkan tadinya akan melakukan itu satu minggu sebelum pernikahan berlangsung, namun karena urusan kedua calon pengantin dengan pihak butik belum selesai, jadilah pingitan dilakukan setelah semua itu diselesaikan. Tapi tetap saja Dava merasa kesal karena rencana pingitan itu tidak lebih awal dibicarakan. Jika saja ia tahu mungkin Dava akan menghabiskan waktu lebih lama di hari mereka bertemu kemarin. Sial memang.

Dava menarik-narik rambutnya yang sedikit memanjang dengan frustrasi, tidak ada ponsel, tidak ada komputer dan kabel telpon di putus oleh sang papi membuat Dava tidak memiliki satu pun celah untuk menghubungi sang calon istri.

Bukan hanya itu saja, kunci mobil, kunci motor dan dompet berserta uang juga kartu kreditnya di sita oleh sang mami agar Dava tidak nekad pergi dan menemui Dania.

Kedua orang tuanya memang kejam dan tidak berperasaan. Tidak tahukah mereka bahwa Dava tidak bisa jauh dari perempuan tercintanya? Tidak tahukah mereka bahwa Dava bisa gila bila tidak mendengar suara terkasihnya?

Arggh, rasanya Dava ingin melompat saja dari jendela kamarnya dan berlari menuju rumah Dania yang cukup jauh jaraknya dari lokasinya saat ini, namun Dava tidak bisa melakukan itu, bukan karena dirinya lemah, tapi Dava tidak ingin di hari pernikahannya nanti kondisinya mengenaskan karena kelelahan hingga terlihat buruk di hadapan tamu dan di depan kamera.

Bagaimanapun juga Dava menginginkan penampilannya sempurna dengan wajah cerah, tubuh bugar dan kebahagiaan yang memancar hingga menular pada tamu undangan yang menghadiri pesta penikahan yang begitu amat Dava nantikan.

Di tengah frustrasinya Dava yang menahan rindu karena tak mampu bertemu, Dania justru asyik melakukan berbagai macam perawatan yang di sediakan calon mertuanya untuk menjelang pernikahan.

Selama beberapa bulan lelah bepergian dan lupa akan perawatan, kini Dania begitu menikmati pijatan lembut yang membuat tubuhnya kembali rileks. Perempuan itu bahkan tidak memedulikan ponsel dan segala macamnya, tidak juga memikirkan apa yang sedang dilakukan tunangannya. Dania terlalu nyaman dengan posisinya saat ini.

֎֎֎

Satu hari menjelang pernikahan dan segala perawatan selesai di lakukan, kini Dania duduk di ranjang kamarnya, mengambil dan memperhatikan satu per satu barang-barang yang sejak dulu menjadi harta berharganya sebelum kemudian di kemasnya ke dalam sebuah kotak cukup besar yang sudah dirinya siapkan.

Mulai detik ini, semua barang itu akan menjadi penghuni gudang, karena untuk melenyapkannya tidak mampu Dania lakukan. Mengapa? Karena semua itu adalah pemberian Mike, laki-laki yang beberapa tahun lalu sempat akan menikahinya.

Sebenarnya Dania tidak ingin membereskan semua itu, tapi ia tetap harus menghormati laki-laki yang besok akan berdiri bersamanya di atas pelaminan. Dania tidak ingin melukai hati Dava, membuat laki-laki itu cemburu dan membuat dia tidak merasa berharga. Karena pada kenyataannya Dava amatlah berharga dalam hidupnya. Itu sebabnya Dania ingin menyingkirkan semua barang pemberian Mike dan menggantinya dengan barang-barang baru dengan kenangan yang baru pula.

“Kak, udah selesai?” tanya Devin begitu masuk ke dalam kamar sang kakak.

Menyeka terlebih dulu sudut matanya yang berair, Dania kemudian menoleh pada adik lelakinya itu, lalu mengulas senyum tipis seraya mengangguk. “Jangan di buang ya, Vin,” kata Dania saat sang adik duduk di depannya. Jika boleh jujur, Dania masih berat menyingkirkan segala hal tentang Mike, semuanya terlalu manis dan sulit untuknya lupakan.

“Kakak tenang aja, Devin pasti simpan itu dengan baik.”

Dania akhirnya mengangguk, dan meletakan barang terakhir di tangannya ke dalam kotak di depannya yang sudah terisi penuh. Sebuah pigura berisikan foto dirinya dengan Mike ketika tunangan. Foto terakhir yang mereka ambil sebelum Mike kembali ke Negara asalnya, dan foto terakhir dalam pertemuan mereka. Senyumnya, tawanya dan segala hal tentangnya masih terlintas jelas dalam benak Dania. Kenangan bersama Mike masih bertahta, meskipun keberadaannya tidak lagi bisa di raih mata.

Melihat air mata sang kakak yang malah semakin deras mengalir, Devin akhirnya bangkit dari duduk dan berjalan mendekat, lalu membawa Dania ke dalam pelukannya untuk sekedar memberi ketenangan di saat jiwa sang kakak kembali terguncang oleh ingatan yang lagi-lagi membayang.

“Sudahi kesedihan yang masih bersarang. Sudah saatnya Kakak untuk manyambut kebahgiaan baru yang akan datang dan butuh di pertahankan juga di perjuangkan. Devin yakin, Kak Mike akan bahagia melihat Kakak yang pada akhirnya berhasil mengikhlaskan kepergiannya dan memilih kembali mengejar bahagia yang dulu sempat Kakak buang percuma.” Devin mengulas senyumnya, lalu menyeka air mata yang membasahi pipi sang kakak, setelahnya memberikan satu kecupan ringan di puncak kepala perempuan kedua yang amat di cintainya itu setelah sang mama.

“Setelah pernikhan esok hari, Kakak harus janji sama Devin, ya, bahwa Kakak akan bahagia bersama Bang Dava.”

Dania mengangguk dengan yakin. “Kakak akan bahagia, Vin. Pasti!” meskipun air mata masih belum berhanti mengalir tapi senyum tetap Dania ukir.

Mendengar itu Devin cukup merasa lega, lalu kembali melayangkan kecupan di puncak kepala sang kakak lebih lama dari sebelumnya, setelah itu barulah Devin pamit undur diri seraya membawa kotak berisi penuh barang-barang berharga kakaknya yang sudah saatnya menjadi penghuni gudang. Bukan karena semua barang itu tidak layak pakai, tapi karena si pemilik sudah tidak lagi ingin mengenang. Sekarang sudah ada hati yang harus di jaga, dan sudah tidak pantas barang itu masih terpajang di saat ada seseorang yang ingin memberikan lebih dari hanya sebuah kenangan.

***

Tbc ...

Welcome My HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang