Selamat Membaca !!!
***
Sejak pulang dari Singapura, Dania dan Dava kembali pada kesibukannya masing-masing, tapi itu tidak membuat Dava dan Dania saling melupakan. Kesibukan tidak serta merta membuat mereka lupa memberi kabar, tidak juga membuat keduanya hilang kedekatan. Malah justru mereka menjadi lebih rekat, ke mana-mana selalu berdua.
Bahkan, jika pun harus lembur karena pekerjaan, Dava dan Dania selalu melakukannya bersama. Entah itu di kantor Dava, kantor Dania atau justru di rumah salah satu dari mereka, di mana saja selama keduanya bisa bersama.
Tidak harus kencan dengan seikat bunga, tidak harus dinner dalam terang lilin menyala, karena meski dalam keadaan sibuk bekerja pun keduanya masih dapat menjadi pasangan mesra.
Sungguh, keromantisan itu tidak harus di nilai dari seberapa puitisnya pasangan, tidak hanya di lihat dari seberapa indahnya pemandangan, tidak hanya di ukur dari seberapa mahal harga restoran, namun kebersamaan, perhatian dan pengertian, nyatanya mampu menciptakan keromantisan di tengah pekerjaan yang menuntut minta di selesaikan.
Dava bukan tidak ingin membawa Dania melakukan hal-hal manis seperti pasangan lainnya, bukan tidak mampu membayar harga restoran apa lagi sekedar memberi perempuan itu seikat bunga mawar. Ingat, maminya memiliki restoran yang kini dirinya kelola, Dava punya banyak uang hanya untuk membeli seikat bunga, bahkan kebunnya mampu ia beli jika memang Dania menginginkannya.
Namun nyatanya sang tunangan tidak membutuhkan semua itu, Dania-nya berbeda, Dania istimewa. Perempuan itu tidak menginginkan kemewahan, tidak menuntut keromantisan. Cukup dengan kebersamaan, meski dalam kesederhanaan. Itu yang membuat Dava semakin jatuh cinta. Dania-nya memang luar biasa.
“Sudah selesai?” tanya Dava pada sang kekasih yang tengah melakukan peregangan, begitu menutup laptop yang sejak dua jam lalu di tekuni. Sementara Dava sudah selesai dari sepuluh menit lalu, bahkan sudah membuatkan susu coklat untuk sang tunangan dan kopi hitam untuk dirinya sendiri.
“Udah,” jawab Dania seraya menerima gelas dari tangan Dava, dan meneguknya hingga tersisa setengah. “Terima kasih.” Ucapnya dengan senyum manis yang begitu tulus.
Dava mengangguk kecil, lalu membenahi meja yang berantakan oleh kantung cemilan juga beberapa berkas yang dirinya dan Dania kerjakan sejak tadi.
Kegiatan lembur bersama ini sudah mereka jalani selama dua minggu belakangan, tepatnya sejak kembalinya dari Singapura. Selain itu pernikahan yang semakin dekat pun membuat keduanya harus segera menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kembali mengambil cuti yang akan memakan waktu lebih lama.
Tidak ada waktu untuk kencan dan tidak ada waktu untuk mereka senang-senang, yang ada pusing melanda menjelang pernikahan. Tapi itu tidak membuat Dania maupun Dava mengeluh, keduanya menjalani dengan tenang.
Namun tidak setelah satu minggu terakhir ini, Dania di tinggalkan Dava ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Awalnya Dania baik-baik saja, tiga hari pertama komunikasi mereka masih berjalan dengan lancar, tapi tidak setelah hari selanjutnya, hingga hari ini tepat satu minggu laki-laki itu pergi. Dania tidak lagi mendapatkan kabar. Tidak pernah ada sahutan dari nomor yang Dania hubungi, membuatnya cemas, dan pada akhirnya memilih untuk menyusul.
Keraguan itu ada, tentu, tapi Dania membulatkan tekad. Ia memberanikan diri menaiki pesawat yang empat tahun di bencinya untuk menyusul Dava yang menghilang bagai tertelan bumi. Devin sudah berniat menemani, tapi Dania menolak, ia hanya ingin pergi sendiri, memastikan sang calon suami dalam keadaan baik-baik saja.
Beruntunglah semesta sedang bepihak padanya, kecemasannya pada Dava mampu mengalahkan ketakutannya berada di transfortasi udara, hingga Dania selamat tiba di negara yang ada Dava di dalamnya. Mungkin. Dania sedikit tidak yakin laki-laki tercintanya masih ada di tempat yang sama. Tapi Dania tidak mengurungkan niatnya menghampiri tempat dimana sang tunangan menginap.
Tidak sulit menemukan hotel yang Dava tinggali, karena Dania memang tidak merasa asing dengan negara yang di pijakinya saat ini. Ini negara yang sudah Dania hapal berkat Mike, Inggris bukanlah negara menyeramkan, ini sudah seperti Singapura dan Indonesia. Tidak akan terlalu menyulitkan Dania untuk menemukan yang di carinya.
Setibanya di hotel, Dania menghampiri resepsionis dan menanyakan kamar Dava, tapi sayangnya, jawaban yang di berikan si resepsionis tersebut membuat Dania menghela napas kecewa. Dava sudah melakukan Check out tiga hari lalu, yang memang seharusnya jadwal kepulangan Dava. Namun nyatanya laki-laki itu tidak juga kunjung kembali.
“Kamu ke mana sebenarnya, Dava?” tanya Dania dalam hatinya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Dania menyeret kopernya keluar dari lobi hotel. Keputusannya sekarang adalah mencari hotel lain untuk dirinya menginap, mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang lelah sebelum besok kembali mencari Dava, dengan harapan laki-laki itu masih berada di negara yang sama.
Dania menghentikan taksi yang melintas kemudian masuk dan menyebutkan tujuannya. Sepanjang perjalanan, Dania memikirkan Dava, keberadaan laki-laki itu dan tentu saja Dania berusaha kembali menghubungi nomor ponsel Dava yang terakhir kali laki-laki itu gunakan untuk menghubunginya. Namun, lagi-lagi Dania menelan kekecewaannya, karena tidak ada respons dari setiap panggilannya.
Memilih memasukan kembali benda pipih itu pada tasnya, Dania kemudian menyandarkan kepala pada jendela mobil yang tertutup, melihat jalanan macet di sore menjelang malam ini.
Rasa kantuk tentu saja Dania rasakan karena selama enam belas jam perjalanannya tidak sama sekali Dania terlelap di pesawat. Dan kini ia ingin memejamkan matanya, namun begitu netranya menangkap sosok yang familiar, membuat Dania mengurungkan niatnya itu, ia dengan cepat menghentikan taksi yang di tumpanginya, membuat si pengendara terkejut dan mengerem mendadak.
“Sorry, Sir.” Sesal Dania seraya menyerahkan uang pada si supir taxi, setelahnya berlari untuk memastikan bahwa yang di lihatnya memang bukan hanya halusinasi. Dania tidak mungkin salah mengenali. Dan, ya, Dania memang tidak salah, itu memang orang yang dirinya cari, namun orang itu tidak sendiri, melainkan dengan perempuan yang tidak pernah Dania kenali.
Pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi kepala Dania, mengenai siapa wanita yang bersama tunangannya, apa hubungan keduanya dan mengapa mereka bisa bersama. Pikiran negatif mulai menguasai, tapi Dania tahan dan berjalan mengikuti kedua orang itu yang entah akan pergi ke mana. Inginnya, ia langsung menghampiri namun nyatanya Dania malah bertahan membuntuti hingga tiba di sebuah gedung apartemen yang pernah Dania singgahi dulu, karena ada salah satu teman Mike yang tinggal di tempat itu.
Debaran jantung Dania semakin memacu, apalagi saat perempuan itu memeluk Dava dan laki-laki itu membalasnya dengan sebuah elusan lembut di kepala.
Kaki Dania lemas, hatinya remuk dan jiwanya terguncang. Apa yang di saksikannya terlalu menyakitkan. Lebih sakit dari kepergian Mike.
Sebenarnya Dania tidak ingin memercayai, ia tidak ingin membuat dirinya salah paham, tapi nyatanya Dania tidak bisa menganggap itu sebagai halusinasi. Ini terlalu nyata untuk ia artikan ke dalam sebuah mimpi.
Tak sanggup untuk menyaksikan, Dania memilih untuk berbalik badan tanpa menuntut sebuah penjelasan. Dan Dania memutuskan untuk kembali ke Indonesia membawa sebuah kekecewaan.
“Aku tidak bisa menjanjikanmu sebuah keindahan, tidak pula dengan sebuah kebahagiaan, namun aku akan menjanjikanmu sebuah kesetian yang akan kujaga hingga maut memisahkan.”
Dania tersenyum kecut saat kembali mengingat potongan kata manis yang pernah Dava ucapkan. Kesetiaan? Nyatanya itu tak lebih dari sekedar bualan.
***
Tbc ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Welcome My Happiness
General FictionKesedihan seolah sudah menjadi teman setia Dania sejak calon suaminya pergi tanpa pesan, bukan pergi karena sebuah penghianatan, melainkan kecelakaan yang tidak pernah terbayangkan akan merenggut nyawa orang tersayang. Kejadian itu merenggut kebahag...
