Happy Reading!!!
***
Setibanya di bandara, Dava langsung mendatangi Ingrit, sahabat Dania yang kebetulan Dava ketahui rumahnya karena sang tunangan sempat mengajak Dava ke sana. Dan beruntungnya Ingrit masih tinggal di rumah itu, membuat Dava menghela napas lega dan mulai menceritakan mengenai kaburnya Dania.
Wanita itu sempat marah, tapi setelah semua Dava jelaskan, barulah Ingrit mengangguk paham. Namun sayang nyatanya wanita itu pun tidak mengetahui keberadaan Dania saat ini. Begitupun dengan teman-teman Dania yang lainnya, yang di hubungi langsung oleh Ingrit.
“Beberapa hari lalu dia memang sempat nemuin aku, tapi hanya sebentar. Gak tahu juga kalau dia melarikan diri dari rumah, kalau tahu, mungkin aku gak akan biarin dia pergi.” Sesal Ingrit menundukkan kepalanya, kesedihan itu terlihat dan nyata.
“Menurutmu dia akan pergi ke mana?” tanya Dava lesu. Sudah tidak tahu lagi ke mana harus ia mencari, karena tidak adanya satu pun petunjuk yang Dania tinggalkan. Perempuan itu seolah memang tidak ingin ditemukan.
Ingrit menggelengkan kepala, tanda dia pun tidak tahu kemungkinan perginya Dania.
“Haruskah aku menjelajahi Negara di dunia ini satu per satu?” suara Dava terdengar putus asa.
“Jangan gila! Dunia ini luas, Dava.” Seru Ingrit seraya memberikan delikannya.
“Lalu, maksud kamu aku harus diam saja, begitu?” Dava menggelengkan kepala. “Pernikahan kami tinggal tiga minggu lagi, Ingrit. Jika tidak segera menemukannya, harus bagaimana aku hidup nantinya, sementara separuh nyawaku di bawa pergi oleh wanita yang begitu aku cintai.” Dava tidak lagi mampu membendung air matanya, dan ini adalah tangis keduanya sejak kabar kepergian Dania.
Ingrit yang menyaksikan air mata Dava begitu terharu, karena sahabatnya mendapatkan laki-laki yang begitu mencintainya. Tidak semua laki-laki bisa menangis, meski dalam keadaan terpuruk sekalipun. Dan Dania, patut berbangga diri mendapatkan laki-laki seperti Dava yang begitu amat menyayanginya.
“Mungkinkah dia ke rumah Mike?” cicit kecil Ingrit, namun Dava yang duduk di samping wanita cantik itu masih mampu mendengarnya.
Denyutan sakit itu timbul begitu saja saat nama laki-laki dari masa lalu Dania terngiang di telinganya. Namun Dava tak bisa menampik bahwa kemungkinan itu memang ada, Mike adalah laki-laki yang Dania cintai sebelum bertemu dengannya, mereka pun hampir menikah. Ada kemungkinan tunangannya itu berlari untuk mengadu dari rasa sakit yang di terima, meskipun nyatanya itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.
“Boleh aku minta alamat rumahnya?” secercah harapan kembali timbul di manik mata sayu itu.
“Kamu mau ke sana?” Dava mengangguk penuh keyakinan, membuat Ingrit akhirnya memberitahukan alamat rumah mantan calon suami Dania yang pergi akibat kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu.
Tanpa menunggu lama, Dava langsung pergi menuju alamat yang diberikan Ingrit dengan harapan bahwa sang tunangan ada di sana. Tidak apa meskipun kenyataan pahit itu harus Dava terima, ia akan mengabaikan kecemburuannya selama itu bisa membawanya bertemu dengan sang belahan jiwa.
Kecewa itu harus Dava telan saat tidak juga menemukan sosok Dania yang dirindukannya. Dava tidak tahu ke mana lagi harus ia mencari, padahal sudah hampir semua tempat di Inggris ia jelajahi sesuai informasi yang di berikan sahabat-sahabat Dania. Anak buah yang orangtuanya dan orang tua Dania kerahkan ke berbagai negara lain tidak juga memberikan hasil memuaskan mengenai keberadaan wanita itu.
Dava putus asa, tubuhnya semakin lemah dan jiwanya semakin terguncang, bukan hanya Dava, tapi juga Devi selaku orang tua yang di tinggalkan. Bahkan Wanita itu entah sudah berapa kali keluar masuk rumah sakit karena terlalu banyak pikiran dan pola makan yang tidak teratur.
“Gue gak nyangka sepupu gue begitu ahli dalam bersembunyi,” Rapa mengeluarkan suaranya.
Saat ini Dava dan sahabat-sahabatnya memang sedang berada di Café milik Chiko, tempat nongkrong mereka di kala lelah melanda akibat pekerjaan, apalagi akhir-akhir ini di tambah dengan lelah mencari Dania yang tak kunjung menampakan diri.
Semua sahabat Dava memang membantu mencari, tidak tega melihat Dava yang sudah seperti orang linglung, hidupnya kacau begitu juga tubuhnya yang kurus tak terawat. Semua itu di sebabkan oleh seorang perempuan bernama Dania.
“Iya saking ahlinya sampai buat sobat kita seperti orang yang segan hidup mati pun tak mau.” Cibir Daniel.
“Lo positif thingking aja, Dav, sampai sejauh ini Dania gak ketemu itu artinya Dania memang bukan jodoh lo.” Akbar membenarkan ucapan Nino.
“Kalaupun kembali nanti, siapa tahu dia memang di takdirkan berjodoh sama gue.”
Mendengar itu Dava langsung merespons dengan sebuah delikan, membuat Akbar yang mengucapkannya menggaruk kepala seraya memberikan cengirannya.
“Temen galau begini, masih aja lo becandain!” ujar Birma seraya memberikan jitakannya.
“Abis gue kesel. Dia udah kayak mayat idup beberapa bulan ini. Padahal gue kangen dia yang gila. Gue kangen kejahilannya, kangen tawanya, dan gue kangen semua hal tentangnya,” Akbar menyeka sudut matanya yang sama sekali tidak berair. “Anjir, udah kayak sama pacar aja gue.” Ujarnya kemudian, dan kembali mendapatkan sebuah jitakan dari Birma, Rapa dan juga Daniel yang duduk paling dekat dengannya.
“Tapi si boncel itu bener sih, kita kangen lo yang ceria dulu. Gue tahu lo secinta itu sama sepupu gue, Dav, gue tahu lo sekehilangan itu, tapi jangan sampai buat lo kehilangan semangat. Percaya aja jodoh gak akan ke mana. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, sementara hasilnya tetap Tuhan yang menentukan. Seperti pernikahan lo sama Dania. Meskipun sudah tersusun apik sesuai rencana, tetap saja, jika Tuhan tidak menakdirkan akan gagal pada akhirnya.”
Rapa menepuk pundak sahabatnya itu memberi kekuatan. Ia sendiri iba, tapi mau bagaimana lagi, sudah mencari ke sana ke mari pun nyatanya Dania tetap tidak di temukan. Bukan hanya Dava yang kehilangan, tapi mereka semua juga kehilangan, termasuk keluarganya.
“Ikhlas, bro. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, cinta memang perlu di perjuangkan, tapi gak harus sampai buat lo mati kelaperan. Kasihat cacing di perut lo udah pada kurus sekarang. Makan Dav, ngelamun gak akan bikin lo kenyang.”
Chiko meletakan mangkuk berisi sup pangsit kesukaan sahabatnya itu. Biasanya Dava akan langsung tergiur hanya mencium baunya saja, apalagi di saat cuaca dingin seperti sekarang ini, karena hujan di luar sana. Tapi kali ini tidak sama sekali laki-laki itu lirik.
Dava tidak sama sekali memberi respons, tetap diam, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya, membuat laki-laki tampan itu terlihat begitu menyedihkan.
Sahabat-sahabatnya hanya bisa menghela napas lelah, karena hingga saat ini tidak juga membuat Dava bangkit dari keterpurukannya. Tidak ada lagi cara selain membawa Dania kehadapan Dava.
***
Tbc ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Welcome My Happiness
General FictionKesedihan seolah sudah menjadi teman setia Dania sejak calon suaminya pergi tanpa pesan, bukan pergi karena sebuah penghianatan, melainkan kecelakaan yang tidak pernah terbayangkan akan merenggut nyawa orang tersayang. Kejadian itu merenggut kebahag...
