Aku mematut bayanganku di cermin. Gaya berpakaianku sudah berbeda dengan bagaimana aku dulu. Gaun dan perhiasan yang aku pakai jauh lebih mewah. Beban untuk tampil dengan baik terasa lebih besar karena hari ini aku akan mendampingi Leedo pada acara penobatannya. Ini akan menjadi tugas pertamaku mendampingi Leedo.
Aku berusaha tersenyum, tapi wajahku tampak mengerikan. Nanti aku akan mendampingi Leedo dan menjadi pasangan pertamanya saat berdansa. Belum lagi bulan depan aku akan menikah dengannya. Kata pernikahan menjadi seolah sebuah candaan untukku, seolah tidak memiliki arti lagi. Aku tidak bahagia dengan pernikahan ini.
"Yang Mulia? Sudah siap?"
"Sudah," ucapku dari dalam kamar tidur.
Aku keluar dari kamar tidur dan Seoho tampak sudah menunggu. Ia datang repot-repot untuk menjemputku. Lelaki itu berlutut dan mengulurkan tangannya. Aku menerima uluran tangannya dan ia langsung mencium tanganku.
"Berdirilah, mari kita pergi."
Seoho berdiri dan menggandengku menuju aula istana. Tempat itu akan dijadikan tempat acara. Seoho melirikku dan ia tersenyum kecil.
"Yang Mulia tampak menawan," ucapnya saat aku dengannya sedang berjalan membelah koridor yang panjang.
"Terima kasih, Sir."
"Aku bisa bayangkan bagaimana cocoknya Yang Mulia dengan Yang Mulia Putra Mahkota."
"Kau selalu berlebihan seperti biasa."
Seoho menghela napas. "Aku sedikit khawatir dengan Yang Mulia jika aku boleh merasa begitu."
"Kenapa merasa khawatir?" tanyaku heran.
"Yang Mulia tidak tersenyum lebar seperti biasa dan tidak lagi banyak bicara seperti biasanya. Yang Mulia juga tampak tertekan. Mungkin Yang Mulia mengira kami tidak peduli, tapi sungguh kami sangat mengkhawatirkan keadaan Yang Mulia. Aku tahu pasti Yang Mulia terkejut. Tapi aku yakin kalau itu Yang Mulia, tidak ada yang tidak bisa dilakukan."
Aku tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa kok. Hanya kelelahan karena pekerjaan saja. Tapi aku mulai mencoba terbiasa."
"Senang mendengarnya kalau begitu. Maaf aku tidak sopan dengan mengkhawatirkanmu."
"Tidak, tidak. Tidak apa-apa, Sir. Aku senang dengan perhatianmu."
Seoho tersenyum lalu ia mengalihkan membahas hal lain. Ia membahas soal taman bunga di istana Ratu yang sudah ditanami berbagai macam mawar. Aku jadi tersenyum, teringat pada Yonghoon. Mawar selalu mengingatkanku pada Yonghoon. Sehingga saat ditanya aku ingin bunga apa, aku hanya menjawab aku ingin mawar yang berwarna-warni.
"Sudah sampai."
Seoho melepaskan gandengannya padaku dan ia membungkuk memberi hormat pada Leedo. Aku juga membungkuk memberi hormat pada Leedo. Acaranya belum dimulai, jadi Leedo masih sedang menunggu di salah satu ruangan dekat aula. Karena ia sudah tiba, aku pun dijemput. Ruangan ini hanya berisi beberapa pelayan. Tapi rasanya sesak karena hanya berdua dengan Leedo walaupun aku duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Teknisnya ada sebuah meja yang menghalangi dan aku bukannya benar-benar berdekatan dengannya.
Ia terlihat tampan hari ini. Biasanya juga tampan, tapi hari ini ia ekstra tampan karena penampilannya sebagai seorang calon Raja. Aku tidak tahu akan setampan apa ia saat hari pernikahan kami nantinya. Pasti banyak yang akan menganggap aku beruntung nantinya saat mereka lihat siapa calon suamiku. Aku menikah dengan seorang Raja yang tampan dan sempurna. Tapi mereka semua tidak tahu bagaimana Leedo yang sesungguhnya. Mereka tidak tahu bisa sekejam apa Leedo hanya untuk melindungi kekasihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSWER (ONEUS & ONEWE)
FanfictionAwalnya mimpi buruk itu datang, menunjukkan akhir yang tragis dari keluargaku. Aku tidak ingin itu terjadi, jadi aku memutuskan untuk menggantikan saudaraku dengan ikut kompetisi menjadi pendamping Putra Mahkota. Yang aku inginkan hanyalah pergi ke...
