Mengejutkan bahwa Keonhee bisa mengumpulkan begitu banyak orang di kedai makan milik ibunya. Kedai makan ini sudah berubah menjadi jauh lebih bagus. Keonhee bilang ia mengumpulkan orang-orang ini untuk membantu rencanaku. Katanya mereka setuju untuk menghidupkan perekonomian di kota lagi. Hal ini membuatku tambah semangat. Apalagi baru-baru ini mereka berhasil melawan pasukan Yonghoon yang menagih upeti. Jadi, aku rasa ini bisa jadi awal yang baik.
Diskusi berjalan baik, aku tidak ingin mengumbar janji, aku hanya ingin mereka bisa melihat bahwa usaha yang aku berikan ini bukan sekadar cari muka. Setidaknya aku senang banyak yang membantu dan mendukungku. Ternyata para rakyat tidak sepenuhnya menyalahkanku dan Leedo karena mereka maklum bahwa bahkan pemimpin bisa melakukan kesalahan. Karena itu mereka mengingatkan bahwa kali ini aku tidak akan berjuang sendirian.
Aku berteman dengan banyak orang baru dari berbagai kalangan dan umur. Baru kali ini aku berteman dengan para rakyat. Hidupku yang mengharuskanku untuk membiasakan di pergaulan kelas atas membuatku sama sekali tidak punya teman dari rakyat biasa. Mengejutkan mereka jauh lebih tulus dan baik. Aku semakin merasa bahagia setiap harinya dan tujuanku kini jelas. Aku ingin memperjuangkan hak mereka, apa pun yang terjadi. Aku akan melakukan segala cara supaya Yonghoon mengizinkan untuk tidak mengambil upeti dalam jumlah besar.
Aku menjadi sangat sibuk dengan mengatasi kekacauan yang diciptakan Yonghoon. Kalau bukan karena bantuan Keonhee, aku tidak akan memperoleh kepercayaan dari para rakyat. Berkali-kali aku ditolak dan dicaci pengkhianat. Tapi Keonhee selalu membesarkan hatiku dan mengatakan pada semua orang bahwa itu tidak benar. Akhirnya aku memperoleh kepercayaan dan teman. Ruang kosong dalam hatiku perlahan terisi.
"Apa? Kau mengatakan untuk mengurangi pemungutan upeti?"
"Iya. Kau mengambil upeti dari mereka 10 kali lipat lebih banyak dari seharusnya dan hal itu tidak benar. Kau mematikan ekonomi dan memenjarakan mereka semua. Coba kau pikirkan, kalau kau mengambil semua milik mereka tanpa sisa, bagaimana mereka melanjutkan usaha mereka? Apalagi lihat sendiri banyak bangsawan dari luar negeri yang ingin mengimpor barang dari kerajaan ini. Kalau mereka tidak diberikan kesempatan untuk bekerja, ekonomi kerajaan kita akan hancur. Kau tidak akan bisa bersenang-senang lagi. Pungut upeti selayaknya kau memungut pajak seharusnya. Aku yang akan membantu mereka membangun usaha mereka lagi."
Yonghoon menatapku penuh selidik. Aku tidak takut. Hal yang aku ucapkan memang benar. Aku tidak ingin para rakyat tersiksa lagi. Mereka sudah mulai terlihat hidup dan aku harus memperluas kesempatan mereka. Yang aku katakan juga benar, atas bantuan teman-teman dari luar negeri, minat beli pada kerajaan ini jadi besar. Hal itu bisa aku jadikan sebagai bahan untuk mempengaruhi Yonghoon.
"Kalau begitu katakan pada mereka untuk tidak menyerang pasukanku."
"Katakan pada pasukanmu untuk tidak mengambil upeti berkali-kali lipat dari yang seharusnya. Katakan pada mereka untuk tidak menggunakan kekerasan. Kau yang mengusik mereka duluan, maka wajar jika mereka membalasnya. Kau tidak akan ingin tahu sejauh apa yang mereka lakukan. Cepat tanda tangan di sini."
"Terserah kau sajalah. Tapi aku tidak setuju seperti biasa. Aku minta lima kali lipat."
"Tidak, itu jumlah yang terlalu besar. Usaha mereka akan mati kembali."
"Tiga kali lipat," Yonghoon menurunkan angkanya tapi ia masih serakah.
"Dua kali lipat," putusku akhirnya.
"Baik, setuju. Cepat ubah di perjanjian itu."
Aku menuliskan ulang perjanjiannya. Sepertinya masih lebih baik dua kali lipat daripada sepuluh kali lipat atau lima kali lipat. Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu sebanyak yang aku inginkan, tapi aku rasa ini lebih baik. Aku akan membantu yang kesulitan membayar. Setidaknya Yonghoon sudah setuju untuk tidak mengambil semua milik rakyat. Dan aku bisa membantu mereka dengan terang-terangan, itu sudah cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSWER (ONEUS & ONEWE)
FanfictionAwalnya mimpi buruk itu datang, menunjukkan akhir yang tragis dari keluargaku. Aku tidak ingin itu terjadi, jadi aku memutuskan untuk menggantikan saudaraku dengan ikut kompetisi menjadi pendamping Putra Mahkota. Yang aku inginkan hanyalah pergi ke...
