EMPATPULUH

3.7K 289 11
                                    

Double Update karena sebenernya ceritanya udah selesai di tulis, tapi mau update sehari satu part aja deh ya :) Jangan Lupa Vote dan Comment:) Makasih!

***

Sudah selama dua minggu Nada mengabaikan pesan singkat dan panggilan dari Pak Rama. Walaupun Nada bolak-balik di kampus untuk mengurus keperluan wisudanya, Nada memilih untuk menghindari Pak Rama. Hingga Nada tak tanggung-tanggung datang kekampus dank e ruang dosen untuk meminta Tanda Tangan saat Pak Rama sedang mengajar di kelas.

Selama itu juga Nada memilih untuk tidak mengenakan jam pemberian Pak Rama karena hal itu akan membuat Nada hanya terpikirkan oleh Pak Rama dan semua kenangan yang mereka lalui berdua. Nada juga memilih untuk meletakkan kunci gerbang dan rumah milik Pak Rama di laci paling bawah agar Ia tidak lagi melihatnya.

Sebenarnya Nada sering kali melihat Pak Rama yang berjalan di koridor kampus lalu menghilang saat dia memasuki ruangan kelas. Namun Nada hanya bisa melihatnya sampai situ. Ia tidak ingin Pak Rama melihatnya. Ia hanya tidak ingin membuat Pak Rama terus berharap pada dirinya.

Jujur saja, Dari dulu semenjak ia sudah mengerti cara kerja sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan, apalagi saat memasuki jenjang pernikahan yang sekali seumur hidup, Nada sudah tidak tertarik. Apalagi melihat keluarganya sendiri.

Nada memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap pernikahan atau hubungan semacam itu. Ia takut tidak bisa mempertahankan sebuah hubungan. Ia takut menghadapi permasalahan-permasalahan yang pastinya akan datang menerpa rumah tangganya, jika ia memutuskan menikah kelak. Banyak faktor yang membuatnya tidak mempercayai kalau dirinya sendiri bisa menjalin hubungan dengan orang lain.

Pertama, melihat keluarganya sendiri, Ayah yang entah kemana, sedangkan Bunda Din yang sampai saat ini juga tidak menikah walaupun sudah dekat dengan Oom Tito. Tante Lusi yang belum menikah di usianya yang sudah menginjak kepala empat dan hampir menginjak kepala lima. Papa Yudit yang mempunyai dua istri. Dan banyak lagi cerita-cerita dari banyak orang yang membuatnya tidak ingin menjalin hubungan dengan laki-laki apalagi hubungan yang mengarah ke pernikahan.

***

"Nad! Lihat sini!" suara Yudit membuat Nada menolehkan kepalanya menatap sosok Yudit yang siang ini sedang menjadi fotografer dadakan di acara wisudaan Nada.

"Coba lo berdiri disitu!" Ucap Yudt sembari mengarahkan Nada untuk berpose sembari membawa ijazah di tangan kanannya dan samir wisuda di tangan kirinya.

"Sekarang sama Tante! Tan cepet berdiri disitu!" Yudit masih saja mengarahkan Nada dan Bunda Din untuk berpose.

"Sekarang sama Oom Tito deh boleh!" Ucap Yudit lagi. Kini Nada, Bunda Din dan Oom Tito berpose dengan menampilkan senyuman mereka yang terlihat sangat bahagia.

"Selamat ya sayang!" Ucap Bunda Din yang langsung memeluk Nada.

"Makasih Bunda ku yang sangat cantik hari ini." Balas Nada.

"Selamat ya Nak!" kini giliran Oom Tito yang memeluk Nada. setelah Nada melepaskan pelukannya dari Oom Tito, Nada melihat air mata jatuh dari pipi Oom Tito membuat Nada langsung mengejek Oom Tito.

"Jangan nangis dong, Oom. Kan Nada nanti juga ikutan nangis." Ucap Nada disertai tawa nya. "Bunda aja nggak nangis, kok Oom Tito malah yang nangis sih." Gurau Nada lagi. Lalu saaat Nada kembali dipanggil oleh Yudit untuk kembali mengambil foto dengan berbagai angel. Nada melihat sosok Pak Rama datang dan mulai menyapa Bunda Din dan Oom Tito.

"Bentar Dit!" Pinta Nada lalu mulai melangkahkan kakinya mendekati sang Bunda, Oom Tito dan Pak Rama yang saat ini sedang mengobrol.

"Pak?" Panggil Nada.

"Yasudah, Bunda sama Oom ke mobil dulu ya. Kita tunggu disana. Kalau udah selesai nanti kita lanjut ke restaurant."

Namun sebelum Bunda Din dan Oom Tito berjalan menuju mobil, Pak Rama meminta keduanya untuk tetap disana sebentar.

"Bunda, ada yang mau saya sampaikan. Saya nggak bisa lama-lama karena setelah ini ada hal yang harus saya kerjakan. Jadi saya mau ngomong disini." Ucap Pak Rama serius kepada Bunda Din dan Oom Tito.

Lalu pandanganan Pak Rama tertuju pada Nada yang berdiri dihadapan Pak Rama dengan sangat cemas.

"Nada?" Panggil Pak Rama sembari melangkahkan kaki mendekati Nada.

Nada, dengan gugupnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Selamat ya. Sekarang sudah lulus dari kampus. Semoga ilmu yang didapatkan bisa diamalkan." Ucap Pak Rama sembari menyodorkan buket bunga mawar merah.

"Makasih, Pak." Ucap Nada seraya menerima buket bunga itu dengan senyum yang sedikit canggung.

"Nada, Ada yang mau saya bicarakan, memang ini terkesan buru-buru. Tapi saya harus bilang sekarang. Saya udah berkali-kali bilang sama kamu kalau saya serius. Saya selalu serius saat saya bilang ingin jadikan kamu sebagai pasangan saya, sebagai pendamping saya. Saya nggak mau buru-buru untuk saat ini, kita jalanin pelan-pelan dari awal. Nada, ayo kita ulang dari awal! Jadi pacar saya, ya?" Pinta Pak Rama sembari menyodorkan sebuah kotak berisi kalung emas putih dengan liontin berbentuk tetesan air, sukses membuat Nada membelalakkan mata.

Ia tidak habis pikir akan merasakan rasanya diminta menjadi pasangan seseorang ditengah-tengah kerumunan orang, didepan Bunda Din, Oom Tito dan Yudit. Nada juga bersyukur karena Pak Rama tidak berlutut dihadapannya karena Ia memang tidak suka diperlakukan seperti itu dihadapan orang lain.

"Saya nggak minta kamu langsung nikah sama saya. Pelan pelan aja. Kita mulai dari awal. Saya nggak akan paksa-paksa kamu untuk melakukan apapun." Ucap Pak Rama masih dengan menyodorkan kotak berisi kalung. "Gimana? Kamu mau?"

Permintaan Pak Rama yang tiba-tiba cukup membuat Nada shock! Ia tidak bisa berpikir jernih. Yang Ia tahu, saat ini hatinya mengatakan kalau ia harus menerimanya, namun, ia masih berpikir kalau ia menerimanya, Ia harus bersiap-siap dengan semua konsekuensi yang ada didepan mata. Salah satunya adalah ketakutan terbesarnya yaitu kegagalan menjalin hubungan dengan orang lain.

"Nada? apa perlu saya berlutut disini?" Tanya Pak Rama lagi. Terkesan memaksa memang, tapi entah mengapa Pak Rama merasa melakukan pose berlutut bisa lebih membantu proses 'lamaran'nya

Dengan cepat Nada menarik Tangan Pak Rama mencegahnya untuk berlutut. Karena ia tidak mau mendapatkan perhatian dari banyak orang mengingat Pak Rama adalah salah satu dosen disini.

Nada melirik sang Bunda meminta tolong. Dalam tatapannya saat melihat Bunda Din, Seolah Nada bertanya 'Bagaimana ini Bunda?'

Seolah-olah mengerti apa yang dikhawatirkan snag putri, Bunda lalu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Namun bukannya membuat Nada tambah yakin, namun anggukan dari Bunda malah membuat nada semakin bimbang.

Nada kembali menatap Pak Rama lekat-lekat. Nada tahu, di dalam tatapan Pak Rama, ada kesungguhan. Walaupun di dalam diri Nada saat ini hanya dipenuhi keraguan, namun akhirnya Nada mengiyakan.

"Iya, saya mau ulang dari awal sama Bapak."

***

DRAFT 2 -Jasa Pendamping ( ✔)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang