Brak!
Pukul 10 malam pintu kamar Alga dibanting keras oleh sang pemilik. Papi dan Maminya sampai terlonjak kaget di dalam kamar. Pasangan setengah baya itu langsung buru-buru keluar dan menghentikan Alga yang berjalan cepat menuruni tangga.
"Mau kemana jam segini, Alga?" Tanya Papinya tajam.
Alga tampak mendesah sambil berhenti di tengah anak tangga. Menatap kedua orang tuanya yang berjalan mendekat.
"Alga harus pergi, Pi."
"Iya, tapi kemana? Kamu ini sekarang jarang banget di rumah. Emang ada urusan apa sampek banting-banting pintu segala?"
Laki-laki itu menatap handphonenya yang menyala. "Alga harus pergi sekarang, mau ke rumah sakit Pi. Da Mami.." Alga berlari keluar, menaiki motornya dan melaju secepat mungkin ke rumah sakit.
Bela sudah berada di sana hendak melahirkan, dan Danda terus menghujaninya dengan ratusan pesan dan panggilan sejak tadi. Mengatakan kalau keadaan Bela cukup buruk saat ini.
Motor Alga melaju sangat kencang di jalanan yang lumayan lengang, pikirannya memutar, tidak tahu harus senang atau malah takut.
Dalam waktu sepuluh menit Alga tiba di pelataran rumah sakit. Setelah memarkirkan asal motornya, laki-laki itu berlari mencari Danda.
"Nda!" Panggil Alga pada laki-laki dengan pakaian rumahan yang sedang duduk khawatir di sebuah kursi.
"Lama banget sih lo! Dokter bilang kemungkinannya kecil."
Alga duduk di sebelah Danda, tidak menjawab apapun. Keduanya mulai larut dalam pikiran masing-masing sambil menunggu kabar dari dalam sana.
Hanya teriakan histeris Bela yang terdengar, membuat mereka makin pusing. Sudah hampir satu jam tapi belum ada perkembangan apapun.
Alga dikejutkan dengan kedatangan Karel, Danila, serta Chila di rumah sakit. Matanya menatap Danila yang sangat khawatir di sebelah Karel, ingin sekali bisa berada di sana. Dan menenangkan gadis itu.
Tapi tidak, Alga memilih menyender pada punggung kursi dan memejamkan matanya barang sejenak.
"Bela gimana kak?" Tanya Chila sambil melihat ke arah Danda.
Laki-laki itu menggeleng, "kita sama-sama belom tau." Jawabnya pelan. Detik berikutnya Chila mengambil tempat di sebelah Danda untuk duduk. Hubungan mereka masih tetap canggung karena Chila yang mengetahui perasaan Danda pada Bela. Tapi pada saat seperti ini semua itu harus dikesampingkan bukan?
Sedangkan Danila menggigit bibir bawahnya menatap Alga yang terpejam. Sudah dia duga, melihat Alga dari dekat bisa berbahaya untuknya.
Jantungnya kembali berdetak hebat dan tubuhnya mulai dingin.
Karel yang menyadari perubahan Danila langsung mendekap bahunya. Merangkul gadis itu dan memberikan cengiran lebar yang menyebalkan. "Tegang ya?" Bisik Karel menggoda.
"Kak.." Danila memperingati sambil menatap Karel tajam. Untung ada Karel di sebelahnya.
"Gue bukan kakak lo, gue kakaknya Chila."
"Ish! Diem deh!" Balas Danila semakin sengit. Karel tertawa dan mengacak rambut Danila yang dikucir kuda.
Suara percakapan Danila dan Karel yang samar-samar itu menarik sosok Alga untuk membuka matanya. Dia melihat kekasihnya dan juga sahabatnya sedang berangkulan dan saling beradu argumen cukup seru.
"Sial!" Umpatnya di dalam hati.
Sesuatu mencubit hatinya dan Alga harus segera kembali terpejam atau dia akan menerkam Karel sekarang juga. Melupakan bahwa semua ini adalah rencananya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Hot Girl (✓)
Teen FictionMasih tentang anak nakal tapi tampan seperti kebanyakan cerita remaja lainnya. Tapi Alga akan mengingatkan kalian tentang kesalahan seorang laki-laki dalam memperlakukan perempuan. Dan Danila akan memberi kalian pelajaran mencintai dengan tulus sert...
