Tubuh mungil Danila terhempas di sofa. Dia sangat lelah, sudah pukul sepuluh malam ia baru sampai di rumah. Ia teringat dengan handphonenya yang sejak kemarin tertinggal di kamar.
Segera ia berlari menuju kamarnya. Membuka pintu berwarna ungu soft itu.
Kamarnya masih gelap.
Danila meraba tembok sebelah kanan dan menekan saklar. Senyuman mengembang melihat kamarnya yang begitu rapih dan nyaman.
Kaki berbalut rok hingga lutut itu melangkah masuk menghampiri sofa di dekat jendela besar kamarnya. Mengambil benda pintar yang tergeletak di sana. Handphonenya masih menyala, tapi baterainya tinggal lima persen.
Danila mengisi daya handphonenya. Sambil menunggu, Danila berniat membersihkan dirinya. Sekedar mencuci muka dan menggosok giginya lebih dulu.
Baru saja keluar dari kamar mandi, handphonenya berdering.
Chila menelponnya.
"Apa Chil?" Tanya Danila.
"Heh bocah! Kemana aja lo nggak nongol di sekul. Bolos kok nggak ngajakin gue sama Bela sih La? Lo baik-baik aja kan nyet?"
Danila tertawa ringan mendengar betapa cerewetnya sang sahabat. Tapi terkadang kecerewetan Chila lah yang memberi warna pada persahabatan mereka.
"Satu-satu nanyanya kenapa?"
"Ehehe yaudah deh nggak usah dijawab, yang penting gue udah tau lo masih idup. Gue mau ngomong penting nih sama lo La."
"Tumben omongan lo ada yang penting." Danila tertawa karena kelimatnya sendiri. Sepertinya dia cukup kelewatan dengan Chila malam ini. Tapi itu tidak masalah, Chila bukan tipe orang yang gampang marah.
"Anjir lo. Serius gue, ini soal kak Alga."
"Kenapa kak Alga?" Tanya Danila penasaran.
"Jadi tadi di sekolah dia nanyain lo. Banyak deh pokoknya yang dia tanya, Lo udah punya cowok atau belum, tipe cowok lo gimana, sampek hobi dan makanan favorit lo dia tanya La. Keren kan tuh orang?"
Danila terpaku sejenak. Tiba-tiba kalimat Alga yang berkata serius saat akan mengejarnya terngiang di telinganya. Tapi kenapa harus bertanya lewat Chila? Dia seharusnya bertanya langsung pada Danila kalau memang dia pria pemberani.
Tapi sepertinya Alga hanya sebatas cowok tukang tebar pesona yang pengecut.
"Dan satu lagi La. Tapi lo jangan bilang kak Alga ya."
"Gue itu temen lo, bukan temen kak Alga. Tenang aja kalik Chil."
"Nah bagus deh. Jadi rencananya kak Alga bakal ngajakin lo ngedate besok. Dan gue mohon banget lo harus mau ya La."
"Kenapa harus?"
"Soalnya gue punya perjanjian sama dia. Ya La? Please. Demi gue. Lo nggak mau kan sahabat lo yang paling gaul ini jadi gembel karna rumahnya di bom kak Alga."
"Gue pikirin dulu. Eh udah dulu ya Chil Papa manggil tuh." Panggilan diakhiri oleh Danila. Dan sesungguhnya Papanya sedang tidak di rumah karena dia baru saja pulang mengantar ayahnya berangkat bekerja di luar kota.
Danila meletakkan handphonenya dan menaiki ranjang. Entah kenapa senyumnya sulit ditahan. Ia bahagia karena Alga? Entahlah. Danila sedikit tidak suka dengan cara laki-laki itu mencari tahu semua tentangnya lewat Chila.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Hot Girl (✓)
Teen FictionMasih tentang anak nakal tapi tampan seperti kebanyakan cerita remaja lainnya. Tapi Alga akan mengingatkan kalian tentang kesalahan seorang laki-laki dalam memperlakukan perempuan. Dan Danila akan memberi kalian pelajaran mencintai dengan tulus sert...
