47

1.1K 139 7
                                        

Halooowww yorobuuunn! Maaf baru muncul lagi hehe... Hari ini aku kasih double update deh. Enjoy yaaa... Langsung aja, Happy Reading my beloved readers! (〃゚3゚〃)

--

Kehidupan mulai kembali normal sedikit demi sedikit, aku pun sudah kembali ke Jogja setelah healing di Solo selama berbulan-bulan. Sekarang masih dalam suasana liburan, dua minggu menjelang masuk kuliah. Aku pun mulai bersiap kembali ke kampus.

"Gimana urusan kampus dek?" Mas Taeil yang baru saja pulang dari kampusnya, langsung menghampiriku yang berkutat dengan laptop di kamar.

"Udah, baru aja selesai input KRS juga nih, pembayaran juga udah beres mas," aku mengangkat ibu jari.

"Ngomong-ngomong, dek," Mas Taeil duduk di tepi kasur sambil menatapku yang masih asik dengan laptop.

"Apaan?" aku menatap Mas Taeil.

"Papa ngajak ketemu."

"Nggak."

"Papa lagi di Jogja katanya," Mas Taeil seperti membujuk, padahal dia sendiri belum pasti mau ketemu papa.

"Nggak mau mas, pokoknya enggak. Titik," aku mengubah posisi menjadi duduk dari yang semula tengkurap di kasur.

"Sama mas, sama Aliya juga," Mas Taeil masih berusaha.

"Sekali enggak, ya enggak. Mas nggak usah maksa atau aku marah sama mas ya," aku menatap kesal Mas Taeil.

"Oke, oke," akhirnya Mas Taeil menyerah.

Aku memang terapi trauma, tapi itu hanya menghilangkan trauma dan shock yang aku alami, that means aku sudah bisa menerima keadaan yang terjadi padaku bukan menerima kembali orang yang sudah menyakitiku. Aku menerima keadaanku yang masih aku anggap berantakan, tapi orang yang menjadi alasan dibalik hidupku yang berantakan? Jangan harap mereka bisa kembali mengusik hidupku. Aku ingin menjalani hidup tanpa orang-orang itu.

Aku sangat bersyukur aku sudah menjalani hidup dengan normal tanpa bayang-bayang rasa takut akan segala hal yang belum pasti terjadi. Karena itu, tidak ada alasan untuk menerima kembali orang yang berpotensi melakukan kesalahan yang sama. Paham kan? Kuharap kalian paham. Anggap aku menjadi orang yang keras.

Semua yang udah terjadi emang ada efeknya bagiku. Aku bisa kembali tertawa, tapi tetap saja aku merasa tidak lengkap. Aku hanya berusaha lebih berhati-hati yang kadang malah menjadikanku terlihat lebih keras kepala. Aku hanya berusaha melindungi diri supaya tidak ada lagi orang yang menghancurkanku. Itu saja. Aku memang sudah kembali ceria lagi, tapi aku sudah menjadi Alisha yang berbeda. Mungkin.

"Mas sama Aliya kalo mau nemuin papa ya sana, tapi nggak usah ngajakin aku," aku menegaskan pada Mas Taeil.

"Iya dek, iya."

--

Siang ini matahari benar-benar terasa menyengat kulit. Rasanya kaya nggak mau keluar dari gedung kampus. Emang udah paling pas di lobi deh. Adem.

Baru aja aku naruh pantat di bangku waktu Caca, Kalya dan Griz dateng nyamperin.

"Belum balik, Sha? Gue pikir lo udah balik," tanya Caca.

"Nunggu Lucas, mau jalan. Kalian sendiri darimana?" aku bertanya balik pada ketiga temanku.

"Kantin, pacaran," jawaban Griz membuat aku melengos.

"Tau-tau yang pada punya cowo," cibirku.

Caca, Kalya dan Griz mengambil posisi duduk di dekatku.

Loving Nakamoto Yuta [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang