Satu per satu dari setiap angka di kalender itu disilang olehnya. Lelaki itu menarik sedikit kedua sudut bibirnya. Ia menyadari bahwa jarak antara angka dari tanggal yang dilingkarinya dengan spidol merah kini tinggal beberapa hari lagi.
Tanggal spesial untuk orang yang spesial di bulan Juni.
"Kali ini aku memberikan apa untuknya?"
Ini adalah tahun pertama setelah tiga tahun terpisah dari Juni. Tiga tahun berturut-turut ia memberikan sebuah lagu ciptaannya sendiri lalu mengirimkannya pada Juni. Kali ini, ia cukup bingung untuk memberi sebuah hadiah.
Leon berencana untuk mengubah hadiahnya. Bosan rasanya jika membuat lagu terus-menerus selama beberapa tahun terakhir.
Pikiran Leon tiba-tiba teralihkan pada gadis yang sempat mengalami pertengkaran kecil dengannya. Ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu pergi menuju dapur.
Gadis bernama lengkap Juni Aleeya itu terlihat sedang sibuk membuat kue khas korea andalannya. Ya, Heottok dan memang hanya itu yang bisa ia buat dengan sempurna.
"Masih lama?" Tanya Leon sambil menghampiri Juni.
"Memangnya kenapa?" Juni bertanya balik.
"Kita jalan-jalan," ucapnya dengan senyum semringah.
"Hari ini aku mau ke makam ayah," ucap Juni tanpa memandang Leon.
Leon sempat melihat cincin itu di jari manis Juni. Rupanya gadis itu benar-benar tidak ingin melepaskannya.
"Aku minta maaf soal kemarin," ucap Leon.
"Aku sudah melupakan masalah itu."
Suasana menjadi cukup kaku, Leon pun menawarkan diri untuk pergi bersama Juni ke makam ayahnya. Namun sayangnya Juni menolak dan memilih untuk pergi sendiri. Mendengar penolakan itu spontan membuat Leon terlihat sedih. Nampaknya Juni menyadari hal itu.
"Ini Heottok untukmu. Makanlah selagi hangat!" Pinta Juni sambil membawa lima buah kue isi kacang itu.
Garis senyum lelaki itu pun terlihat.
"Tentu, aku akan memakannya," ucap Leon.
"Aku pamit yah. Aku akan mengabarimu nanti," ucap Juni sambil memegang pundak Leon.
"Juni."
"Hm?"
"Ayah pasti kecewa padaku," ucap Leon sambil menunduk.
"Kenapa?"
Leon sempat terdiam beberapa saat. Lelaki itu merasa ingin kembali menanyakan pertanyaan yang sebelumnya sempat tertunda.
"Eem, karena aku tidak pergi mengunjunginya."
"Ayah pasti mengerti."
"Tidak Juni, bukan itu maksudku. Tapi kapan kita berdua bisa mengunjungi ayah dengan status yang diharapkan oleh ayah?" batin Leon.
Juni pun pergi dengan cincin tunangan mereka yang melingkari jari manisnya, sedang Leon tidak ingin mengenakannya. Lelaki itu masih merasa bahwa Juni hanya sedang berusaha melupakan seseorang, bukan berusaha mencintai dirinya.
***
.
."Sebelah sini Tuan," ucap pria berkacamata dengan stelan jas hitam.
"Paman Joo."
"Saya, Tuan."
"Selama hidupnya, apakah ayahku bahagia?"
"Tergantung dari situasi dan kondisi, Tuan," jelas lelaki yang akrab di sapa Joo itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm sorry [Complete ✓️]
General FictionKth x ksh x cew ⚠️BELUM REVISI Cinta juga bukan sebuah "penghargaan", tapi tentang seberapa berartinya ia dalam hidup saat mengenalnya. Antara kekecewaan dan cinta, manakah yang lebih lama untuk bertahan. Tapi jika terpaksa harus memilih, pasti akan...