Twenty seven

79 18 11
                                    

Sinar matahari menembus kaca juga tirai tipis pada jendela kecil kamarnya. Jam telah menunjukkan pukul 08.15 am. Selimut tebal itu membuat matanya lebih lama terpejam. Mungkin karena mimpi buruk, gadis itu terbangun tiba-tiba.

"Ya ampun, apa-apaan aku?"

Ia bangkit dari tempat tidur dengan rambut acak-acakan. Ia meraih jam digital yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya.
Ia menepuk jidatnya lalu melangkah tergesa-gesa menuju ruang tengah dimana Leon sering beristirahat. Sayangnya, sofa itu kosong. Terlihat selimut berwarna putih telah terlipat rapi di atas meja.

Juni menghentakkan kaki dan berdecik kesal. Hal yang ia sesali adalah mengapa ia bisa bangun selambat itu. Juni meyakini bahwa Leon marah padanya atas sikap yang ia tunjukkan saat lelaki itu bertanya, Apakah kamu masih mencintai Rey? Namun ia 'tak memberi tanggapan apapun.

Hal yang biasa dilakukan Leon adalah membangunkan Juni di pagi hari. Jika lelaki itu enggan mengganggu tidurnya, ia pasti menuliskan pesan pada kertas kecil lalu menyisipkannya. Namun pagi ini—tidak.

Drrrt! Drrt!
Pesan masuk di ponsel Juni yang rupanya dari Leon. Lelaki itu mengajaknya untuk bertemu di salah satu rumah makan favorit mereka untuk makan siang bersama. Garis senyum Juni terlihat setelah membaca pesan dari Leon yang tampaknya baik-baik saja. Perasaannya cukup legah dengan sesaat.
.
.
.

"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Tolong yang ini, yah." Menunjuk salah satu benda dibalik kaca.

"Anda mau yang ini, Tuan? Wah, pilihan yang tepat sekali," ucap wanita itu sembari mengambil benda dengan buah kecil berwarna biru.

"Eem..." Mengerutkan kening sambil memegang dagu dan berkata, "Tapi saya mencari yang satu-satunya ada di muka bumi." Senyum semringah.

Sikapnya membuat wanita itu tertawa kecil. Kebetulan benda itu hanya ada satu, Leon pun tetap menjatuhkan pilihannya ke kalung itu.

"Boleh aku meminta kertas kecil?" Meminta tanpa ragu.

"Oh, tentu saja."

Dengan senyuman tulus, ia menggerakan pena tinta cair itu di atas kertas berwarna merah jambu. Cukup panjang, sampai pegawai aksesoris itu terus memandangnya dengan serius.

Senyum Leon memudar saat kertas itu hanya menyisakan kurang lebih tiga baris kalimat lagi.
"Apa lagi yang harus aku tulis?Hanya ini yang aku rasakan." Menunduk sambil memejamkan matanya.

Namun lelaki itu kembali menuliskan beberapa kata lagi. Kali ini, raut wajahnya datar. Ia sempat menengadah lalu menghela nafas lalu kembali menulis. Kali ini—Leon—menitikkan air mata. Wanita yang sejak tadi memandangnya pun terkejut. Ia sempat melangkahkan kakinya untuk menanyakan keadaannya. Namun ia mengurungkan niatnya saat Leon lebih dulu mendatanginya.

"Ini..." Leon mengembalikan pena itu.

"Tintanya bagus, tulisanku jadi sangat rapi. Terima kasih banyak." Membungkuk sambil tersenyum.

Meski begitu, sangat jelas bagi wanita itu bahwa Leon hanya memperlihatkan senyum dengan terpaksa.

Leon kembali berjalan menuju suatu tempat yang letaknya cukup jauh. Karena tidak membawa kendaraan, ia harus berjalan ke halte sesuai dengan tempat tujuan. Pesona Leon memang 'tak bisa dipungkiri, ketampanannya membuat para kaum hawa yang lalu lalang itu terus memandangnya. Terlihat semakin keren layaknya seorang Idol saat ia mengenakan masker hitam dengan earphone putih yang menutupi kedua telinganya.
.
.
.

11.40 am
Meja nomor 15 di kafe serba pink itu telah tersedia segelas minuman dengan potongan strawberry kecil di bibir gelasnya. Meja yang membelakangi pintu masuk kafe ini membuat Juni kebingungan untuk mencari, terlebih saat lelaki itu menutupi nomor dari meja yang ia cari. Beruntung di lantai satu dari kafe itu hanya terdiri dari beberapa meja saja. Juni sempat-sempatnya untuk menghitung satu per satu meja yang ada.

I'm sorry [Complete ✓️]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang