Kth x ksh x cew
⚠️BELUM REVISI
Cinta juga bukan sebuah "penghargaan", tapi tentang seberapa berartinya ia dalam hidup saat mengenalnya.
Antara kekecewaan dan cinta, manakah yang lebih lama untuk bertahan. Tapi jika terpaksa harus memilih, pasti akan...
Malam ini saudari Juni datang jauh dari Swedia untuk liburan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
________________________
Anaya Lie, biasa di sapa Naya, menerima beasiswa S2 di Lund, Swedia. Pintar, cantik dan mandiri.
____________________________
Mobil taxi berhenti tepat di depan rumah. Rupanya kakak dan ibunya telah kembali. Bukan turun menyambut, gadis itu malah asyik menyoroti dari balkon.
"Naya Eonni!^(Kakak) " teriakan Juni bukan saja membuat Naya dan ibunya menoleh, tapi juga Rey tetangga barunya.
Bertetangga dengan jarak rumah yang kurang dari lima meter tentu terdengar dengan jelas.
"Nae Dongsaeng! Bogosipho^(Adikku, aku rindu)." Naya melambaikan tangan sambil menderek koper dan beberapa barang lainnya.
"Aku tidak sama sekali Nay," ucapnya terkekeh.
"Keterlaluan. Juni, bantu bawa barang-barang ini!" ucap ibunya yang sejak pagi tadi sudah dibuat kesal olehnya.
Rumah itu terdengar sangat ramai, padahal mereka hanya bertiga. Kebisingan mereka sangat mengganggu si tetangga yang sibuk mengerjakan tugas pertamanya.
"Keluarga yang luar biasa. Aku bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti itu... tidak sama sekali," batin Rey tenggelam dalam lamunannya.
Sejak kecil, Rey tidak pernah berkumpul dengan keluarganya secara utuh. Wajahnya yang putih bersih dengan hidung mancung serta mata monoloid itu sangat jelas, ia mengikuti wajah ayahnya. Ayahnya berkebangsaan korea, tapi Rey sama sekali tidak pernah tau seperti apa negeri gingseng itu.
"Ayah, Maaf. Rey belum bisa berkunjung," gumam hatinya.
"Tetangga! Tetanggaaa!"
Teriakan itu sangat familiar. Rey menutup buku juga laptopnya lalu membuka jendela kamarnya. Tak salah lagi, suara itu berasal dari jendela yang berhadapan dengannya.
"Ada apa?" tanya Rey sambil membuka tirai jendela yang sempat menghalangi wajahnya.
Deg,deg,deg,deg...
Suara itu mengendalikan pompa jantung Juni seketika. Sempat beberapa detik ia terpaku tanpa suara.
"YA!" teriak Rey.
"Oh, aduh Maaf. Aku hanya mau bertanya, ka—kau sudah tidur atau belum." Gagap.
"Kau sudah melihatku disini, berarti aku belum tidur," jawab Rey.
"Iya, maaf." Semangatnya mengendur.
"Maaf juga, aku harus melanjutkan tugas kuliah. Annyeong." Rey melambaikan tangannya pada Juni dengan menyertakan satu kata berbahasa Korea. Hal itu lantas membuat Juni makin terkagum-kagum padanya.
"Ah, apa-apaan. Kenapa tangan ini malah main lambai-lambai segala."
"Wah, Daebak!^(Amazing!) ajari aku Bahasa korea juga dong!" Juni terkejut mendengar satu kata yang diucapkan oleh Rey. Namun sayang,
"Woii!"
tak ada respon apa pun dari Rey. Kecuali, lampu kamar yang di padamkan.
"Laki-laki itu, membuat perasaanku jadi... uh. Cukup menyebalkan, tapi aku menyukainya."
🔹🔹🔹 🌄🌄
Kicauan burung adalah alarm praktis dari alam yang membangkitkan semangat Juni.
"Selamat pagi dunia. Oh? Dan hai para oppa."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selalu menyapa idol yang sama. Bagaimana tidak, foto member Boy grup/band itu terpampang nyata disetiap sisi kamarnya.
"Jogging ah, selagi libur les." Juni bersiap dengan Tshirt hitam dengan celana training panjang. Tidak lupa handuk kecil dan juga earphonenya.
Saat hendak memulai berlari, ia terus memandangi bangunan di sebelah rumahnya. Berpikir apakah lelaki korea itu sudah bangun atau masih berenang di lautan mimpi.
Namun tanpa sadar, ia bertingkah bak penguntit yang pagi-pagi buta sudah nangkring di depan gerbang orang.
"Menunggu siapa?"
suara itu berasa tepat dibalik punggung Juni. Dan saat berbalik...,
Deg,deg,deg,deg...
Kumohon berdetaklah dengan normal.
Juni mati kutu berhadapan langsung dengan si tampan Rey.
"Kau sudah jogging berapa lama? Ayo, istirahat dulu."
"Em, terima kasih. Tapi...,"
"Irama jantungmu kurang stabil. Jangan dipaksakan, istirahat dulu."
(Yaelah, padahal belum juga mulai lari beneran.)
Rey berjalan membuka pintu gerbangnya seraya mengajak Juni beristirahat sekaligus bertamu di rumahnya.
"Rey, ada apa dengan kaki mu?" Rey yang berjalan pincang membuat Juni terkejut.
"Oh, ini bukan apa-apa. Memangnya kau baru memperhatikan kalau aku picang?" tanya lelaki blasteran itu bingung.
"Memangnya sejak kapan kau pincang? " tanya Juni lebih bingung
"Begini nih kalau yang dipandang hanya wajahku saja," tuturnya sambil tertawa untuk pertamakali pada Juni.
Wajah ganteng Rey makin terpancar. Tawanya membuat kedua mata runcingnya itu hanya terlihat seperti garis lengkung.
"Ayo istirahat, aku ada sereal." Mengajak Juni beristirahat di teras rumahnya.
Tanpa sadar, Juni masih menatap kosong Rey yang sedang menyeduh sereal kepadanya.
"Ini, selamat makan. Semoga kau suka." Memberikan semakuk kecil sereal jagung itu pada Juni
"Gomawo^(terima kasih)," ucapnya dengan mata yang tak berpindah pandang sejak tadi.
"Dasar korea amatiran. Hahaha." Dan lagi Rey kembali tertawa pada Juni.
Keduanya menjadi cukup akrab, padahal Juni tak pernah bertanya apakah Rey menyukai Kpop atau tidak.
TBC...
_________________________________ 📝udah lah yah, kalo udah deket ama yang bening2 gitu mah bodo amat dia ga suka kpop. Asal ga ngusik gw aja, aman. _________________________________
Okay! Setelah membaca, kuy vote cerita ini, gratiisss-tis-tis. Komentar? Sama sob, gratis. Jadi, jangan lupa vomen yah, biar aku makin semangat📝 Masukan dan saran sangat berarti buat aku, ayo typing!