Happy Reading ✨
Aku akan menjadi awan di langit agar dapat melindungi dirimu dari teriknya matahari.
~Alex Anggara
....................................🖤🖤🖤...................................
Jam pelajaran pertama dimulai. Pak Bagas masuk dan langsung menuliskan sesuatu di papan.
Ulangan Harian ke-3
Keluarkan selembar kertas dan sebuah pulpen, letakkan di atas meja!
Selain yang disebutkan di atas, harap disimpan!
Seluruh murid di kelas itu pun membaca apa yang dituliskan oleh pak Bagas dengan keras secara bersama-sama. Setelah itu, mereka menghela lemas.
"Pak, ini serius ulangan?" Tanya Wildan.
Pak Bagas menaikkan alisnya sebelah. "Menurut kamu, saya bercanda gitu?"
Wildan menghela. "Tapi pak, gak bisa gini dong. Masa bapak ngasih ulangan mendadak. Kan kami belum belajar pak."
"Saya ngasih ulangan mendadak, agar dikemudian hari kamu bisa bertanggung jawab jika ada masalah yang mendadak juga."
"Tapi pak ...," Lirih Wildan.
"Kalo kamu tidak suka, bisa keluar dari kelas ini. Saya gak suka sama murid yang terlalu banyak tanya, tapi miskin ilmu." Skakmat cuy! Hati Wildan mencelos. Tak mungkin dia keluar saat sedang ulangan seperti ini. Apalagi ujian akhir sekolah tinggal menghitung hari saja.
Pak Bagas menghapus pengumuman tersebut, lalu menuliskan soal-soal yang akan mereka kerjakan.
"Gimana? Kamu bisa ngerjainnya?" Tanya Indah sembari berbisik.
Abi menoleh sembari tersenyum. "Bisa kok, ini mah gampang."
Indah hanya tersenyum. Dia melihat kertas milik Abi lalu menggeleng. "Nomor 3 jawabannya A, Abi. Bukan B."
"Itu yang dibelakang ada apa." Tegur pak Bagas. Mereka berdua terdiam, pak Bagas seorang guru killer yang sangat mengerikan saat marah.
"Mampus deh ketauan. Kamu diem aja, aku gak apa-apa kok." Jelas Abi berbisik sedangkan Indah hanya mengangguk pelan.
Mereka semua pun mengerjakan soal-soal mereka dengan tenang. Setelah bel berbunyi, Pak Bagas menyuruh semuanya untuk mengumpulkan kertas ulangan mereka. Kemudian pak Bagas mempersilahkan mereka untuk istirahat.
🖤🖤🖤
"Hati-hati ya!"
Indah tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu juga. Lagian ada Rara kok di dalam."
"Kalo ada apa-apa, segera hubungin aku ya." Indah mengangguk.
"Bye, akang"
"Dah, eneng."
Akang dan eneng mungkin seperti panggilan sayang mereka satu sama lain. Namun, asal kalian semua tau. Akang dan eneng hanya candaan mereka saja. Namun, sudah terlalu sering menggunakannya. Maka dari itu selalu terbawa.
Indah turun dari mobil dan masuk ke sebuah cafe. Sebelumnya Indah sudah berjanjian dengan Rara. Seperti biasa, kakinya sudah cenat cenut ingin ke cafe ini. Karena cafe ini adalah cafe yang baru saja buka dan banyak yang mengatakan cocok untuk nongkrong-nongkrong dan bersantai-santai. Rara tak bisa mendengar hal seperti itu, makanya dia selalu merengek kepada Indah untuk menemaninya makan di sana.
Indah duduk di dekat pintu sembari memainkan ponselnya menunggu kedatangan Rara. Mereka berjanjian untuk makan bersama disini. Indah juga ingin menjelaskan tentang Amalia kepada Indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indah [SELESAI]
Teen Fiction-Kehidupan Dirinya Tak Seindah Namanya- Kehidupan yang dijalani Indah berbanding terbalik dengan namanya. Keluarga harmonis tidak ada pertengkaran, itu lah yang didambakannya. Disekolah dibully, di rumah menyaksikan pertengkaran kedua orang tua past...
![Indah [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/227288084-64-k802690.jpg)