01 [Anak Kecil]

3.9K 224 0
                                        

"Yak, jangan meminumnya terus. Kau sudah teler begitu ingin mati, huh?" Jimin yang juga tengah dimabuk alkohol terus mengoceh seraya terkekeh dan menepuk keras bahu Yoongi.

"Arasseo arasseo... Ini untukmu." Yoongi mengucur air berwarna coklat itu dari botol hijaunya. Jatuh mengguyur ke gelas tabung kecil yang tergenggam di tangan mungil Jimin hingga meluber tumpah.

Jimin meneguknya kasar. Es batu yang sedari tadi berada di dalam gelas sampai menumbuk gigi-giginya.

"Yak, apa kalian tidak bosan? Selama dua bulan kau terus meminumnya tiga kali dalam sepekan. Aku saja yang hanya melihatnya merasa mual." Seokjin dengan kesadarannya tak bergeming mencicipi setetes alkohol itu. Ia paling anti dengan minuman keras.

Kepala Yoongi dan Jimin sudah terkapar di meja. Matanya tertutup dan mulutnya terbuka, memberi jalan pada liurnya untuk berlinang. Sesekali tangan Jimin menampar pipinya sendiri lantaran serangga-serangga kecil mencoba hinggap disana. Sementara Yoongi mengoceh sendiri, entah apa yang tengah ia bicarakan yang jelas bukan kalimat yang baik.

Seokjin hanya melihat mereka lalu menghela nafas berat. Kedua temannya ini benar-benar keterlaluan. Sudah dua bulan ini mereka bertugas dan sebentar lagi mereka akan pergi meninggalkan desa ini, tapi kebiasaan Yoongi dan Jimin masih membuatnya muak.

"Hey, bukankah kita akan pergi dari sini? Kekeke... Akhirnya sebentar lagi aku akan bebas. Dua bulan terkurung disini hampir membuatku mati." Racau Yoongi yang bahkan matanya masih menutup. Tangannya ia kibas-kibaskan kesembarang arah.

"Aku bebas, aku bebas, tidak ada tekanan lagi, aku bebas." Lanjutnya dengan kedua tangan terangkat keudara.

"Aku bebas.. Kita bebaaas..." Jimin yang juga masih teler bersorak mengikuti racauan Yoongi. Tangannya merangkul partner mabuknya yang terkapar di hadapannya. Hingga ruangan sempit dengan lampu temaram sayu berubah rusuh sampai pecah suara. Seokjin hanya bisa menggeleng. Tidak tahu lagi dengan dua temannya ini.

Dua bulan berlalu tidak membuat mereka bertambah betah, justru mereka sangat ingin segera pulang. Banyak faktor yang membuat mereka menjadi tak menikmati tugas ini, salah satunya adalah daerah yang mereka tempati sekarang amatlah terpencil, terdalam, dan terpelosok. Tidak ada fasilitas yang memadai disini terutama masalah kesehatan. Alat medis tak selalu lengkap, pun dengan dokter yang tak ada sama sekali kecuali mereka bertiga. Sinyalpun susah, harus naik ke puncak dahulu agar bisa menikmati lancarnya internetan.

Cuaca yang terlampau dingin menjadi salah satu faktor pendukung mengapa mereka tak betah. Angin malam dari puncak bukit menghembus hingga masuk ke cela ventilasi. Meskipun mereka didalam rumah tetapi rasa dingin itu masih saja menerobos, karena disini tak ada rumah yang memiliki penghangat ruangan. Sehingga tak jarang Yoongi dan Jimin minum-minum seperti sekarang. Selain untuk menghilangkan beban pikiran juga sebagai penghangat badan.

Tetapi walaupun demikian pengabdian yang mereka lakukan banyak sekali membantu kesehatan warga. Setiap hari ketiga dokter muda ini berjalan berkeliling desa, mengecek kondisi kesehatan warga setempat, dan mensosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat pada mereka. Tak jarang tiga dokter muda itu diperintah oleh aparat desa tetapi tak sesuai dengan tugas yang mereka geluti. Terkadang mereka harus mengecat pendopo, mencangkul tanah warga guna membantu perekonomian, memasang listrik di rumah warga yang tak sengaja mati, dan masih banyak lagi. Pengalaman-pengalaman yang tak semua orang bisa mengalaminya saat pengabdian.

Tetapi tidak semua perintah warga mereka tanggapi dengan ikhlas. Adakalanya saat mereka lelah mereka akan berontak. Seperti sekarang, Yoongi dan Jimin agaknya sudah sangat kelelahan dengan tugas mereka. Mereka mengaku tak kuat dengan kehidupan mereka di desa terpelosok ini. Setiap hari mereka merasakan siksaan yang abstrak, tak terlihat jelas namun dapat dirasakan terutama oleh batin mereka.

5 Years AgoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang