07 [Kecewa]

1.5K 132 0
                                        

"Ya disitu saja. Geser sedikit, agak ke kanan. Yap tepat."

Taehyung gusar mengarahkan posisi yang enak untuk sebuah televisi datar yang ia pesan. Benda elektronik itu sengaja ia beli untuk hiburan katanya. Hari-harinya selalu sepi tanpa kehadiran seorang teman. Hanya beberapa pasien saja yang mau berkunjung ke tempat prakteknya.

Parabola sudah tegak berdiri di atas genteng. Menunggu tukang memasangkan kabelnya ke colokan televisi.

"Gamsahabnida, ahjussi." Taehyung membungkuk saat para tukang itu berpamitan. Semua tugasnya selesai dengan rapi.

Televisi sudah menyala, gambarnya jernih. Taehyung sibuk memencet tombol ch diremotnya untuk melihat-lihat apa saja yang bisa dicakup oleh parabola.

"Lumayan banyak juga. Tidak sia-sia aku membelinya mahal."

Jarinya berhenti disebuah stasiun televisi yang menayangkan acara penghargaan dokter terbaik di Korea Selatan. Acara yang sebenarnya diselenggarakan tadi malam ternyata ditayangkan ulang. Taehyung mengatukkan alis, dia merasa tertinggal informasi cukup jauh padahal baru beberapa minggu disini.

Tubuhnya ia senderkan di sofa, kaki kanannya ia angkat dan kaki kirinya menumpu betis kanan. Telapaknya mengepak-ngepak, tangan kanannya menyangga kepala. Sementara tangan kirinya memainkan remot kontrol.

"Yoongi hyung ikut tidak ya? Ah pasti dia yang menenangkan penghargaan ini. Aku sudah tahu."

"Nominasi dokter spesialis penyakit dalam terbaik tahun 2015 adalah..."

Layar televisi berubah menampilkan beberapa foto serta nama para nominator penerima penghargaan dokter spesialis penyakit dalam terbaik tahun ini. Taehyung tersenyum senang saat sesosok dokter muncul sebagai nominator pertama, Min Yoongi. Tapi Taehyung sempat kaget saat atensinya mendapati foto Seokjin di salah satu nominator.

"Bukankah Seokjin hyung tidak di Korea? Apa dia sudah pulang? Dasar Yoongi hyung, kenapa dia tidak memberitahuku?!"

Pembawa acara menyebutkan bahwa yang mendapat gelar sebagai dokter terbaik adalah Kim Seokjin. Taehyung sudah tidak heran, Seokjin memang terlalu cerdas untuk ukuran seorang dokter penyakit dalam. Ia menggeleng kagum, Seokjin adalah dokter panutannya sejak dulu.

Tok tok tok...

"Silahkan masuk"

***

Yoongi berjalan menuju ruangannya. Langkah kakinya pelan, lemas, dan tampak tak bertenaga. Pandangannya kosong, menatap kedepan tak fokus. Meski ia baru saja makan siang namun energinya seolah tak bertambah.

Sejak acara penghargaan dokter malam itu Yoongi tampak murung. Hidupnya tak bergairah lagi. Berangkat bekerjapun selalu terlambat. Saat memeriksa pasien sering tak fokus, sehingga tak jarang pasiennya protes karena kinerja Yoongi yang menurun.

Apalagi adiknya yang malah memuji Seokjin. Bukannya kakaknya sendiri, adik Yoongi justru membela dokter hebat itu. Yoongi tahu Seokjin sangat cerdas dan membanggakan, tetapi haruskah adiknya mengidolakan dia bukan dirinya?

Drrtt drrtt

"Yeoboseyo?"

"Memangnya sudah sebulan ya? Cepat sekali."

"Ne ne besok aku kesana."

Bip...

"Suster, kita masih punya berapa pasien lagi?" Tanya Yoongi pada seorang suster perempuan yang baru saja masuk ke ruangannya.

"Sudah tidak ada, dokter."

Yoongi mengernyit heran, hari masih sangat siang, biasanya dia baru selesai memeriksa sekitar jam setengah empat sore.

5 Years AgoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang