15 [Ceroboh]

1.2K 124 0
                                        

Pagi ini Jungkook terbangun dari tidurnya. Tetapi bukan sebuah kesegaran yang ia dapatkan setelah tertidur dari semalam, melainkan seluruh tubuhnya ngilu dan sakit. Beberapa kali ia mencoba bangkit dari kasurnya, tetapi rasa sakit memberhentikan aksinya.

Perlahan dia mencoba lagi dan lagi. Jungkook tak ingin paginya berakhir menyedihkan. Dia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Mengangkat badannya yang tak seberat dulu namun rasanya sangat sulit lantaran nyeri dan sakit menjalar di seluruh persendiannya.

Belum juga ia berhasil duduk, perutnya mengalihkan seluruh rasa sakit yang ia rasa. Ia merasa perutnya diaduk-aduk hebat, memutar, dan rasanya sesuatu ingin keluar dari sana.

Jungkook terhenyak, dia pegangi kuat-kuat perutnya dengan sebelah tangannya, lalu ia menopang tubuhnya dengan tangan lainnya dan mulai berdiri. Dorongan kuat dibagian perutnya mengalahkan rasa sakit yang mendera. Jungkook berlari kesetanan. Menuju ke kloset dan mulai memuntahkan seluruh isi perutnya.

Jungkook berjongkok, kedua tangannya mencengkeram kuat tepian kloset. Mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya hingga hanya cairan yang keluar. Sakitnya hebat, dia melemas sesaat setelah sudah tak ada lagi yang bisa ia keluarkan. Ia terduduk, tubuhnya bersender didinding, lalu mulai mengambil mengatur nafasnya.

Tak pernah terbayangkan olehnya, sakit yang ia rasa menguras habis isi perut dan tenaganya. Sebelumnya tak sehebat ini. Sebelumnya masih bisa ia tahan walau sulit. Tetapi semakin kesini sakit itu semakin dahsyat. Jungkook menjadi berpikir apakah ia bisa melalui ini semua?

Jungkook menangis. Sampai kapan ia akan seperti ini. Setelah berhari-hari yang lalu dia diserang diare yang tak kunjung sembuh, hari ini dia kembali mendapat serangan yang tak kalah dahsyatnya.

"Ayah... Ibu... Sakit..."

***

Taehyung memijat pelipisnya pelan. Kertas fotokopian yang ia dapat dari Hoseok tadi pagi membuat kepalanya berdenyut. Bagaimana tidak, salinan surat kematian ibu Jungkook tidak memberikan informasi apa-apa. Itu bukan surat dari puskesmas atau bidan tetapi dari sesepuh desa. Jelas saja tidak ada informasi mengenai penyakit ibu Jeon.

Dan tekanan itu datang pula dari Yoongi yang terus memaksanya untuk mencari lebih banyak lagi informasi tentang keluarga Jungkook. Taehyung tak bisa menolak, dia masih dibawah kendali Yoongi selaku sunbae yang otoriter.

Taehyung menenangkan hatinya seraya berpikir. Tiba-tiba dia teringat Hoseok pernah bilang jika ibu Jeon sempat akan dibawa ke puskesmas desa seberang, puskesmas satu-satunya yang berada dekat desa. Secara tidak langsung hanya ada bidan dari sana yang bisa mengecek kondisi kesehatan ibu hamil di desa ini dan sekitarnya.

Mata Taehyung berbinar ceria. Sebuah titik terang bisa ia dapatkan sekejab mata saja. Segera Taehyung beranjak dari duduknya dan mulai mengemasi beberapa barang ke dalam tas. Dia berniat berkunjung ke puskesmas desa seberang hari ini juga.

Taehyung sudah bersiap, kini ia berjalan menuju danau. Disana ia menemukan perahu yang menjadi alat transportasi ke desa itu. Taehyung pun menaikinya.

Sempat memakan beberapa menit di atas perahu kayu sederhana, Taehyung pun sampai. Dia berjalan kaki lagi untuk sampai ke puskesmas. Bersama rombongan warga lain yang juga memiliki kepentingan di desa yang sama.

Sepanjang perjalanan, Taehyung menggali informasi lagi kepada warga yang berjalan bersamanya. Dia tak segan mewawancarainya. Beruntungnya para warga tak keberatan. Mereka justru sangat antusias sekali.

Tak lama Taehyung sampai di puskesmas itu. Hal pertama yang ia lihat dari bangunan tua ini adalah sepi. Dindingnya terlihat usang, atapnya banyak yang bolong. Tulisan didepan puskesmas sudah banyak yang lepas dan beberapa berkarat. Halamannya pun ditumbuhi rerumputan yang menjulang tinggi. Tidak mencerminkan tempat kesehatan yang layak.

5 Years AgoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang