Pagi ini Taehyung akan kembali ke rumah sakit. Dia hendak mengambil hasil tes laboratorium yang sudah keluar dini hari tadi. Perasaannya dag dig dug, jantungnya berdegup kencang. Meski Jungkook bukanlah siapa-siapanya tetapi ia tak bisa memungkiri jika bocah itu telah membuatnya lepas dari kemalasan.
Seperti biasa, Taehyung tak akan sendirian, dia bersama Yoongi seraya Yoongi berangkat bekerja. Yoongi menatap Taehyung yang terlihat gelisah, duduknya tak tenang, pantatnya bergesek-gesek beberapa kali mencari tempat ternyaman.
"Wae?" Tanya Yoongi singkat. Taehyung langsung tersadar.
"Aku gugup."
"Kenapa harus gugup?"
"Firasatku tidak enak, hyung." Yoongi kembali menatap Taehyung disebelahnya. Laju mobilnya ia pelankan untuk memberi sedikit kenyamanan pada Taehyung.
"Karena Jungkook? Tae, Jungkook pasti akan baik-baik saja. Jangan berpikir negatif dulu sebelum hasilnya keluar."
Tangan kanan Yoongi meraih bahu Taehyung. Mengelusnya lembut.
Yoongi memang sudah menceritakan semuanya pada Taehyung, tentang Jungkook lima tahun yang lalu. Dia anak yang selalu memberi semangat pada mereka bertiga. Tak jarang Jungkook dan kakeknya memberi beberapa sayuran dan ubi dari kebun untuk mereka makan. Sehingga ketiga dokter muda itu tak pernah kekurangan makanan.
Sama seperti Seokjin, Yoongi pun sangat menyayangi Jungkook. Adik kecil itu tak pernah lepas dari memorinya jika itu menyangkut lima tahun yang lalu. Meski ia tak betah disana, Yoongi selalu tersenyum saat Jungkook bercanda dengannya dan melupakan sejenak beban pikirannya.
Taehyung pun sekarang sangat mempedulikan pasiennya itu. Jungkook yang awalnya hanya dianggapnya pasien, sekarang dia sudah menempati ruang di hati Taehyung. Taehyung tak memungkiri jika dirinya sekarang sangat khawatir akan kondisi Jungkook. Jungkook bukanlah pasien biasa, dia luar biasa. Dia istimewa karena berhasil mengalihkan hati Seokjin, Yoongi, dan Jimin, dan sekarang dirinya lah yang terlaihkan perhatiannya pada bocah remaja itu.
.
.
.
.
.
.
"Tes antigen dan viral load menunjukkan bahwa tubuh Jungkook telah terinfeksi virus HIV. Kadar sel CA4 nya berada di angka 274 sel per milimeter kubik darah."
Mendengar hasil laboratorium Jungkook dari mulut Namjoon, seketika hati Taehyung dan Yoongi remuk, jantungnya berdentum keras, serta nafasnya sesak. Taehyung menggeleng tak percaya, pasiennya tengah mengidap penyakit berbahaya itu. Yoongi sampai tak habis pikir jika adik kecilnya dulu ternyata tak sesehat dulu.
"K-kau pasti salah, hyung. Lakukan sekali lagi, aku yakin hasil itu salah." Taehyung tak berhenti memaksa. Matanya sudah berkaca-kaca hendak menangis. Dia menyangkal seluruh hasil tes laboratorium Jungkook. Yang jelas-jelas sudah terbaca jika Jungkook terinfeksi HIV.
"Maaf Taehyung-ah. Tapi ini memang benar. Dia terinfeksi virus HIV. Dan jangan sampai kau kecolongan hingga AIDS masuk kedalam tubuhnya." Jelas Namjoon mengingatkan. Dia pun sebenarnya tak ingin menganggap hasil tes darah ini benar, bagaimana pun pasien Taehyung adalah adik kesayangan Seokjin.
"Tidak, hyung. Kau pasti keliru. Jungkook hanya demam, tidak lebih." Taehyung terus berontak. Yoongi yang duduk di sampingnya terus mengelus bahu Taehyung untuk menenangkannya.
"Sudah, Taehyung-ah. Ini sudah jelas."
"Sebaiknya sebagai dokter yang baik kau harus bisa merawat pasienmu itu dengan sepenuh hati. Korbankan seluruh tenaga dan pikiranmu. Abdikan diri sepenuhnya untuk pasienmu."
Taehyung dan Yoongi pun keluar dari ruangan Namjoon. Dengan wajah yang kusut, lusuh, tak memiliki gairah lagi. Yoongi menatap Taehyung yang sepertinya masih tak percaya dengan hasil lab nya.
"Sudah, Tae. Ingat kata Namjoon hyung. Kau harus mengabdikan diri demi pasienmu. Apalagi dia Jungkook, aku pasti akan membantumu."
Amplop di genggaman Taehyung terlihat kusut karena Taehyung merematnya kuat sedari tadi. Mereka pun memutuskan untuk pulang,
Yoongi meminta izin untuk menemani Taehyung kembali ke desa. Yoongi tahu kondisi Taehyung sedang tidak baik, jika ia tetap membiarkan Taehyung pergi sendiri, ia tak tega. Lebih baik Yoongi meluangkan waktu sehari untuk menemui Taehyung daripada harus merasa khawatir terhadapnya.
Bruk
"Maaf" Seseorang yang baru saja menabrak tubuh limbung Taehyung itu membungkuk. Seraya mengambil secarik amplop yang tak sengaja ia jatuhkan.
Yoongi segera merebut amplop itu dari tangannya. Yoongi sadar namja yang baru saja menabrak Taehyung adalah Seokjin.
"Eh tidak apa-apa. Seokjin hyung?" Taehyung pun membalas bungkukan Seokjin saat ia sadar siapa yang sudah menabraknya.
"Oh, Taehyung. Apa hasilnya sudah keluar?" Tanya Seokjin. Netranya menatap amplop putih yang digenggam Yoongi.
"I-iya hyung."
"Bagaimana?" Taehyung hanya diam menunduk. Dia kembali teringat wajah Jungkook yang ternyata adik kesayangan Seokjin.
"Haruskah aku mengatakannya? Bagaimana reaksi Seokjin hyung saat tahu adiknya sakit parah?" Taehyung menimbang-nimbang jawaban apa yang akan ia berikan.
"Tidak terjadi apa-apa. Pasiennya sehat, hanya kesalahan diagnosa." Jawab Yoongi cepat seraya menyembunyikan amplop putih dari balik tubuhnya. Ia baru sadar Seokjin memperhatikan amplopnya.
"Ah syukurlah. Yasudah aku kembali ke ruanganku dulu. Kau mau mampir?"
"Tidak hyung. Aku akan kembali ke desa sekarang."
Yoongi menghela nafas lega sesaat setelah Seokjin pergi.
"Kenapa kau tak mengatakannya, hyung?" Tanya Taehyung heran. Taehyung tahu Jungkook adalah adik kesayangan Seokjin, tetapi mengapa informasi sepenting ini tidak Yoongi beri tahu pada Seokjin?
Yoongi hanya menarik sudut bibirnya keatas. Lalu melenggang pergi diikuti Taehyung.
Yoongi tak ingin Seokjin tahu jika pasien yang dimaksud adalah Jungkook. Dan ia pun tak ingin Seokjin tahu jika Jungkook terinfeksi HIV. Biarlah hanya dia, Taehyung, dan Namjoon yang tahu tentang semua ini. Dia bahkan mengunci mulut Namjoon untuk tidak membocorkannya pada orang lain terutama Seokjin. Namjoon hanya mengangguk, toh dia tak begitu kenal sosok Jungkook selain dari cerita Seokjin dulu.
.
.
.
Flashback End
***
Hati Taehyung seakan remuk berkeping-keping saat ingatan itu datang kembali. Bagaimana ia bisa mengatakannya pada Jungkook maupun Hoseok nanti? Bagaimana caranya memulai pembicaraan agar mengurangi beban kesedihan dihati mereka? Taehyung putus asa. Dia tak tahu lagi harus bagaimana.
Sifat kekanak-kanakan Jungkook terngiang dibenak Taehyung. Wajah imutnya dan eye smile nya pun ikut menghiasi lamunannya. Membuat bibir Taehyung melengkung keatas.
Namun sekelebat gambaran infeksi HIV timbul sesaat setelah bayangan itu hilang. Dia takut, dia tak habis pikir. Taehyung tak menyangka bagaimana Jungkook bisa memiliki penyakit itu. Bagaimana virus mematikan itu masuk dan menggerogoti tubuh kecilnya. Dari mana asalnya? Jika ia tahu siapa yang berani menularkan virus pada Jungkook, maka Taehyung tak segan-segan untuk melenyapkannya.
"Beraninya orang itu menularkan virus pada adik Seokjin hyung? Siapapun kamu, aku tak akan melepaskanmu!"
Taehyung sudah bertekad, siapapun orang yang berani membuat Jungkook menderita, maka dia akan menyingkirkannya dari muka bumi ini. Adik kesayangan Seokjin hyung tak boleh menderita, dia harus bahagia. Seokjin hyung pasti akan sedih saat tahu Jungkook sakit seperti ini. Dan Taehyung tak ingin dokter idolanya sedih.
Taehyung meneguk tetesan terakhir wine miliknya lalu melenggang masuk. Mengunci rumah tua itu dan memadamkan lampu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years Ago
FanfictionTiga dokter muda tengah mengabdi disebuah desa terpencil, terdalam, dan terpelosok jauh di daerah Busan dekat pegunungan. Mereka adalah Kim Seokjin, Min Yoongi, dan Park Jimin. Mereka tak menyangka berkat pengabdian mereka disana menjadi sebuah benc...
