Yoongi tengah duduk di ruangannya di kliniknya yang baru . Klinik yang berdiri kurang lebih setahunini rutin ia kunjungi setiap bulan. Dia selalu rajin mengontrol tempat usaha yang diberikan ayahnya. Karena dia tak ingin ayahnya kecewa.
Tok tok
Ketukan pintu mengalihkan atensi Yoongi.
"Masuk" Seru Yoongi dari dalam ruangan. Pintu pun berdecit. Menampakkan wujud seorang dokter dengan APD lengkap. Tak lupa kacamata dan surainya yang disibak ke samping.
"Anyeonghaseyo Dokter Min." Sapa dokter itu dengan ramah. Ia berjalan menghampiri meja Yoongi.
"Anyeonghaseyo. Silahkan duduk" Seru Yoongi dengan mengisyaratkan tangan kanannya untuk mempersilahkannya duduk. Dokter Tan segera melaksanakan perintah kepala klinik tersebut. Ditumpakinya kursi empuk berhadapan dengan Yoongi seraya menyodorkan secarik stop map.
"Ini laporannya, dokter." Dokter Min segera menelitinya. Membolak balikkan kertas-kertas didalam amplop sekilas, tanpa benar-benar membacanya.
"Pasien rawat inapnya sisa berapa?" Tanya Yoongi datar sesaat setelah menutup berkas.
"Pasien rawat inap kita tinggal tiga dokter. Dua baru masuk hari ini, dan satu sudah lima hari disini." Jawab dokter Tan agak ragu di kalimat akhir.
Yoongi mengernyit, mengatukkan kedua alisnya.
"Sudah lima hari, apakah sudah ada rencana kapan dia akan pindah?" Maksud Yoongi adalah pasien yang sudah dirawat lima hari disini. Karena sebuah klinik tak mungkin boleh merawat inap pasien lebih dari lima hari.
"Belum dokter. Saya bingung, pasien belum juga sadar. Sementara pihak keluarga tidak memiliki cukup biaya untuk merujuknya ke rumah sakit."
"Dia punya jaminan kesehatan?" Dokter Tan menggeleng. Yoongi menghela nafas kasar. Tubuhnya ia hentakkan ke bahu kursi.
"Nomor berapa kamarnya?"
***
Yoongi berjalan menuju kamar nomor satu, kamar pasien yang dimaksud dokter Tan. Dia didampingi dokter Tan untuk menemui pasiennya. Rencananya Yoongi akan memindah paksa mereka ke rumah sakit, tapi jika mereka tetap tidak punya biaya dengan terpaksa Yoongi akan memulangkan kerumah tanpa perawatan.
Yoongi bisa dibilang kejam. Tapi dia adalah orang yang taat peraturan. Di sebuah klinik tak boleh ada pasien rawat inap yang melebihi lima hari jika tidak mau kliniknya diinterogasi.
Apa boleh buat, kliniknya masih baru. Tak mungkin Yoongi menjerumuskan usahanya sendiri dengan tetap menahan pasien. Bisa-bisa tempat usahanya ditangguhkan beroperasi.
Sesampainya di depan pintu kamar yang dimaksud, Yoongi perlahan membuka kenopnya. Sementara dokter Tan dibelakang hanya mengekor.
Ceklek...
Decitan pintu kamar mengalihkan atensi seorang namja yang tengah duduk membelakangi pintu. Dia menoleh dan mendapati sesosok makhluk yang tak asing baginya.
Yoongi terbelalak, saat netranya menangkap tubuh Jungkook terbaring dan Hoseok yang hanya mematung memandanginya. Pikirannya blank entah kemana. Hanya bingung dan penuh tanya yang berkecamuk dalam otaknya.
"Dokter Yoongi?" Tanya Hoseok kaget dibarengi tubuhnya yang berdiri.
"K-kau? Hoseok-ssi, a-apa yang terjadi?" Lidah Yoongi kelu. Dia terbata hanya untuk bertanya keadaan Jungkook.
Tatapan Hoseok berubah menajam. Dieratkannya kedua tangannya hingga tulang-tulangnya terlihat. Deru nafasnya jelas, menandakan Hoseok menahan amarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years Ago
FanfictionTiga dokter muda tengah mengabdi disebuah desa terpencil, terdalam, dan terpelosok jauh di daerah Busan dekat pegunungan. Mereka adalah Kim Seokjin, Min Yoongi, dan Park Jimin. Mereka tak menyangka berkat pengabdian mereka disana menjadi sebuah benc...
