Jimin dan Yoongi tengah berada di sebuah cafe dekat rumah mereka. Jimin memenuhi panggilan telepon Yoongi tadi malam. Yoongi meminta Jimin untuk menemuinya guna membicarakan satu hal yang akan sangat mengejutkan Jimin.
Jimin awalnya tak mau. Dia adalah orang yang sangat malas untuk membahas perihal pekerjaan. Tetapi Yoongi tegaskan dirinya tak akan membahas pekerjaan, akan tetapi Yoongi akan mengatakan sesuatu terkait bocah kecil yang mereka kenal lima tahun lalu.
Dan juga karena Seokjin mengajaknya ke desa itu. Jimin jelas tidak mau. Dia mencari alasan dan kebetulan Yoongi mengajaknya bertemu. Mau tak mau Jimin pun memilih pergi bersama Yoongi daripada harus pergi bersama Seokjin.
"Ada apa si hyung? Kau merusak akhir pekanku tau." Keluh Jimin mempoutkan bibirnya lalu menyeruput espresso dihadapannya.
Yoongi masih menatap wajah Jimin. Mata sipitnya menunggu Jimin memperhatikannya.
"Mwo? Berhenti menatapku seperti itu."
Yoongi menatap wajah Jimin yang terlihat lelah serta kantung matanya membengkak. Sedikit ada bau wine saat Jimin berbicara padanya.
"Astaga Jim Jim... Aku tak habis pikir ya, semalam kau minum lagi kan?"
Jimin langsung menyembunyikan wajahnya dibalik jaket. Yoongi tak boleh tahu kebiasaan Jimin sejak lima tahun lalu yang ia tiru dari Yoongi. Tetapi sayangnya Jimin justru lebih giat melakukannya. Sementara sang pencetus Yoongi sedikit bertobat.
"Ada apa? Apa yang tengah membebani pikiranmu?" Tanya Yoongi pada Jimin yang masih meringkukkan wajahnya dibalik jaket coklatnya.
Jimin menggeleng. Namun Yoongi tak akan percaya. Yoongi paham jimin akan minum saat pikirannya putek.
"Yasudah kalau tidak mau cerita. Aku sekarang yang akan cerita."
Yoongi mengambil seberkas dokumen dari tas nya. Hasil laboratorium Jungkook yang ia copy dari Taehyung. Yoongi lalu menghentakkan selembar tes darah itu didepan meja Jimin. Jimin pun menampakkan wajahnya dari persembunyiannya.
"Ini - apa maksudmu?" Jimin belum paham apa maksud Yoongi menyodorkan kertas itu padanya.
"Baca saja. Kau akan tahu sendiri."
Jimin meraihnya dan mulai membaca hasil diagnosanya. Tak lupa ia membaca nama pasiennya.
Jimin lalu menatap mata Yoongi yang juga tengah menatapnya. Pandangan mereka bertemu saat Jimin sudah menemukan maksud Yoongi.
Yoongi mengangguk pelan dengan tangan dilipat didepan dada. Seakan tahu apa maksud tatapan jimin padanya.
Jimin langsung membekap mulutnya. Dia bingung. Bola matanya mulai bergerak resah. Jimin tak percaya akan hal ini.
"Jim, dia sakit. Dan aku tidak terima."
Jimin menatap Yoongi lagi. Ekspresinya seakan bertanya pada Yoongi apa yang harus mereka lakukan.
"Kita harus bantu dia. Bagaimanapun Jungkook pernah ada saat kita disana." Lanjutnya.
Jimin mengangguk mantab. Bagaimanapun Jungkook adalah anak yang bisa membuat Jimin sedikit betah disana. Dengan celotehan dan tingkah polosnya Jungkook membuat Jimin melupakan beban yang ia bawa dipundak. Pikiran dan hatinya yang resah akan hilang saat keberadaan Jungkook disekitar mereka.
"Aku penasaran hyung. Virus tak bisa singgah jika tidak ada perantara. Tidak mungkin Jungkook melakukan itu kan? Dia masih bocah. Meskipun dia polos tapi dia paham pentingnya kesehatan." Ujar Jimin seraya memandangi kata demi kata yang tercetak di kertas yang ia genggam. Yoongi paham maksud perkataan Jimin. Bagaimanapun Jimin lebih mesum darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years Ago
FanfictionTiga dokter muda tengah mengabdi disebuah desa terpencil, terdalam, dan terpelosok jauh di daerah Busan dekat pegunungan. Mereka adalah Kim Seokjin, Min Yoongi, dan Park Jimin. Mereka tak menyangka berkat pengabdian mereka disana menjadi sebuah benc...
