10 [Jangan Menghindar, Jungkook-ah]

1.6K 139 0
                                        

Dini hari ini Seokjin masih terjaga. Pikirannya tak bisa ia alihkan dari namja kecil bernama Jeon Jungkook. Entah apa yang sudah Seokjin lakukan, dia tiba-tiba teringat adik kecilnya itu.

"Aku pasti sangat merindukannya."

Seokjin memang rindu, rindu yang teramat dalam pada sosok Jungkook kecil. Dia teringat masa-masa dia di desa Jungkook. Dia teringat bagaimana Jungkook menghiburnya dan membawakan bahan makanan untuknya. Jungkook adalah anak terbaik yang pernah ia temui di muka bumi ini. Tak heran mengapa Seokjin menganggapnya lebih dari apapun. Dia adalah adik kecilnya yang ia temui saat sudah sebesar ini. Terlahir dari rahim yang berbeda namun seolah memiliki ikatan batin yang erat.

Seokjin tak menafikkan, sekarang pun ia tengah merasakan hal aneh didirinya. Resah, gelisah, kacau, galau, semuanya melebur menjadi satu ditambah rindu yang menggebu. Seokjin tak sanggup menahannya lagi. Dia bisa saja kehilangan akal sehatnya hanya karena tak bertemu dengan Jungkook, adik istimewanya.
.
.
.
.
Dan pagi ini, Seokjin akan menghabiskan akhir pekannya di sebuah desa yang sudah sangat ia kenali. Ia akan pergi sendiri karena Jimin dan Yoongi mempunyai urusan masing-masing.

Meskipun sendiri, Seokjin sangat bersemangat. Karena sebentar lagi dia akan melepas rindu yang amat sangat ia pendam dari dulu. Memecah bongkahan rindu itu yang membelenggunya selama lima tahun. Dan dia yakin, Jungkook pun sama.

Kurang lebih lima jam lamanya Seokjin bisa tiba di perkampungan ini. Suasananya sedikit berbeda saat kakinya pertama kali menapak di tanah subur ini. Ada banyak rumah yang sudah berdiri di kebun yang dulu masih kosong. Bangunannya sudah jauh berbeda dengan rumah yang lama. Sudah banyak lahan yang siap untuk dipanen. Tebing disamping pun sudah sangat lebat dipenuhi alang-alang.

Namun masih banyak yang belum berubah. Udara yang sejuk masih terasa di kulit. Kicauan burung dan suara gemericik air sungai masih terdengar asri. Keramahan masyarakat masih terlihat begitu ia berjalan kaki menyusuri jalanan yang masih belum diaspal.

Beberapa warga masih mengenalinya, namun lupa akan namanya. Begitupula dengan Seokjin yang bahkan lupa nama dan wajah. Sepanjang perjalanan Seokjin selalu ditegur sapa oleh penduduk sekitar. Tak jarang yang berlari pulang hanya untuk mengambil beberapa makanan untuk Seokjin. Karena mereka tahu Seokjin dokter yang pernah membantu kesehatan warga disini. Dan juga dokter yang terkenal baik.

Seokjin kembali berjalan menuju rumah tua di tepi tebing. Ia masih hafal jalan menuju kesana meski sekarang pemandangan sekitar agak berbeda karena rumah baru berdiri disana sini. Langkahnya memelan saat didapatinya rumah yang dulu selalu ia kunjungi itu terpampang nyata didepan matanya. Rumah tua dengan dinding terkelupas, cat yang memudar karena tak pernah diganti oleh pemiliknya, dan lantai tegel kuning yang banyak mencuat melepas diri dari semen yang menyangga.

Seokjin tersenyum, namun air matanya mengalir. Rasa rindu kian bertambah. Gejolak di dadanya ingin segera terlepaskan. Apalagi saat netranya memandang genteng atap rumah tua itu, dia dulu pernah menggantikannya untuk kakek karena bocor. Dan nyatanya sampai sekarang ganteng itu masih bertengger disana.

"Makannya kalau lagi manjat tangga jangan banyak gerak."

"Kan hyung tadi memanggilku. Aku jadi tidak fokus lagi kan?"

"Astaga banyak alasan ya, yasudah mana gentengnya? Biar hyung yang pasangkan."

Ingatan itu masih ada dan tertata rapi di benak Seokjin. Kata demi kata disetiap dialog masih ia ingat dengan jelas. Wajah imut Jungkook kecil masih ada dibayangannya. Bagaimana kakek Jeon memarahi cucunya dan dia merajuk sungguh itu masih tersisa. Bagaimana Jungkook ketakutan dan memohon agar kakek melepaskan jewerannya, ia ingat itu dan merindukan suara rengekannya.

5 Years AgoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang