Nursam memberikan kepercayaan kepada Yati untuk mengurus pekerjaan rumah dan membantu suaminya bekerja di kedai. Bahkan saat Rukiman pergi ke kota maka Yati berperan sendirian di rumah itu dan menjaga kedai.
"Apa kau bisa, Yati? Kau sanggup sendiran menghendelnya?"
"Sanggup Nyonya. Percayakan kepada saya! Pokoknya, Nyonya tidak usah berpikir apapun. Semua beres."
"Aku bersyukur kamu ada, Yati." Nursam menghela napas.
"Semenjak ada kamu, aura jahat di rumah ini ..."
"Aura jahat?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa." Nursam tak mau menceritakan hal-hal mistis di rumah itu kepada pembantunya. Ia tak mau jika Yati takut dan pergi dari rumahnya. Apalagi semenjak ada Yati, hantu kuntilanak yang sering ia lihat sudah takada. Bahkan hanya bayangan-bayangan melintas seperti biasanya.
Nursam merasa Yati membawa keberuntungan di rumahnya. Ia tak mau jika pembantunya itu sampai pergi lagi.
"Nyonya seperti menyembunyikan sesuatu, ada apa, Nya?"
"Ah, sudahlah, Yati. Pokoknya kamu hati-hati. Tolong jaga Mas Kim... eh, Mas Tomi." Hampir sama ia kecoplosan menyebut nama asli suaminya.
Kapankah, penyamaran ini berakhir? Batin Nursam.
"Baik, Nyonya. Mari saya bantu berkemas!"
Senanglah hati Nursam malam itu, hampir-hampir ia takdapat tidur membayangkan keberangkatannya besok hari bersama Yudi. Dibayangkannya pertemuan lama dengan kedua orang tuanya, adik kembarnya. Suasana kampung kelahirannya tentu banyak berubah setelah lima tahun tidak dipijak.
Sementara Yudi pun telah mendapat izin dari istrinya. Disiapkanlah bekal oleh istrinya yang baru saja melahirkan seminggu.
"Bekal pakaian tidak usah banyak-banyak, Ma, Tuan Tomi hanya mengizinkan Nyonya beberapa hari saja pulang kampung," kata Yudi kepada istrinya yang tengah melipat beberapa pakaian ke dalam ranselnya.
Demikianlah ia tak tahu jika majikannya itu bernama Rukiman dan nyonyanya bernama Nursam. Selama ini, ia hanya tahu bahwa majikannya itu suami istri bernama Tomi dan Nurul.
Selain ketidaktahuannya tentang data diri majikan sebenarnya, ia pun juga tak tahu apa yang ada di benak teman sepekerjanya, jangankan ia, bahkan Nursam pun tak tahu.
Yati membelai rambutnya di depan cermin. Dirabanya wajahnya, tampak kusam. Ia mengambil alat riasnya di dalam tasnya. Selama menjadi pekerja di rumah itu, tak pernah ia bersolek lagi. Padahal dahulu ia terkenal sebagai wanita yang memiki daya tarik luar biasa. Cantik mungkin masih kalah dengan Nursam, namun bodi yang aduhai dan suaranya yang serak-serak basah membuat para lelaki terpincut kala melihatnya.
Sebelum langkah kakinya membawa ke Ulin, ia pernah menjadi biduan di orkestra milik seorang juragan. Perkara diusir paksa oleh Paman dan keluarganya adalah cerita bohong belaka. Justru Paman dan keluarganya tak mengizinkan ia menyanyi karena tidak mau jika rumah tangganya berantakan. Ia ketahuan berselingkuh dengan majikan orkestranya sendiri. Kerap kali ia membohongi suaminya.
Singkat cerita, saat suaminya mengetahui perselingkuhannya itu, maka ia dicerai. Istri juragan orkestra yang mengetahui hal itu tak kalah geram, ia meminta paman dan keluarga Yati untuk mengusir Yati atau jika tidak ia akan melaporkan ke pihak berwajib. Itulah sebabnya ia harus pergi dari kampungnya sendiri.
Yudi adalah mantan pacarnya dahulu waktu sama-sama bekerja di pabrik es batu. Berkat mantannya itulah kini ia dapat peroleh pekerjaan.
Namun, selama ia bekerja, tak pernah ia menunjukkan siapa dirinya? Pakaiannya biasa saja, hanya berdaster panjang pemberian dari Nursam. Rambutnya selalu dikepang dua. Wajahnya tak pernah ia rias.
Malam itu, ia kembali merias wajahnya. Tersungging senyumnya. Bibir penuhnya merekah sehabis ia olesi dengan lipstik merah dan dilapis lipglos. Wajahnya merona dengan ditaburi bedak padat lalu diberi blush sedikit. Dikenakannya baju blouse berkancing bagian dadanya. Dibukanya kancing sekira payudaranya yang besar tampak menyembul.
Yati membuka sebuah kotak kecil di sampingnya. Kotak itu berisi sebuah minyak parfum. Bukan parfum biasa melainkan minyak pelet. Dioleskannya ke leher, bawah telinganya, dan pergelangan tangannya.
Kira-kira sudah tengah malam, Nursam terlelap sementara Rukiman tersedak bangun dari tidurnya. Ia meraba gelas di nakasnya, namun kosong. Dilihatnya istrinya telah terlelap, ia pun terpaksa beranjak ke dapur untuk mengambil air minum sendiri.
Ketika ia sampai dapur, ia terperanjat, hampir saja ia menjatuhkan gelasnya.
Bersambung...
***
Kenapa Rukiman terperanjat? Melihat sosok aneh atau Yati? Huhuhu, jangan lupa vote, ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
KARINDANGAN
General Fiction~Wattys Winner 2021 Kategori Horror~ Nursam hampir bunuh diri dengan apa yang menimpa dirinya. Ia sungguh tak menyangka jika suami yang sangat dicintainya ternyata menipunya belaka. Dia dipelet dan keempat anaknya meninggal tak wajar. The Best Rank...
