EXTRA PART 4

2.9K 390 40
                                        

Tibalah hari yang sudah ditentukan, Hermansun akan segera berangkat ke Ulin. Sebelum berangkat ia lebih dulu menemui Mbah Sutah.

"Saya berangkat, Mbah. Tolong Mbah bantu saya dari sini."

"Tidak, Herman." Hermansun mengernyit tak mengerti ucapan gurunya itu.

"Sepertinya aku harus ikut denganmu."

Mbah Sutah masuk ke dalam mengambil tasnya. Hermansun terheran-heran kenapa gurunya itu plin-plan. Kemarin katanya, hanya ia sendiri yang berangkat. Kenapa sekarang berubah pikiran?

Apa jangan-jangan dia juga mau sama Bilqis?

"Kenapa Mbah tiba-tiba mau ikut, ya?"

"Sudah jangan banyak tanya! Mau dibantu tidak?"

"Ya, iyalah, Mbah. Gimana, sih?"

"Ya, makanya. Nih, bawakan tasku!" Mbah Sutah menyodorkan tasnya sehinga Hermansun terpaksa menyambutnya. Mbah Sutah yang bungkuk, berjalan dengan tongkatnya lebih dulu. Hermansun yang kesal, meninjukan genggamnya seolah meninju pantat Mbah Sutah.

"Aku melihatmu, Hermansun!" Lekas Hermansun menyembunyikan tangannya lalu menyusul Mbah Sutah yang sudah cukup jauh.

Sementara di Ulin, Daud belum mendapatkan speed boat yang berangkat ke Gandang. Sudah berapa kali ia menghubungi kenalannya. Kata temannya, saat musim gelombang besar, banyak speed boat dan kapal enggan beroperasi melintasi laut lepas. Terlalu berbahaya.

"Jadi, gimana Mas?" ujar Yudi kala ia diberi tahu Daud.

"Saya belum tau, Mas Yud. Tapi katanya ada satu speed boat dari Gandang mengantar penumpang ke sini, supirnya terkenal berani melawan badai bahkan mendapatkan julukan anak badai."

"Oh, maksud Mas Daud, kita akan ikut dengannya saat speed boat anak badai itu balik haluan?"

"Kalau kau setuju."

"Saya selalu setuju."

"Baiklah kalau begitu, setidaknya besok atau lusa, Insyaallah kita berangkat."

"Baiklah, Mas. Oyah, silakan makan dulu bubur mutiaranya. Bilqis adik saya yang membuatnya. Sontak wajah Daud merah merona.

Di saat Daud dan Yudi sedang menikmati bubur mutiara buatan Bilqis yang lezat itu, Mbah Sutah dan Hermansun bak meregang nyawa di tengah laut. Mereka berteriak sejadi-jadinya.

"Aaaaaaaa, Mbaaaahhh, matiii kitaaa" Hermasun berteriak sekencang-kencangnya berpegangan di speed boat lantaran ombak besar mengombang-ambing speed boat tersebut. Kadang miring ke kanan, kadang kekiri. Supirnya hanya menggeleng menengok dua penumpangnya di belakang. Lantaran ia sudah terbiasa melewati ombak besar. Terkenal sebagai anak badai. Ia santai saja sambil ngudut rokok eletriknya.

Sementara Mbah Sutah, komat-kamit mulutnya memanggil jin buayanya untuk membantu meredakan ombak tapi belum selesai ia membaca manteranya, jenggot panjangnya ditarik Hermansun.

"Buangsaaattt!!" Sebenarnya ia hendak memanggil buaya tapi malah salah ucap. Supirnya semakin geleng-geleng. Kesal juga sebenarnya mendapatkan penumpang super reweuh.

Mbah Sutah yang kesakitan menggigit tangan Hermansun. Barulah muridnya itu sadar kalau yang dipeganginya itu jenggot Mbah Sutah sampai rontok. Kemudian, Mbah Sutah memukul kepala Hermansun hingga pingsan. Terselonjorlah Hermansun tiada berdaya lagi.

Kurang lebih setengah jam, speed boat sudah melewati badai. Akhirnya, tiba juga memasuki sungai panjang. Speed boat sudah tidak oleng lagi. Hermansun masih pingsan dan menjadi pijakan Mbah Sutah.

KARINDANGAN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang