Pernikahan Rukiman dan Yati terjadi. Mereka menyembunyikan pernikahannya dari orang-orang. Namun, orang-orang mulai curiga kenapa Rukiman memperlakukan babunya itu sedemikian spesialnya.
Setahu warga, Yati bertugas melayani pembeli dan Rukiman yang duduk di kasir. Tetapi, keadaan telah sebaliknya.
Orang-orang kampung menduga, jangan-jangan Rukiman sudah main serong saat istrinya takada, apalagi mereka serumah. Gosip pun semakin simpang siur.
Pagi-pagi seorang wanita berbelanja ke kedai Rukiman. Wanita itu adalah Ningsih, orang yang pernah sinis memandang Yati saat pertama kali datang ke kedai.
"Mau beli apa, Bu Ningsih?" ujar Rukiman.
"Beras tiga kilo," ujarnya sembari melirik ke arah Yati yang duduk di kasir. Tampak Yati sibuk mewarnai kukunya. Baju Yati juga terlihat berbeda, dulu hanya berdaster kini sudah memakai dress sexy.
"Ini, Bu." Rukiman menyerahkan beras yang sudah di dalam keresek hitam. Wanita itu pun menyerahkan uangnya lima puluh ribuan. Cepat Rukiman memberikan uang itu kelada Yati sambil mengatakan kembaliannya. Agak lamban Yati menghitung kembaliannya. Mungkin maksud hatinya ingin balas dendam karena Ningsih pernah memandang rendah dirinya sampai mengatakan ia maling berkedok pengemis waktu itu.
Ningsih sedikit kesal dengan pelayanan Yati yang sangat lamban. Berbeda jauh dengan cara Nursam yang begitu ramah tamah kepada pembeli.
Setelah pulang dari kedai Rukiman, ia tak langsung pulang melainkan singgah sebentar ke rumah Yudi. Dilihatnya dari kejauhan istri Yudi–keponakannya–itu tengah menjemur pakaian bayinya di plataran rumah.
"Kapan Yudi pulang?"
"Mungkin dua tiga hari lagi, Bi. Kenapa?" Sumi balik bertanya karena melihat wajah bibinya seperti ada yang dipikirkan.
"Kasihan," ujarnya geleng-geleng.
"Kasihan apanya, Bi?"
"Si Nurul, suaminya itu lho, kabarnya ndak enak banget."
"Kenapa memangnya?"
"Katanya dia main serong dengan pembantunya itu." Bibirnya mencibir seolah jijik.
"Si Yati?"
"Itu kamu tahu."
"Ya, aku tahu karena Mas Yudi yang bilang, bahkan dia sendiri yang menyarankan Mbak Yati bekerja di sana."
"Jadi Yudi yang menyuruh wanita itu ke sana. Pantesan ... aku, dah curiga dari awal pas lihat perempuan itu, aku seperti pernah melihatnya. Sepulang dari kedai, barulah aku ingat."
"Ingat apa?"
"Yati itu dulu mantannya Yudi."
"Hah, masa sih?"
"Makanya itu kamu kudu hati-hati! Jaga suamimu baik-baik. Kau tahu, orang-orang gempar dengan kabar bahwa pembantu itu sudah main serong saat nyonyanya takada. Kasihan Nurul." Nurul yang dimaksud adalah Nursam.
***
Pukul delapan pagi, kapal merapat di dermaga. Menetes air mata Nursam ketika menginjakkan kakinya di pelabuhan. Tak terbayang baginya, apakah ia masih bisa kembali? Apakah tanggapan orang-orang ketika mengetahui kepulangannya? Namun, itu tidak penting baginya, keridhaan orang tuanya menerima kembali dirinya yang terpenting.
Dari pelabuhan menuju rumahnya kurang lebih tiga kilometer, ia pun memesan delman. Masuklah ia dan Yudi. Dengan sangat lancar ia menjelaskan kepada Yudi tentang kampung kelahirannya yang tak berubah sama sekali itu.Yudi pun mangguk-mangguk tersenyum senang, dapat pula ia pengalaman memijak kampung orang, terlebih kampung majikannya sendiri.
"Coba kau lihat itu, Yudi!" Nursam menunjuk ke arah para petani di pinggir jalan.
"Mayoritas di sini pekerjaan petani, kalau nda nanam padi, ya nyadap karet seperti itu." Yudi hanya mangguk-mangguk sambil berkata, "Oh."
"Jalan di sini, ya gini, masih bebatuan dan pinggir jalan kebanyakan kebun karet, kalau enggak, ya, hutan." Mereka pun terguncang-guncang di dalam delman itu karena jalanan yang tak mulus.
"Itu mereka ngapain Nyonya?" Yudi menunjuk ke arah sekumpulan ibu-ibu dan anak-anak di pinggir jalan berada di area janjangan buah sawit.
"Oh itu, mereka lagi nyari jamur sawit."
"Jamur sawit?" ujar Yudi sedikit kaget.
"Iya, kamu pasti belum pernah makan jemur sawit, kan?"
"Iya, Nyonya, belum."
"Nanti dah kumasakan di rumah."
"Apa tidak merepotkan Nyonya?"
"Hallah, kamu ini, ndak usah formal banget sama aku. Anggap saja aku saudaramu. Lagi pula tampaknya kita hanya beda beberapa tahun, ya?"
"Iya, Nyonya, seperti lebih tua saya."
"Kalau begitu kamu kupanggil kakak mulai sekarang dan kamu panggil aku adek, ya?"
"Iya, Nyonya, eh, adek."
Tak terasa mereka sampai juga akhirnya. Nursam pun membayar ongkos delman.
Di halaman rumahnya, Nursam tersenyum lega. Dipadanginya sekeliling rumahnya yang penuh dengan bunga-bunga dan tanaman hias. Ya, itulah ibunya pecinta tanaman. Belum lagi pekarangan di samping rumahnya, lebat sayur kacang panjang, ada buah semangka, dan lain-lain.
Nursam saling pandang dengan Yudi. Lelaki tinggi kurus itu tak kalah terkesimanya dengan suasana di depan rumah orang tua Nursam.
Nursam mempersilakan Yudi duduk di plataran rumahnya. Ada kursi dan meja tersedia untuk tamu yang datang.
"Sebentar, ya!" ujar Nursam. Dilihatnya pintu tidak terkunci. Niat hati hendak langsung masuk dan memberi kejutan ke orang tua dan adik-adiknya. Sebelum kakinya melangkah masuk, ia tertahan. Ada sesuatu yang ia lupakan.
"Yudi?" ujarnya.
"Iya, Nyonya, eh, Dek? Ada apa?"
Nursam sebenarnya hendak mengatakan bahwa Nurul bukan nama sebenarnya.
"Ada apa, Dek Nurul?" tanya Yudi lagi.
"Ah, tidak." Nursam mengurungkan kejujurannya. Ia merasa belum saatnya.
"Sebentar, ya?" Nursam pun masuk.
Ketika Nursam masuk, ia senang sekali sebab rumah itu telah menjadi rumah yang bagus. Banyak perkakas rumah seperti lemari besar, TV juga ukuran besar, sofa di ruang tamu yang mahal. Warna sofanya merah muda-warna kesukaannya. Dilihatnya dinding penuh dengan figura besar. Ada fotonya begitu besar, foto waktu ia masih berseragam SMA sambil memegang ijazah.
"Di mana Ibu dan Bapak?" Batinnya. Ia pun berjalan mencari-cari sembari memerhatikan suasana rumah barunya itu.
Kok sepi sekali, apa ibu mengantar adik-adik ke sekolah, ya?
"Bapakkk?" Panggil Nurul.
Ia terus berjalan masuk ke dalam. Kini rumahnya sudah lebih besar dengan keramik marmer. Ia tersenyum bangga, akhirnya impian bapaknya punya rumah bagus sudah tercapai. Mungkin itulah sebabnya ia dimaafkan.
Kakinya tertahan ketika melewati rak bukunya yang sedari dulu tidak berubah tempatnya, namun baru kali itu ia mengetahui bahwa ada pintu masuk di belakangnya. Ia mengamati pintu itu yang terbuka sedikit. Perlahan ia mengintip siapa di dalam?
Tiba-tiba, ia menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.
"Bapak?" ujarnya hampir pingsan.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
KARINDANGAN
Ficción General~Wattys Winner 2021 Kategori Horror~ Nursam hampir bunuh diri dengan apa yang menimpa dirinya. Ia sungguh tak menyangka jika suami yang sangat dicintainya ternyata menipunya belaka. Dia dipelet dan keempat anaknya meninggal tak wajar. The Best Rank...
