Belum langkah kakinya habis menuruni tangga tiba-tiba, "prangss!" bunyi pecahan benda dari dapur.
Lagi-lagi Yati memperlakukan madu tuanya dengan tidak baik sama sekali.
Kala di dapur itu, Yati minta buatkan teh jahe karena merasa mual masuk angin. Nursam kebanyakan gula sehingga Yati marah dan menghempas gelas begitu saja.
"Apa pula itu?" ujar Rukiman lalu berlari ke atas. Yudi yang menyaksikan itu hanya geleng-geleng.
Ketika Rukiman di dapur, berlaga pula Si Yati seperti orang yang tersiksa. Pandailah perempuan perebut itu berakting bak artis.
"Aku minta tolong dibuatkan teh jahe, Bang. Dia rupanya salah ambil gula, malah garam yang dia masukkan, saat aku bilang teh itu asin, dia tidak terima dan melemparkan gelas itu ke arahku, untung saja mengenai meja." Wajah Rukiman yang mendengar merah karena tersulut amarah. Dilihatnya banyak beling berhamburan di bawah meja makan
Nursam yang dalam kendali suaminya sangat takut akan hal itu.
"Dasar perempuan tidak tahu diri!Plaaakk!," tamparan keras melayang lagi. Itu yang ke tiga kali selama beberapa bulan rumah tangga yang bermadu itu.
Nursam menangis tersungkur di depan suaminya meminta maaf dan ampun. Kesalahan yang tidak ia lakukan terpaksa diakuinya demi Si Madu senang.
"Bersihkan beling-beling ini sampai bersih! Kalau sampai masih tersisa sedikit saja bahkan hanya bekasnya saja, kau akan tahu akibatnya." Rukiman pun kembali ke kedai dan menggandeng Yati.
Dengan berjalan berlenggak-lenggok, Si Yati melewati Nursam yang menyomot satu persatu beling di bawah meja.
Dengan sesenggukkan Nursam menahan perih pipinya yang baru saja ditampar.
Yudi yang mengetahui itu hanya dapat geleng-geleng tak percaya, bagaimana seorang wanita bisa seikhlas itu diperlakukan tak adil, bukannya protes atau marah, atau mungkin menurut Yudi, kenapa tidak tinggalkan saja lelaki berang macam Tomi alias Rukiman itu?
Hari telah sore, Yudi pun pulang setelah menutup kedai. Rumah majikannya pun sudah tertutup rapat semua.
***
Hingga datanglah pada hari itu, Nursam kena cipratan air panas untuk membuatkan Yati air hangat untuk mandi malam. Ia menangis karena kesakitan.
"Hallagh, segitu saja mewek, cengeng!" cibir Yati.
"Sana pergi, panggilkan suamiku!" Nursam hanya diam memegangi tangannya yang melepuh.
"Ai, malah diam saja!" Yati terus saja mencibir. Dipanggilnyalah Rukiman dari ambang pintu kamar mandi itu. Seketika itu juga Rukiman berlari secepat kilat demi istri mudanya itu.
"Ayo, mandi bareng!"
"Baik, Sayang."
"Tapi ambilkan handukku dulu."
"Iya, Sayang." Rukiman berlari ke kamar. Nursam yang menyaksikan suaminya begitu penurut kepada Yati membuatnya benar-benar insecure dan tak percaya. Yati berlagak sombong di hadapannya.
Nursam masih terdiam di depan kamar mandi.
Yati sengaja tidak menutup rapat kamar mandi agar Nursam melihat dirinya dan Rukiman mandi bersama.
Yati meminta Rukiman melepaskan semua pakaiannya. Di depan Nursam, Yati berciuman dengan Rukiman. Nursam membalikkan badannya. Air matanya bercucuran.
Sebenarnya ia merasa sangat marah tapi tak berdaya. Tak lama kemudian, Yati mengerang menikmati pergulatannya.
Nursam sakit hati, berlarilah keluar dari rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARINDANGAN
General Fiction~Wattys Winner 2021 Kategori Horror~ Nursam hampir bunuh diri dengan apa yang menimpa dirinya. Ia sungguh tak menyangka jika suami yang sangat dicintainya ternyata menipunya belaka. Dia dipelet dan keempat anaknya meninggal tak wajar. The Best Rank...
