"Kali ini saya tidak akan gagal lagi. Tunggu saja pembalasanku, Juman!" batin Sadikin.
Sadikin bergegas ke rumah Jali. Ia harus segera tahu, apakah kakaknya itu menyetujui perjodohan antara Nurul dan Reza? Harapan Sadikin hanya Nurul. Jika kali ini ia tak berhasil lagi maka terpaksa mengorbankan anak pertamanya.
"Bagaimana Kak, apa Kakak sudah memutuskan?" tanya Sadikin tak sabar.
"Apa tidak terburu-buru menikahkan Nurul, apa sebaiknya tunggu dia tamat SMA dulu?"
"Ah, sudah kubilang berapa kali, percuma anak gadis sekolah tinggi-tinggi. Untuk apa? Yang penting bisa baca, sudah cukup. Lagi pula, tugas wanita itu melayani suami dan melahirkan anak. Apapun pendidikannya, sama saja, yang membedakan mereka hanya dari kebaktiannya kepada orang tua, dan kalo sudah menikah harus bakti pada suami. Yang menjadi pertanyaan di akhirat nanti, bukankah bakti tidaknya? Kakak sendiri yang bilang begitu." Jali menghela napas mendengar ucapan Sadikin yang menceramahinya dengan nasihat yang pernah dilontarkannya dulu.
"Lagi pula, Kak, kalau Nurul menikah dengan Reza hidupnya bakal sejahtera, saya yakin itu, bahkan kehidupan Kakak berdua. Kalian tidak perlu menjual tanah dan rumah ini untuk melunasi hutang." Jali menekur. Ia kehabisan kata-kata karena Sadikin terus saja memengaruhinya.
"Boleh saja, Nurul hanya lulusan SMP, tapi kalau dia menikah dengan Reza, maka tak ada lagi wanita-wanita gosip memandangnya rendah. Dia pasti jadi nyonya besar."
Jali semakin bimbang memutuskannya. Satu sisi ia kasihan dengan putrinya, satu sisi apa yang dikatakan adiknya itu sangat benar. Lagi pula, pernikahan itu menjadi sebuah tebusaan hutangnya yang tidak lunas-lunas selama ini.
"Ingat, Kak, hutang itu harus dibayar!"
Begitulah Sadikin begitu antusias memengaruhi Jali sehingga ia harus berkutat keras untuk mengambil keputusan. Ia raba-raba pembendaharaan keputusan bijak apa yang bisa ia ambil?
Sementara di satu tempat, Nurul tengah menghadap ke Juman. Tibalah apa yang ditakutkan Sadikin selama ini adalah Nurul meminta kawin. Sore itu, ia bersama Rukiman memberanikan diri memohon kepada Juman.
"Apa aku tidak salah dengar?" ujar Juman kepada dua anak remaja di hadapannya.
"Kalian ingin menikah?"
"Iya, Bapak." Mereka serempak menjawab.
"Nurul, bukankah kau masih sekolah?"
"Saya sudah memutuskan untuk berhenti saja karena Bang Kiman juga berhenti. Saya tidak mau sekolah jika Bang Kiman tidak sekolah."
"Mengapa begitu?" tanya Juman heran.
"Iya, Nurul, sebaiknya kau sekolah saja dulu! Zaman akan datang, wanita sangat diperlukan berpendidikan," timpal Rukiman.
"Tidak, Bang, Nurul sudah yakin dan bulat. Nurul mau menikah dengan Abang. Tolong restui kami, Bapak." Nurul memohon kepada Juman.
"Apa orang tuamu tahu?"
"Jika Bapak yang datang, mereka pasti merestui juga."
"Mengapa kau mencintai putraku? Apa kau tidak pernah mendengar desas-desus tentangnya?"
"Saya sudah dengar bahkan langsung dari kedua orang tua saya. Namun, saya tidak percaya, terlebih Bang Kiman orang baik, begitu pun Bapak. Orang-orang termakan cerita bohong. Tapi kami tidak berpikir demikian dan percaya bahwa Bapak dan Bang Kiman adalah orang-orang baik."
Juman tersenyum.
"Kau benar, Nak. Kedua orang tuamu itu memang berbeda dari orang-orang kebanyakan di kampung ini. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang masih percaya dengan saya. Tapi...."
KAMU SEDANG MEMBACA
KARINDANGAN
Fiction générale~Wattys Winner 2021 Kategori Horror~ Nursam hampir bunuh diri dengan apa yang menimpa dirinya. Ia sungguh tak menyangka jika suami yang sangat dicintainya ternyata menipunya belaka. Dia dipelet dan keempat anaknya meninggal tak wajar. The Best Rank...
