Selamat membaca dan semoga bermanfaat 🙏❤️
"Bukan kabar bahagia yang kuterima melainkan sebuah kabar yang membuatku tak mampu berkata-kata.”
Ketika Allah Tak Merestui Temu Itu
Wanita berkhimar merah yang usianya dua puluh tahun itu baru saja turun dari becak. Kedua tangannya sudah menenteng tas belanja yang berisi sayur mayur beserta bumbu dapur sesuai pesanan.
Ia merupakan wanita pekerja keras selain itu dirinya juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya juga adik-adiknya yang masih kecil.
"Matur nuwun nggih, Pak." Terjemahan - "Terima kasih ya, Pak."
"Sami-sami, Mbak," balas tukang becak itu sambil berlalu. Terjemahan - "Sama-sama, Mbak."
Setelah lulus SMA ia tidak melanjutkan kuliah karena ada rasa tidak enak dengan adik-adiknya yang juga membutuhkan uang untuk sekolah maka ia memutuskan untuk bekerja dan dapat membiayai kebutuhan sekolah adiknya.
Walau rata-rata teman-temannya kuliah, tetapi ia tidak pernah minder karena yang ia tahu Allah Maha Pengasih dan pasti Allah akan beri di waktu yang tepat.
“Assalamualaikum!” salamnya.
“Walaikumsalam,” ucap wanita paruh baya dengan sapu di tangannya.
“Sini Mbak Nay biar Mbok bantu,” lanjutnya ketika melihat banyak barang belanja yang dibawanya.
“Terima kasih, Mbok,” balasnya dengan senyum tipis.
“Mbak Nay, kok repot-repot sampai nganterin kan nanti biar Mbok atau Pak Ujang yang ambil,” ucap wanita paruh baya itu merasa tidak enak.
“Enggak apa-apa, Mbok. Itu teh buat siapa, Mbok?”
“Buat Mas Kahfi, Mbak.”
“Astaghfirullaladzim!” sebutnya.
“Mbok lupa kalau lagi setrika di atas,” paniknya.
“Enggak apa-apa, Mbok, biar Nayla yang antar ke Mas Kahfi,” ucapnya sembari tersenyum.
“Terima kasih banyak ya Mbak Nay.”
“Sama-sama, Mbok.”
Selesai mengaduk kini kedua tangannya sudah siap dengan satu cangkir yang berisi teh untuk laki-laki yang sekarang berprofesi sebagai dokter muda di salah satu rumah sakit di Yogyakarta ini.
Dirinya begitu bangga dengan laki-laki itu sudah pintar sholeh juga iya paket komplit intinya. Bagi Nayla laki-laki itu adalah sosok kakak yang baik walau ia dan Kahfi tidak ada hubungan darah namun, laki-laki itu selalu membuatnya bangga.
Ekor matanya menangkap sosok yang tengah duduk sembari menatap ponselnya setelah itu ia memutuskan untuk menunduk, halaman samping rumah yang menjelma menjadi taman kecil merupakan tempat favorit laki-laki itu juga tidak ada yang berubah, penataan letaknya masih sama.
“Mas Kahfi?” panggilnya. Kini jarak antara dirinya dengan laki-laki itu hanya dua langkah.
Merasa dipanggil membuatnya mendongak, tetapi tidak sengaja siku tangannya menyenggol nampan hingga cangkir itu jatuh.
Prang!
“Astaghfirullahaladzim!” sebut laki-laki itu lalu segera berjongkok.
“Ya Allah saya minta maaf, Nay. Saya tidak sengaja.”
“Kamu tidak apa-apa? Biar nanti saya yang bereskan,” lanjutnya sembari memungut pecahan gelas itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Allah Tak Merestui Temu Itu (END)
Romance[SUDAH ENDING] ~ [CHAPTER MASIH LENGKAP] "Karena hidup itu seperti secarik kertas putih, hanya dirinya sendiri yang mau memberikan warna atau justru menggoreskan titik hitam pada setiap kesempatan hidup yang Allah SWT berikan." Hidup itu selayaknya...
