"Karena sudah menikah jangan panggil saya lagi dengan oom," katanya berbisik halus ditenga membuat tubuh dengan impulsif bergidik.
"Kalau begitu apa dong oom-eh. Aduh, maaf keceplosan. Oom ada saran?"
"Panggilnya mas aja."
Dengan satu alasan konyol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ayah mau menikah lagi."
Dalam satu meja makan besar nan agak panjang itu seperti biasa hanya diisi oleh dua orang penghuninya. Ada banyak kursi kosong yang tersedia tapi yang terpakai hanya dua untuk V dan satu lagi ayahnya. Ibunya sudah meninggalkan mereka 11 tahun silam. Tak hanya kursi sepertinya, banyak kamar yang juga ikut tak terpakai dan dibiarkan kosong begitu saja tak berfungsi. V tidak memiliki kakak atau adik, dia lahir sebagai anak tunggal.
Tapi mungkin setelah pernyataan sang ayah tadi barangkali mungkin kamar-kamar di sini juga meja makan yang sekarang mereka sedang pakai satu persatu akan terisi dengan satu anggota baru ditambah calon bakal adiknya jika memang si ayah mampu. Ah, apa lelaki tua itu masih mampu untuk membuahi pikirnya. 11 tahun vakum, sekarang sudah bisa kembali pulang ke sarang.
"Terus." V mendongak menatap sang ayah tanpa minat. Ayahnya baik, sungguh teramat baik. Tapi kesan dingin dan tak acuh akan selalu V tunjukkan. Sudah tak mendapat perhatian dari ibu, dia juga kurang diperhatikan oleh ayahnya. Alasan, pekerjaan itu hanya alasan klasik yang dipakai orang tua untuk menipu anaknya yang kesepian. Dia pun jadi merasa begitu, ada atau tidaknya sang ayah tak berpengaruh banyak dalam hidup karena ia sudah biasa ditinggalkan. Hidup sendirian dalam kekosongan.
Barangkali mungkin tingkah kekurang ajarannya itu disebabkan karena dia sedang mencari perhatian, saat masa sekolah dulu, hanya karena ia membuat ulah sang ayah baru mau menginjakkan kaki ke sekolah. Meminta maaf atas ulah putranya yang menimbulkan kekacauan. Sebatas itu.
Pengambilan rapor, hari kelulusan, acara lainnya yang memang harus mengikutsertakan orang tua kebanyakan sang ayah akan memilih absen dan meminta sang paman untuk menggantikan. Selalu.
Sampai terbesit dikepala, anda saja yang dulu mati bukan sang ibu tapi ayahnya. Apa hidupnya akan lebih tertata sekarang.
"Bagaimana menurutmu. Kamu anak ayah satu-satunya, jadi kalau ada urusannya dengan rumah ayah harus izin ke kamu. Ayah pikir punya pasangan untuk saat ini momentum yang bagus, kamu juga sudah besar kalau sudah menikah bisa bangun keluarga sendiri nanti." lelaki ini panjang dengan nada suara yang masih terdengar cukup tenang. Dia jarang menaikkan suara meski harus dihadapkan dengan tingkah kekurang ajaran putranya. "Ayah tidak sendiri karena sudah ada temannya. Itu pun kalau kamu mengizinkan ayah menikah lagi ngelangkahin kamu."
"Yaudah sih kalau nikah mah nikah aja, nggak ada urusan sama aku. Toh nanti yang ngejalanin juga ayah sama cewek itu. Yang penting calonnya ayahnya itu nggak ganggu kehidupan aku sekarang aku nggak akan banyak permintaan juga nggak akan banyak kasih komentar."
"Baguslah," ujarnya dengan seulas senyum tipis yang terbit. "Nanti malam jangan ke mana-mana. Kita makan malam di sini bertiga, ayah bilang mau ajak kamu diskusi sebelum bawa dia ke rumah. Karena kamu sudah mengizinkan, ayah bisa langsung beritahu dia buat siap-siap nanti malam."