37. Akhir Perjalanan

11 3 0
                                        

Menuju akhir cerita ini aku bakal sering up karna aku sendiri udah geregetan 😁, jadi mohon maaf kalo banyak notif di kalian yaa 😅.
.
.
.
.
🎉Happy reading 🎉

Hara tengah mengemas beberapa barangnya. Walau seharusnya hari ini adalah jadwal libur sekolah dan dia ingin mengistirahatkan dirinya karna rasa lelah kemarin namun tetap saja mamanya meminta dia untuk mengemas barang karna malam ini barang - barang akan di kirimkan terlebih dahulu.

KREKK

pintu kamar hara terbuka munculah bang varo di sana. Hanya menatap dan hanya terdiam di depan pintu tidak melangkah dan tidak berbicara.

"Kenapa bang?" tanya hara yang mulai pembicaraan.

"Mau abang bantu?" tanya bang varo menawarkan diri membantu hara, hara dengan tersenyum menjawab pertanyaan bang varo dengan anggukan.

"Salsa belum pulang?" tanya bang varo sambil mengambil kotak penyimpanan berukuran besar dari atas lemari.

"Belum" ucap hara sambil memandangi beberapa buku pelajaran miliknya.

"Apa yang harus di kemas lagi?" tanya bang varo sambil memandangi beberapa kotak penyimpanan yang sudah terisi.

"Tinggal beberapa barang di atas meja" ucap hara sambil melangkah berjalan ke lemari baju miliknya. Dia hanya harus mengemas beberapa baju lagi yang ada di dalam lemari.

Saat membuka lemari pakaian hara tidak melihat kearah pakaian miliknya namun pandangannya tertuju pada sebuah mading yang dia tempel di dalam lemari. Semua impian yang ingin dia gapai, semua keinginan yang ingin dia wujudkan namun semua nihil semua gagal.

Pelupuk matanya memanas, air mata yang sedari tadi ia tahan tidak bisa terbendung lagi. Semakin lama dia semakin tidak bisa menahannya. Hingga satu tetes air mata yang begitu hangat mengalir lewati pipi cubby miliknya. Satu tetes air mata itu permulaan semua air mata lainnya yang ingin segera di tumpahkan juga.

Suara langkah kaki terburu - buru terdengar dari luar kamarnya hingga suara deru nafas yang terdengar begitu nyata di telinganya.

"Ra... Lu.. Mau pindah... Lagi.." ucap naufal dengan ucapan yang terpotong - potong.

Hara melihat kearah naufal semakin loloslah semua air mata miliknya, tanpa menghiraukan bang varo hara dengan segera berjalan dan menghambur kedalam pelukan naufal. Bang varo yang mengerti kondisi sekarang akhirnya memilih keluar dari kamar hara dan entah berjalan kemana.

Naufal yang memeluknya dengan erat sambil sesekali menenangkan hara. Hara bisa menebaknya naufal baru pulang sekolah dan dapat berita ini dari ibunya. Karna tadi siang hara baru saja memberitahukan kepindahannya ke keluarga naufal tanpa sepengetahuan naufal.

"Lu baru sebentar di sini kenapa harus ninggalin gw lagi" keluh naufal yang masih setia memeluk tubuh naufal.

Jangan tanyakan hal itu bahkan lidah hara sangat kelu hanya untuk menjawab pertanyaan itu. Dirinya sendiri bahkan tidak menginginkan kepindahan ini.

"Ma..af" hanya kata singkat yang keluar dari mulutnya, bahkan dirinya juga mengerti itu sama sekali bukan jawaban yang di butuhkan olehnya.

Naufal melonggarkan pelukan pada hara. Tangannya menggenggam kedua pundak milik hara.

"Kabarin gw selalu apa pun yang terjadi, ceritain semua hal yang sedang menganggu pikiran lu saat lu ada di sana, dan selalu jaga diri lu. Satu lagi ada saatnya lu berani mengungkapkan segalanya tanpa merasa takut" ucap naufal hara hanya menjawab dengan anggukan.

Remember YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang