36. Malam Api Unggun

5 3 0
                                        

Bagai mana nih kabarnya kalian para pembaca? Sehat selalu yaa 😊....
.
.
.
Aku cuman mau kasih tau akhir ending ini sekiranya tidak sesuai ekpetasi kalian aku mohon maaf 🙏
Karna semuanya sudah sesuai dengan pemikiran aku. Jadi tetep dukung yaa ....
Terimakasih.

.
.
.
.

🎉Happy reading🎉

"Karna rasa senioritas itu bisa membunuh siapa saja secara perlahan"

Malam telah tiba hara sudah berbaris kembali dengan kelompoknya melihat Athar yang tidak ada di tempat pemikiran hara mungkin dia sedang mencari beberapa anggota kelompoknya yang belum ikut berkumpul.

Hara pun mengedarkan pandangannya ke segala arah entah apa yang sedang ia cari rasanya ada yang hilang. Pandangan matanya tertuju kearah muti yang sedang memandangi dari jauh terlihat wajahnya yang memancarkan kecemasan. Hara yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum, walau dia hanya bisa mengeluarkan senyum palsu nya untuk saat ini. Berlaku baik - baik saja tentu hal yang paling menyebalkan menurut hara.

Hara pun kembali fokus kepada bagian acara dimana beberapa kayu bakar yang sempat mereka cari tadi semua di kumpulkan menjadi satu dan salah satu anggota OSIS tengah menyalahkan api unggun tepat berada di tengah - tengah kami semua.

"Baik, semuanya silahkan membuat lingkaran besar tidak ada yang tertutupi sama sekali setelah membuat lingkaran silahkan kalian duduk masih bersama dengan kelompok masing - masing" perintah kak adnan. Semua murid pun langsung bergegas membuat lingkaran besar termasuk hara. Hara yang berjalan mundur di tambah lagi terdorong kebelakang karna beberapa orang di depannya terlihat berdesakan untuk membuat lingkaran.

Situasi tanah yang basah akibat hujan sore tadi sedikit menyulitkan langkahnya untuk mundur, hingga hampir saja hara terjatuh jika tidak ada orang yang menahan tubuhnya.

"Semuanya udah dapet posisi duduk masing - masing?" tanya kak aqila yang Tengah berdiri di dekat api unggun bersama beberapa anggota OSIS lainnya.

"Baik sekarang kita akan masuk ke acara renungan yang akan di pimpin oleh bu karin, saya persilahkan untuk bu karin" ucap kak aqila. Terlihatlah bu karin yang berjalan memasuki area dalam lingkaran berjalan berkeliling menggunakan pakaian pramuka yang biasa beliau gunakan.

"Assalamualaikum, bagaimana kabarnya kalian semua?" sapa bu karin dengan suara lantangnya.

"Waalaikum salam, baik" jawab semua peserta serentak.

"Kalian senang ?" tanya bu karin masih dengan suara lantang miliknya.

"Senang" lagi - lagi jawaban serentak dari peserta LDK.

"baik sekarang tutup mata kalian, harus jujur tutup mata kalian, biarkan cahaya dari api unggun ini yang bisa memasuki penglihatan kalian walau tertutup" ucap bu karin semua pun menurutinya. Hara juga ikut menutup matanya, benar masih terlihat seperti ada cahaya yang masuk di penglihatan walau nyatanya memang mata ini tertutup.

"Sekarang genggam tangan teman kalian yang ada di samping, ratapilah semua kalimat yang keluar dari mulut ibu" ucap bu karin. Hara pun mengikuti perintah beliau tangan kirinya sudah di genggam olah seorang yang jelas hara tau kalau itu winda tapi dia tidak tau siapa yang ada di sebelah kanannya.

Remember YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang