Berita kecelakaan itu tersebar luas di berbagai kota, kedua pengendara dinyatakan tewas di tempat insiden terjadi. Identitas korban belum diketahui karena barang bukti identitas hancur tak terbaca, membuat pihak kepolisian mengalami kesulitan.
Gelas yang sedang ia pegang tiba-tiba terjatuh, "Adhi kecelakaan?!" tanya Bi Weny panik, ia sangat mengetahui motor Adhyastha, berwarna merah hitam.
Sudah melakukan panggilan lima kali namun nomor telepon Adhyastha tidak bisa terhubungi. Bi Weny sudah mengurus Adhyastha sejak usia dini, ia menganggap Astha sebagai anaknya. Jika sesuatu terjadi, Bi Weny tidak akan tinggal diam saja. Ia dengan sigap mengunjungi rumah sakit, tempat korban kecelakaan.
Setibanya di rumah sakit, Bi Weny melangkah dengan panik ke pusat informasi.
"Permisi, apa ada korban kecelakaan bernama Adhyastha Dexano."
"Sebentar, saya cek terlebih dahulu." ucapnya dengan ramah.
Bi Weny tak henti-hentinya memainkan tangan tanda ia khawatir, sambil melirik ke berbagai arah.
"Maaf pasien bernama Adhyastha Dexano tidak terdaftar,"
"Korban kecelakaan beberapa menit yang lalu, di Jalan Gerbang Pemuda. Apa salah satu nama korban, Adhyastha Dexano?" ucap Bi Weny tegas, pusat informasi sudah mencari nama tersebut tetap saja tidak ada.
"Dokter," panggil salah satu polisi, membuat tatapan Bi Weny beralih. "Kami sudah menemukan identitas korban kecelakaan,"
Dokter itu mengangguk sebagai tanda menerima informasi dari pihak polisi.
"Korban pertama bernama Agung Kurniawan dan korban kedua bernama Aseptian Bagas."
Mendengar itu Bi Weny sangat lega, ternyata korban kecelakaan tragis itu bukan tuannya. Pihak polisi masih melanjutkan pembicaraannya dengan dokter. Ia mencoba menelpon Adhyastha berulang kali.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif—
"Kenapa gak diangkat?" tanya Bi Weny greget, sambil mencoba kembali.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif—
Suara mobil ambulance mendekat ke arah rumah sakit itu, beberapa orang terbirit-birit menghampiri mobil tersebut.
"Pasien mengalami kecelakaan!"
Dokter itu melihat kondisi pasien dengan teliti. "Fraktur tertutup, siapkan ruang operasi!" titah salah satu dokter setelah melihat kondisi pasien dengan tegas.
Karena penasaran, Bi Weny menghampiri sumber suara yang sedari tadi ricuh tak karuan. Pasien kecelakaan itu tengah berbaring di atas brankar, pihak rumah sakit membawa pasien itu ke dalam sambil terburu-buru. Sekilas ia melihat luka parah di bagian tangan, kaki dan darah di bagian dada. Ia bergidik ngeri melihatnya, lalu beralih melihat wajah pasien.
Bi Weny mengerutkan dahi, wajah yang tak asing seperti mengenalnya. Tapi, itu bukan Adhyastha. Apa semua ini terjadi karena kekhawatiran yang berlebihan? Sehingga berhalusinasi seolah-olah pasien itu Adhyastha?
Ia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, mungkin saja Adhyastha sudah di rumah. Tuannya tidak seceroboh yang Bi Weny pikirkan, kejadian kecelakaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Adhyastha.
Tepat di depan pintu masuk, tiba-tiba ada yang memanggil "Ibu, Bu, tunggu sebentar!" Bi Weny mendengar suara itu dengan jelas, lalu mengacuhkan dan kembali berjalan.
"Ibu, Bu!" Bi Weny sangat terkejut, seseorang menepuk pundaknya. Ternyata itu dari pihak pusat informasi, orang yang ia temui ketika bertanya tentang pasien kecelakaan.
"Maaf Bu, saya sudah membuat Ibu terkejut." ucapnya dengan rasa bersalah, Bi Weny tersenyum tipis sebagai jawaban.
"Pasien bernama Adhyastha Dexano baru saja termasuk daftar kecelakaan,"
Bi Weny terdiam saat mendengar ucapan itu. Mimpi? Namun, sangat nyata. Apa ia sedang berhalusinasi lagi?
"Ibu?" panggilnya, "Ibu baik-baik saja?" sambil menepuk pelan bahu Bi Weny.
Ini bukan mimpi, ini nyata.
"Pasien bernama Adhyastha Dexano baru saja termasuk daftar kecelakaan," ulangnya.
"Pasien kecelakaan yang baru saja masuk?" tanya Bi Weny memastikan.
"Pasien sedang melakukan operasi bagian dalam, Ibu boleh menunggu—"
Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Bi Weny berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Tuan Adhi, mau berapa kali terluka?
--<✿>--
"Gue berharap, perlombaan ini gue yang menang. Kalo lo yang menang, gue mau lo pergi jauh dari hidup gue." ucap Agreya mengancam, dan berlalu pergi dari ruangan itu.
"Emang gue aja cewek di dunia ini, lo hidup cuman mau main-main aja? Perjalanan lo masih panjang, yang ada dipikiran lo apa cuman cinta aja, gak ada yang lain? Lo gak cape ngejar cewek yang udah jelas gak suka sama lo?"
"Gue sedang menjalankan sebuah misi, dan lo akan tahu beberapa bulan nanti." ucap Raldi membuat Adhyastha keheranan dengan ucapan laki-laki itu.
"Gue emang temen Kal sejak lama, mungkin ini adalah akhir dari persahabatan gue. Gue berharap lo akan baik-baik aja suatu saat nanti, gue bukan teman baik buat lo. Maaf Astha, gue sudah dibutakan oleh uang." lanjut Raldi, sambil menepuk bahu Adhyastha.
Ingatan itu terus saja muncul di kepalanya, diiringi keringat dingin di seluruh badan.
"Pasien demam, suhu tubuhnya 39,4 derajat celcius."
"Pasien mengalami kecelakaan karena kondisinya tidak stabil, ia memaksakan dirinya di bawah hujan yang deras."
"Apa operasinya akan lancar jika kondisi pasien sedang demam?"
"Jika kita menunda operasi tidak akan menyelamatkan pasien, kita lakukan operasi meskipun kondisi pasien tidak stabil."
"Apa anda ingin membunuh pasien?"
"Kita harus menurunkan demamnya terlebih dahulu,"
Mereka tengah sibuk menurunkan demam dengan cara cepat, setelah selesai mereka melanjutkan operasi dada, kaki, dan tangan. Membelah kulit dengan perlahan menggunakan pisau bedah, memperbaiki tata letak tulang ke tempat semula. Implan Ortopedi ditempel di bagian tulang yang patah, untuk menyatukan tulang kebentuk semula.
2 jam kemudian, 23:12 WIB
"Ya Tuhan, tolong selamatkan Tuan Adhi." lirih Bi Weny sambil berdoa.
"Demamnya naik 39,9 derajat Celcius,"
"Turunkan suhu tubuhnya,"
"Kondisi jantungnya tidak stabil!"
--<✿>--
Jangan lupa coment, vote [✩], follow.
Salam hangat
Adnan Aqia❤
-Next Chapter-
KAMU SEDANG MEMBACA
A²: KARTALA
FanfictionAdhyastha Dexano, kerap disapa Astha. Sang pengagum gadis apatis yang membencinya. Laki-laki yang menyimpan beribu-ribu luka yang tak pernah sembuh. Hidup Astha hanya seberkas cahaya, sebuah harapan yang mungkin terjadi. Sepertinya tidak, tak ada ka...
