[36] Sick of This Life

11 4 0
                                        

Setibanya di rumah sakit, Agreya sedang mendapatkan perawatan kecil di bagian bahu dan telapak tangan. Lain dengan Astha yang sejak tadi mondar-mandir sambil mengelus kening yang terasa pusing. Hal itu membuat Reya keheranan, dan menghela napas panjang.

"Astha?" panggil Reya, sontak laki-laki itu mendekat ke arahnya. "Lo kenapa?"

Astha menggelengkan kepala sebagai jawaban, lalu kembali mengelus kening sambil memejamkan mata.

"Selesai." ucap perawat itu, "Untuk sementara, lukanya jangan terkena air. Kamu bisa mengganti minimal sehari sekali atau setiap perban kotor dan basah."

"Baik. Terima kasih."

Perawat itu menganggukkan kepala seraya tersenyum ramah menanggapinya dan berlalu pergi. Terlihat Reya ingin mengatakan sesuatu pada Astha namun enggan untuk diucapkan.

Beberapa detik kemudian barulah ia berkata, "Kita harus pergi temui Kae dan Yara," ujar Reya lirih pada Astha.

Astha mengangguk pelan menanggapinya lalu berkata, "Lo tunggu di sini,"

"Gue ikut, lagi pula... udah membaik." timpal Reya yang dibalas anggukan pelan dari Astha.

Mereka berjalan menuju ruang rawat Kae dan Yara. Saat sudah sampai, Reya masuk ke ruang rawat Kae sedangkan Astha ke ruang rawat Yara.

Astha berjalan perlahan mendekati gadis itu, terlihat Yara belum siuman dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Ia terduduk di sebuah kursi sambil menatap Yara, tatapan yang begitu iba.

"Ra..? Maafin gue. Kalo misal gue datang lebih awal, lo gak akan terluka seperti ini." ujar Astha lirih pada Yara.

Perlahan Astha meraih tangan Yara dan mengelus lembut jemarinya, lalu menundukkan kepala cukup lama.

"Gue gak bisa menjadi pelindung lo,"

"Gue gak bisa lo aman dalam genggaman,"

"Gue bener-bener gak becus. Meskipun lo pernah bilang sama gue, kalo lo itu kuat, dan bisa melawan orang jahat... tapi sekuat apapun, lo butuh perlindungan gue,"

"Gue gak sempurna buat lo,"

"Gue sayang sama lo..."

Reya tersenyum tipis lalu kembali menutup pintu dengan perlahan, dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Ia terduduk di sebuah kursi dan hanya menatap ke satu arah, ia tengah melamun.

"Gue gak sempurna buat lo,"

"Gue sayang sama lo..."

Perlahan air mata menetes dan membasahi kedua pipinya, ia berusaha menahan tangis namun tak bisa. Ia benar-benar menangis tanpa suara, dengan dada yang terasa sesak.

Lain dengan Astha yang masih menunggu Yara siuman sambil terus mengoceh, membahas apa saja yang ia mau.

"Mencintai tidak salah, tapi mengapa seringkali berakhir dengan luka? Kenapa mencintai sesuatu yang menyakitkan?"

"Karena Allah tahu bahwa kamu dan Reya berbeda, Dia berusaha memisahkan kalian agar perasaanmu tidak terus terluka. Percayalah, Allah mencintaimu lebih dari yang kau tau, dan tidak ingin melihatmu terluka."

"Mengapa Allah mencintaiku?"

"Gue masih gak paham maksud lo." ucap Astha lirih, "Jujur... gue masih mencintai Reya, gue benar-benar mencintainya. Kenapa sulit untuk mendapatkannya?"

"Sebenarnya, gue ingin memeluknya untuk meredakan semua ketakutannya, menjadi kekuatan serta pelindungnya. Tapi... gue gak bisa, gue gak bisa, Raa..."

"Sampai kapan lo mau putus asa?" tanya Yara lirih pada Astha, hal itu membuat Astha terkejut bukan main.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A²: KARTALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang