Terlihat Ersya tengah berbincang dengan teman Agreya, melihatnya membuat Nio geram. Gelak tawa yang mampu memecahkan kesunyian di ruangan itu, lantas yang lain hanya menatap heran tingkah mereka.
Adhyastha berjalan sambil membaca buku dengan satu buah Corndog di tangan kanannya. Lalu ia duduk dan menutup buku yang tengah ia baca, laki-laki itu sedikit mendongak dan mengamati sekitar. Dari penglihatannya ia melihat ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada orang yang tengah memperhatikan setiap gerak-geriknya. Ya, Agreya tengah menatapnya. Mungkin saat pertama Adhyastha memasuki kantin itu.
Tentu Astha membalas tatapannya, lain dengan Agreya yang berusaha mengalihkan pandangannya.
"Astha?" panggil Kal sambil menepuk bahu laki-laki itu.
"Nio, Raldi ke mana? Tumben gak gabung?" tanya Kal sambil mengaduk bumbu bakso hingga tercampur rata dan siap untuk dicicipi.
Astha menatap Kal lama dan itu membuat bujang itu merasa risi, "Lo kenapa? Mau?"
"Lo sama Chia bukannya pacaran? Tapi, ke—"
"Gue udah putus," potong Kal.
Astha mengangguk-angguk pelan menanggapinya. "Kondisi lo sekarang baik-baik aja? Setelah kecelakaan yang menimpa lo, apa lo baik-baik aja?"
"Gue sebenarnya belum sembuh total,"
"Dokter bilang gue harus rajin check-up setiap satu bulan sekali."
"Lo juga kan sama? Kondisi lo lebih parah dari gue."
Astha menelan salivanya sambil menatap buku miliknya, "Gue gapapa Kal, gue baik-baik aja."
"Itu Ersya?" tanya Astha pada Kal mengalihkan pembicaraan.
Kal tengah mengamati sosok laki-laki yang berada di dekat Yara, "Ersya? Murid baru?"
Astha mengangguk pelan menanggapinya, "Lo jangan berteman dengan dia,"
"Kenapa? Gue lihat dia, baik."
"Lupakan saja, tidak penting." pungkas Astha lalu menghabiskan makanan itu.
"Lo gak cemburu lihat Reya dekat sama cowok lain?" tanya Kal.
"Gak. Kenapa harus cemburu? Pacar juga bukan."
"Lo udah bener-bener melepaskan Reya?"
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Astha. "Iya, lagi pula, udah ada penggantinya."
"Siapa? Lo mau nyerah gitu aja? Lo cinta mati sama Reya, terus lo gak melanjutkan perjuangan yang sudah membuat lo terpuruk. Bahkan saat lo mengejar Reya, bukannya cinta yang lo dapat tapi luka. Luka batin dan fisik."
"Gue udah cape, Kal. Gue memperjuangkan dia mati-matian, tapi apa yang gue dapat?"
"Keputusan gue udah bulat. Gue gak akan lagi mengejar seseorang yang gue cintai, dan gue hanya memperjuangkan seseorang yang mencintai gue dengan tulus."
"Percuma, Tha. Lo gak suka sama dia. Terus lo berpura-pura seakan-akan lo cinta sama dia?"
"Semoga aja, gue suka sama dia."
"Lo juga kenapa gak memperjuangkan Chia? Padahal dia suka sama lo."
Kal terdiam beberapa detik, "Dia memilih Kak Awan daripada gue."
"Sudah lah, membahas percintaan membuat gue pusing." pungkas Astha dengan ekspresi datarnya. "Lo habisin makan bakso nya, gue mau cari Nio." sambung Astha beranjak dari duduknya lalu meninggalkan tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A²: KARTALA
Fiksi PenggemarAdhyastha Dexano, kerap disapa Astha. Sang pengagum gadis apatis yang membencinya. Laki-laki yang menyimpan beribu-ribu luka yang tak pernah sembuh. Hidup Astha hanya seberkas cahaya, sebuah harapan yang mungkin terjadi. Sepertinya tidak, tak ada ka...
