Sehabis pulang sekolah mereka menjenguk Cale ke rumah sakit menggunakan taxi.
"Permisi, ruangan pasien yang bernama Cale Bellamy dimana?" tanya Chia.
"Sebentar, ya," kata Ibu pusat informasi, tatapannya beralih ke komputer di depannya, "pasien bernama Cale Bellamy berada di ruang rawat no 16C."
"Kakak ikuti garis kuning yang ada di bawah, garis kuning itu khusus untuk ruangan bagian C." tambah Ibu itu sambil menunjuk ke arah garis kuning.
Mereka berjalan mengikuti garis tersebut, sambil mencari letak ruangan itu.
"Itu 16C," seru Yara, membuat tatapan mereka tertuju pada ruangan yang ditunjuk olehnya.
Mereka perlahan masuk ke dalam ruangan itu, terdapat Cale tengah berbaring dengan tenang. Seperti nya Cale sangat kelelahan, mereka berjalan sangat pelan karena takut Cale terbangun.
Agreya membawa buah apel, Chia membawa buah pisang, Kae membawa cemilan ringan, Yara membawa kue kering. Semua yang mereka bawa disimpan diatas meja dengan pelan-pelan.
"Simpen yang bener," bisik Chia gemas.
"Pelan-pelan jangan berisik," protes Agreya karena cemilan dan kue yang dibawa Kae sama Yara sangat berisik.
Mereka menghasilkan suara yang cukup berisik, membuat Cale terbangun menatap keempat insan itu tengah sibuk menyimpan barang bawaannya.
"Siapa kalian?" tanya Cale keheranan, keempat insan itu terdiam mematung lalu menatap ke arah laki-laki itu.
"Kal, bagaimana kabar lo?" tanya Chia tersenyum ragu, yang dibalas Kae menepuk bahu Chia.
Chia mengaduh menatap Kae heran, "gue salah apa?"
Kae hanya mendelik ke arah lain, kondisi Cale saat itu penuh dengan perban, bagian kepala, tangan, dan kaki. Kabarnya tak perlu ditanyakan, karena sudah jelas Cale tidak baik-baik saja.
"Kita teman sekelas lo," kata Yara tiba-tiba, sedari tadi Cale hanya menatap heran seperti tidak mengenal mereka.
"Teman sekelas?" tanya Cale bingung.
Keempat insan itu saling bertatapan heran.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Cale, ragu.
Mereka tersenyum canggung ke arahnya.
"Jangan bercanda Kal," protes Kae, sambil tertawa pelan.
"Saya gak bercanda," jawaban itu berhasil membuat mereka menjadi patung.
"Lo gak nanya kondisi Kal ke Astha?" tanya Chia menatap ke arah Agreya.
"Gak," jawab Agreya singkat, setelah mendengar nama Astha membuatnya kesal begitupun Kae.
Chia hanya berdecak sebal mendengar jawaban temannya.
"Kita bawa cemilan buat lo, dimakan, ya?" kata Kae sambil menunjuk ke arah makanan yang sudah tersusun di atas meja.
"Terima kasih, kalian sangat baik." jawab Cale tersenyum tipis.
"Kita pulang aja," bisik Kae pada temannya.
"Baru juga mampir," timpal Chia, kesal.
"Kasian Kal, dia perlu istirahat, kedatangan kita malah membuatnya pusing." lirih Kae.
"Ada yang aneh sama Kal," ucap Yara sambil melirik ke arah laki-laki itu.
"Udah, kita pulang aja, ntar tanya ke Astha kondisinya." kata Kae, yang dibalas anggukan pelan dari temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A²: KARTALA
FanficAdhyastha Dexano, kerap disapa Astha. Sang pengagum gadis apatis yang membencinya. Laki-laki yang menyimpan beribu-ribu luka yang tak pernah sembuh. Hidup Astha hanya seberkas cahaya, sebuah harapan yang mungkin terjadi. Sepertinya tidak, tak ada ka...
