Reef Knot

3K 586 48
                                        

#QOTD kamu lebih suka makanan manis atau gurih?

🌟

Gian menimbun diri dengan bahan bacaan mengenai zaman Medieval saat ia sedang tidak sibuk dengan kuliahnya. Beruntung perpustakaan kampusnya memiliki banyak koleksi buku, tidak hanya di bidang akademis saja. Tapi, setiap ia membaca, yang dapat diingat hanyalah senyuman mengerikan saat makhluk itu mencekiknya. Bagian lain dari monster itu samar, yang dapat diingatnya hanyalah senyuman mengerikan yang siap untuk membunuh siapa pun tanpa ampun. Atau bagaimana ia tercekik hingga tidak dapat bernapas. Tangan dingin dari monster itu membekas di setiap inci kulit lehernya. Meninggalkan rasa takut untuk sekedar terlelap.

Gian menggelengkan kepala dengan cepat saat suara teriakan dan raungan orang-orang terdengar lagi di telinganya samar-samar. "Mimpi, Gian, itu cuma mimpi."

Ia memejamkan matanya saat salah satu teriakan terasa nyaring di telinga hingga ia ketakutan ketika membuka mata pemandangan itu akan kembali. Segala sesuatu dari mimpinya masih dapat dirasakan oleh seluruh indranya, bahkan bau anyir darah yang tercium di sana. Seluruh ketakutannya terlampau nyata untuk disebut mimpi.

"Apa yang mimpi?"

Detak jantungnya serasa berhenti saat mendengar suara rendah seseorang. Perlahan Gian membuka mata dan melihat seseorang duduk di depannya. Pria bermata cokelat dengan rambut panjang yang dibiarkan menjuntai di bahunya dan menggunakan kemeja berwarna hitam. Kulitnya pucat, membuatnya teringat monster dari mimpinya. Dari semua hal yang diingat dari monster di mimpinya itu, warna kulit pucatnya yang paling kentara.

Pria itu tersenyum dan Gian kembali teringat akan mimpi buruknya. Instingnya membunyikan tanda bahaya yang terlalu nyaring untuk diabaikan olehnya. Dengan cepat Gian berdiri dan kini kakinya mengambil alih seluruh tenaga, sama seperti di mimpinya.

Gian berlari dengan sangat kencang keluar dari perpustakaan dan menuju apartemennya secepat yang ia bisa. Jika biasanya memerlukan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki, maka ia sekarang tiba tidak sampai sepuluh menit dengan napas tersengal-sengal.

Dadanya terasa panas tapi ia tidak peduli. Tangannya merogoh kantong celana jeans yang ia kenakan tapi tidak menemukan benda yang dicari.

"Kunci-kunci gue mana?" Gian mengerang saat tersadar semua barangnya tertinggal di perpustakaan.

"Kau mencari ini?"

Suara kunci yang beradu serta suara yang membuat mimpi buruknya terasa nyata berada tepat di belakangnya. Gian memejamkan mata, menunggu tangan, yang ia hafal betul, mencekik lehernya. Ia mungkin tidak dapat mengingat wajah dari pria di mimpinya, tetapi kengerian yang ia rasakan tidak dapat dibohongi.

Gian menajamkan indra pendengarannya saat makhluk itu mendekat hingga ia dapat merasakan hawa dingin di belakang tubuhnya. Telapak tangannya terasa basah sekarang, sedangkan jantungnya berdetak kencang seakan meminta keluar dari tubuhnya.

Menyiapkan diri untuk cekikan yang mungkin akan datang kapan saja, tapi yang ia dengar justru suara kunci pintu unitnya yang terbuka dan juga dorongan lembut di bahunya hingga ia masuk ke dalam. Secepat kilat Gian membalikkan badan, berusaha untuk menutup pintu, namun satu tangan pria itu menghalangi niatnya.

"Kau bisa lari, tapi tidak dengan sembunyi," ujarnya.

Satu dorongan dari tangan pria itu di pintu dan Gian berjalan mundur dengan jantung berdegup kencang dan tangan yang terasa dingin. Kakinya seperti jeli sekarang, ia kesulitan untuk menahan berat tubuhnya sendiri.

"A-apa yang kau mau?" lirihnya.

"Kau," jawab makhluk itu dengan senyuman lebar, ia mengambil satu langkah mendekat ke arah Gian. "Well, bukan aku, tapi bosku yang perlu. Namun, wangimu sangat berbeda dan rasanya tidak buruk juga untuk mencicipi sedikit." Ia meletakkan tangannya di dada dan menikmati wajah ketakutan yang Gian berikan. Seakan ketakutannya adalah hiburan.

"Siapa? Aku tidak kenal siapa pun di sini!" sergahnya. Gian tidak akan mau ikut pria di hadapannya ini apa pun alasannya.

"Oh, sweetheart, bukan siapa tapi apa." Pria itu mengeluarkan kekehan yang terdengar seperti alunan musik mengerikan di telinga Gian.

Gian berlari menuju kamarnya, namun ia merasakan satu pukulan keras di leher dan semuanya menjadi gelap.

25/10/20
Revisi 13/7/21

Jangan lupa vote, komen dan follow akun WP ini + IG @akudadodado yaaw. Thank you :) 

 Thank you :) 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumpelgeist [FIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang