Mang Ujang terlihat semringah. Semakin banyak ibu-ibu yang mengerumuni dagangannya, wajahnya pun terlihat semakin berseri. Tidak percuma bangun pagi-pagi buta bila tiap hari dagangannya selalu ramai seperti ini.
"Ternyata benar...tidak perlu berwajah ganteng untuk bisa mendapat perhatian wanita. Cukup jadi pedagang sayur," kata Mang Ujang setengah berbisik pada Udin yang saat itu berdiri tidak jauh dari motornya.
Udin mencibir. Malas deh jadi pedagang sayur. Enggak keren. Mending jadi freelance seperti dirinya. Jadi detektif oke, jadi mata-mata oke, jadi penjaga malam oke , jadi apa saja oke selama ada hitungannya. Jam kerja bisa diatur suka-suka. Kalau ada yang mengatakan dirinya pengangguran artinya mereka belum paham Pengangguran itu kalau tidak mempunyai pekerjaan. Kalau freelance itu kan kerjaannya banyak.
"Tuh..benar kan, makin lama, yang ngerumunin makin banyak," bisik Mang Ujang lagi, saat ibu-ibu yang mengerumuni dagangannya semakin banyak.
Udin buru-buru menyingkir. Telinganya lama-lama bisa panas mendengar ocehan Mang Ujang.
Mang Ujang tersenyum melihat Udin yang menjauh.
"Ayo dipilih...dipilih....," teriak Mang Ujang lantang. "Mau masak ayam, ikan, daging, ada semua," promonya.
Suara cempreng Mang Ujang hanya dianggap angin lalu karena ibu-ibu kalau sudah ketemu dengan sesamanya pasti langsung asyik mengobrol. Macam-macam yang diobrolkan. Mulai urusan rumah tangga hingga tetangga. Pembicaraan jadi lebih seru apalagi bila ada yang memberi tambahan bumbu-bumbu penyedap. Hee...memangnya makanan.
Pagi ini persaingan usaha Gina dan Saodah sedang hangat-hangatnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau usaha Gokil yang dirintis Saodah mengalami penurunan pendapat yang cukup signifikan akibat munculnya usaha serupa.
"Kasihan si Odah ya...sekarang lebih sering terlihat di rumah."
"Yah..namanya usaha pasti ada pasang surutnya."
"Tapi...si Gina itu berani juga ya."
"Itu sih bukan berani namanya. Ngga tahu malu."
"Yee...situ bilangin Gina ngga tahu malu, tapi kemarin yang nganterin gosokan ke tempat Gina siapa?"
"He..he...lumayan dapat diskon 50%. Penghematan."
"Huu..."
"Jangan lupa nanti ambil gosokan di rumah ya, Dah," suara Bude Darmi yang dibuat agak kencang menghentikan ocehan ibu-ibu itu sejenak.
"Siap, Bude," jawab Saodah riang. Di tengah minimnya pelanggan yang menggunakan jasa gosoknya akhir-akhir ini, kata-kata Bude Darmi seperti oase di padang pasir. Begitu menyejukkan. Walau tahu kalau dirinya menjadi objek pembicaraan pagi itu, Saodah memilih bersikap tak peduli.
Walau banyak tetangga yang beralih ke 'Gina Gokil', tapi tidak dengan Bude Darmi. Tawaran diskon yang diberikan 'Gina Gokil' sama sekali tidak berpengaruh pada Bude Darmi. Bude Darmi tetap mempercayakan gosokannya pada 'Saodah Gokil'. Selain kurang suka dengan Gina sejak awal menjadi penghuni gang Rawa Buaya ini, Bude Darmi termasuk orang yang enggan beralih ke tempat lain bila sudah puas dengan layanan di satu tempat.
"Eh..yang diomongin ada di sini. Bagaimana kabarnya. Dah?"
"Alhamdulillah baik, Bu," jawab Saodah singkat sambil mengambil tempe, kangkung, dan ikan tongkol. Setelah membayar belanjaannya pada Mang Ujang, Saodah segera pamit. Kelamaan di sana tidak bagus buat hati dan dompet. Saodah khawatir bila ibu-ibu sedang bergosip dan orang yang digosipin adalah sosok yang tidak disukainya, maka ia pasti akan ikut menambahkan bumbu penyedap pada obrolan itu. Selain itu, Saodah khawatir bila menatap dagangan Mang Ujang terlalu lama, barang-barang yang tidak perlu dibeli jadi ikut terbeli, padahal Saodah sedang berhemat.
Sambil menyiapkan bumbu dan bahan-bahan yang tadi dibeli di Mang Ujang, Saodah memutar lagu kesayangannya dari ponsel.
Diiringi suara merdu Lee Min Hoo, Saodah mulai beraksi.
I wanna be your boyfriend
nollajiman malgo say yes
ojig negeman chinjeorhan nagateun namja
tto eobda neungeol jalaljanha
Walau hanya bisa ngikutin liriknya di bagian-bagian belakangnya saja, Saodah cuek bernyanyi.
so will you be my girlfriend
tteumdeul ijemalgo say yes
jeoldae nan hanun palji annilge
doeeojwo be my girl
Badannya melenggok ke sana ke mari sambil tangannya sibuk mengupas bawang, merajang lombok, mencuci sayur, membersihkan ikan, dan lain-lain sampai tak terasa urusan masak-memasak pun selesai.
I want you be my girl
I want you be my girl
Somad yang melihat istrinya sudah kembali ceria tampak lega. Piknik kecil-kecilan yang mereka siapkan malam tadi memang berakhir tragis karena kehadiran makhluk kecil panjang dan hobby kloget-kloget di tenda mereka. Entah dari mana datangnya. Padahal mereka tidak pernah mengundang makhluk-makhluk itu untuk ikut piknik. Tapi, yah...sudahlah.
"Beib....Odah mau keliling dulu ya," pamitnya setelah menyiapkan makan siang untuk orang-orang di rumah.
"Ada janji hari ini?" tanya Somad.
"Ngga ada sih, Beib. Tapi Odah mau usaha aja. Siapa tau dapat langganan baru," katanya sambil tersenyum. Setelah langganannya banyak yang pindah ke
"Gina Gokil" Saodah sadar ia harus berusaha lebih keras. Sambil masak tadi dia sudah memikirkan hal ini.
"Ya sudah. Hati-hati."
"Doakan Odah ya, Beib. Jangan lupa nanti ambil gosokan di rumah Bude Darmi."
Somad tersenyum. "Pasti. Doa terbaik untuk Ayang Odah."
Somad membantu Saodah mengeluarkan armada Gokilnya. Setelah itu kendaraan Saodah pun meluncur. Lebih siang dari waktu biasanya sih. Kalau dulu Saodah Gokil jam 08.00 sudah meluncur karena banyak langganan yang minta dijadwalkan. Sekarang, tinggal pelanggan setia yang umumnya merupakan kenalan Saodah atau Somad. Itupun biasanya hanya di akhir pekan.
Mata Saodah celingukan memikirkan rute yang akan dilewatinya. Saat matanya melihat Komplek perumahan Siaga Baru ia pun memutuskan untuk membelokkan kendaraannya ke komplek tersebut. Untuk menarik perhatian, Saodah sengaja membunyikan klaksonnya secara berirama.
Seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi di depan rumahnya penasaran dan memanggil Saodah.
"Mbak...Mbak jualan apa ya? Baru pertama masuk di komplek ini ya?" tanya Ibu itu begitu Saodah menghentikan motornya.
"Saya nawarin jasa gosok, Bu. Kalau Ibu punya cucian yang belum digosok bisa langsung saya gosokin," jelas Saodah. Rupanya
"Saodah Gokil" masih asing di Komplek ini.
"Kebetulan, Mbak. Aduhh...ini gosokan saya banyak banget. Sejak si kecil lahir, waktu buat gosok ngga ada lagi. Bisa minta tolong angkatin keranjang cuciannya sekalian ngga, Mbak?"
"Oh iya. Bentar, Bu. Saya siapin dulu peralatan gosoknya."
Saodah membuka meja lipat dan memasang alas setrika. Tak lupa ia menyalakan kompor untuk mendidihkan air. Setelahnya ia masuk ke dalam rumah bersama Ibu tadi dan mengambil keranjang cucian. Lumayan, ada 2 keranjang cucian dengan tumpukan yang lumayan tinggi karena belum sempat dilipat.
"Untung Mbak lewat ya... gosokan saya pasti akan semakin bertambah tumpukannya."
"Lumayan, Bu. Ngga perlu jauh-jauh kalau pengen manja"t gunung. Cukup manjat cucian Ibu."
Saodah dan Ibu itu sama-sama tertawa.
"Ini hitungannya per kilo ya, Mba?
"Iya, Bu. Nanti akan ditimbang setelah gosokannya selesai. Per kilonya 3000," terang Saodah sambil mulai menggosok.
Ibu tadi manggut-manggut, sambil memperhatikan cara kerja Saodah.
"Baru buka ya, Mbak?" tanya Ibu itu penasaran.
"Sudah lama juga, Bu. Hampir setahun. Tapi memang baru sekali masuk ke daerah ini."
"Ohh..pantesan baru lihat. Padahal kalau ke sini pasti banyak yang pengen tuh, Mbak. Nanti saya minta nomor kontaknya ya. Siapa tahu nanti ada teman saya yang pengen bajunya digosokin juga."
"Ini nomor saya, Bu. Catat aja," kata Saodah sambil menunjuk nomor ponsel yang tertera di armada gokil miliknya. Wajahnya terlihat berseri-seri. Pelanggan lama pergi, biarlah. Tokh masih ada pelanggan yang baru. Selain itu, ada keyakinan dalam dirinya kalau cepat atau lambat, pelanggan-pelanggan lamanya akan kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Gokil
HumorYang namanya keluarga itu harus saling mendukung kan? Ngga mungkin banget kalau sebuah keluarga itu adem ayem terus. Pasti ada pasang surutnya. Namun, yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana mereka saling dukung, saling bantu, dan bekerj...
