Akhir pekan…
Bagas dan Satrio pagi-pagi sudah terlihat rapi. Tidak ada lagi alasan ngumpulin niat untuk mandi. Tidak ada juga alasan bingung nyari lagu untuk mandi.
Keduanya bahkan sudah bangun sebelum ayam berkokok. Semangat 45 pokoknya.
Saodah hanya tersenyum. Ia tahu alasan kedua bujangnya ini bangun pagi. Apa lagi kalau bukan karena akan bertemu pelanggan kesayangan. Mila dan Dewi.
“Tumben…sudah rapi. Mau kemana?” Saodah pura-pura tidak tahu.
“Mau bantuin Emak lah….Gokil Mak…Gokil….,” jawab Satrio.
“Iya, Mak. Kami kan sayang sama Emak. Ntar kalau Emak ngga ada istirahatnya bisa jadi kurus lho…,” sambung Bagas.
“Huss…jangan nyinggung-nyinggung berat badan. Itu masalah yang sensitif untuk perempuan,” tegur Saodah.
Satrio dan Bagas tertawa.
Segera setelah sarapan, mereka pun berangkat dengan armada masing-masing dan pelanggan yang berbeda.
Walau sebenarnya ada rumah pelanggan yang lebih dekat untuk didatangi, keduanya memilih untuk mendatangi pelanggan kesayang terlebih dahulu. Satrio ke rumah Dewi, Bagas ke rumah Mila. Keduanya membayangkan ini sebagai kencan terselubung. Sekali mengayuh, 2-3 pulau terlampaui. Sambil gosok, dapat uang, sekalian ngapel.
Bagas tiba di rumah Mila jam 8 lewat. Seperti biasa, kedatangannya di sambut ramah oleh Tante Rina.
“Wow…calon mantu tante sudah datang,” goda Tante Rina yang langsung membuat wajah Bagas seperti kepiting rebus. Tante Rina tertawa. “Ini mau gosok atau mau ketemu anak tante?” godanya lagi.
“Dua-duanya tante,” jawab Bagas malu-malu. Tante Rina tertawa. “Sebentar ya…tante ambilin cucian tante yang harus digosok hari ini.”
“Banyak-banyak ngga papa kok, Tante.” Apalagi kalau sambil ditemanin Mila gosoknya, sambungnya dalam hati.
“Enak di kamu, ngga enak di tante,” jawab Tante Rina sambil masuk ke rumah untuk mengambil tumpukan cucian yang belum digosok.
Saat keluar terlihat Mila ikut mengiringi sambil membawa keranjang cucian seperti ibunya.
Bagas pun segera menghampiri.
“Eit…bantuin Tante dulu,” kata Tante Rina mengingatkan. “Kalau ngga, ntar Tante ngga mau ngerestuin,” ancam Tante
Rina. Bagas tertawa.
“Siap Ibu Mertua,” jawabnya.
“Calon…,” ralat Tante Rina.
“Iya…calon mantu kesayangan,” sambung Bagas sambil tertawa.
“Huu…GR… Emang Milanya mau?” pancing Tante Mila.
“Apaan sih, Ma..,” protes Mila sambil meletakkan keranjang cucian yang dibawanya ke dekat meja gosok Bagas. Bibirnya terlihat cemberut.
Tante Mila dan Bagas kompak tertawa.
“Ya udah…Tante tinggal dulu ya. Masih mau masak,” pamit Tante Rina.
Sepeninggal Tante Rina, Bagas dan Mila terliha sedang berpandang-pandangan. Bagas tidak menyia-nyiakan hal ini untuk mengeluarkan senyum mautnya yang biasa membuat para gadis klepek-klepek.
“Kamu tau ngga, Mil…selain main music, aku juga suka main sepak bola,” Bagas membuka pembicaraan dengan Mila. Tadi malam dia sudah belajar mencari kata-kata gombalan ke Mbah Google yang bisa bikin hati gadis klepek-klepek.
“Oh ya?”
“Iya..aku jadi kipernya. Tapi..aku kiper yang buruk lho…,” sambung Bagas sambil mulai menyalakan kompor untuk memanaskan uapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Gokil
ComédieYang namanya keluarga itu harus saling mendukung kan? Ngga mungkin banget kalau sebuah keluarga itu adem ayem terus. Pasti ada pasang surutnya. Namun, yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana mereka saling dukung, saling bantu, dan bekerj...
