Benar kata orang kalau jodoh tuh emang nggak ke mana, buktinya hari ini ketemu lagi sama Neng Mila. Duh, senyumnya itu lo nggak cuma bikin diabetes tapi juga bisa bikin insomnia, kopi mah lewat.
“Wah, suka datang ke acara bazar juga, ya?”
“Nggak...”
“Loh terus???” Bagas melongo mendengar jawaban Mila.
“Mmm, nggak... salah,” gurau Mila, sambil nyengir memamerkan gigi gingsulnya.
Bagas pun ikut tertawa ngakak. “Untung kamu manis Neng, kalau nggak udah tak hhh...” batin Bagas sambil senyum-senyum.
Sayangnya Mila datang ke bazar buku bareng teman-teman satu gengnya, sedangkan Bagas bareng Haris teman karibnya, jadi mau nggak mau pertemuan mereka kilat, kayak surat elektronik. Setelah kepergian Mila, Bagas seperti orang linglung. Suara renyah Mila mengikuti ke mana pun Bagas pergi, Hamparan buku di depan mata bagai lukisan sang maestro begitu sempurna, seluruh lekuk wajah Mila tergambar jelas.
Bolak-balik Bagas mengucek-ngucek matanya bak kelilipan pasir satu kontainer. “Duh, harus buru-buru cabut dari sini nih, sebelum tambah gila.”
Bagas pun akhirnya benar-benar angkat kaki dari bazar dan melupakan tujuan utamanya mencari buku latihan soal-soal.
Sedangkan Haris ngomel-ngomel kayak tante-tante cerewet.
“Lo kenapa sih Gas, kesambet ya? Oh, gue tahu ini pasti gara-gara lo kesengsem sama cewek sok kecakepan tadi kan? Tuding Haris, sengit.
Bagas yang tak terima dengan tuduhan semena-mena, walaupun sebenarnya memang iya, namun untuk saat ini belum saatnya ia mengaku. Bisa jatuh wibawa di muka sahabatnya karena semua masih belum pasti, mangkanya Bagas memilih untuk pulang naik angkutan umum daripada jadi bulanan-bulanan Haris.
“Yaelah, dasar sableng ni anak, baru gitu doang ngambek macam anak kecil kehilangan mainannya,” teriak Haris kesal.
Sementara Bagas tak ambil pusing, ia ngeloyor pergi sambil teriak “Ntar kita ketemu di rumah Deni buat latihan nyanyi, sekarang mending lo cuci otak dulu gih biar ademan dikit,” seru Bagas tak mau kalah.
Setelah mengucap salam, Bagas langsung masuk kamar. Satrio yang juga sudah pulang karena guru-guru ada rapat mendadak itu, langsung membututi adiknya.
“Ngapain lo? Muka ditekuk kayak jemuran kusut. Terus mana buku pesenan Mas, ada?”
Bagas menepuk jidatnya
“Yaahhh, maap lupa Mas,” teriak Bagas sambil merutuki dirinya sendiri. Satrio geleng-geleng kepala seraya mendekati Bagas
“Pasti gara-gara cewek kan, muka lo tuh keliatan kacau banget. Cerita lah gimana anaknya Om Panji itu. Nggak usah takut gue samber. Udah ada Dewi di hati Mas,” seru Satrio sambil menepuk dadanya berulang kali.
“Yang pasti cewek cantik, namanya Mila,” ucap Bagas, sebelum berjalan ke ruang makan. Satrio masih berusaha mengorek tentang sosok Mila. Bagas nggak suka itu, ia pun mengungkit-ungkit nama Dewi sebagai senjata dan Satrio merasa kena skak mat.
Selesai makan siang Bagas pergi ke rumah Deni untuk latihan. Walaupun di tempuh dengan menggunakan kendaraan angkutan umum tak masalah demi kemaslahatan bersama, pukul dua siang Bagas sampai di depan rumah Deni. Rumah bergaya Betawi itu mengingatkan Bagas pada film Si Doel Anak Sekolahan. Ya, walaupun ia termasuk generasi milenial, Emak dan Bapaklah yang mengenalkannya pada film apik itu.
“Eh, Bro' udah datang lo...”
“Yoi, yang lain mana?” tanya Bagas, sambil berjalan memasuki beranda rumah Deni.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Gokil
HumorYang namanya keluarga itu harus saling mendukung kan? Ngga mungkin banget kalau sebuah keluarga itu adem ayem terus. Pasti ada pasang surutnya. Namun, yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana mereka saling dukung, saling bantu, dan bekerj...
