Sepeda Motor Bersejarah

29 1 0
                                        

Kembali bersama si bebek, menjadi saat-saat yang paling membahagiakan bagi Odah. Layaknya sahabat karib yang lama terpisahkan, Odah bolak-balik mengelap permukaan sepeda motor yang telah menemaninya dalam suka maupun duka.

“Hmm, yang baru sembuh semangat banget,” goda Somad, memerhatikan tingkah polah istrinya. Sementara yang diperhatikan hanya nyengir kuda.

“Ya, mau gimana lagi pak, si Bebe' ini udah nemenin kita sekeluarga dari jaman kita susah sampai sekarang dia tetap setia. Kayak cinta Odah ke Abang tak kan terganti,” ucap Odah di bumbui senyum rasa sayang.

“Ealah, udah tambah pinter ngegombal ya sekarang? Siapa dulu dong gurunya?” ucap Somad seraya menepuk dada dan berjalan mendekati Saodah plus Bebe' panggilan kesayangan buat sepeda motor penuh sejarah keluarga Somad.

Pikiran Somad tiba-tiba melayang saat pertama kali motor bebek itu terbeli. Dengan bangga ia mengajak seluruh keluarganya keliling kota dan berhenti di seputaran Monas menikmati angin sore.

Bagas yang waktu itu masih berusia lima tahun, senang bermain lari-larian bersama kakak-kakaknya.

“Ngapain Bang, senyum-senyum?”

“Yah, biasa abang lagi teringat masa lalu, nggak terasa kita makin tua ya beib?  ujar Somad dengan mata berkaca-kaca. Saodah akhirnya ikut larut dalam lamunan mengenang saat-saat indah bersama suami dan anak-anaknya.

“Hmmm... pagi-pagi udah berduaan?” sapa Satrio di susul Bagas yang berjalan di belakangnya hendak berangkat ke Sekolah.

Somad dan Saodah hanya memamerkan tawa yang terkembang kepada kedua anak lelaki yang beranjak dewasa itu, tinggi mereka bisa dibilang menyamai Somad, terutama Satrio yang gemar main basket.

“Oiya, kapan jadinya kamu main Sat?” tanya Somad, mengalihkan pembicaraan.

“Masih seminggu lagi, tenang aja nanti pasti Satrio kabari.”

Somad mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara, kemudian menepuk-nepuk bahu Satrio. Tak lupa memberi pesan untuk selalu rajin belajar, sebelum kedua anak lelakinya itu berangkat ke sekolah.

Setelah Satrio dan Bagas hilang dari pandangan, Saodah dan Somad juga bersiap untuk beraktivitas hari ini.

“Jam delapan nanti Odah berangkat Bang, sudah dapat orderan dari Bu Wilson,” seru Saodah sambil berjalan ke dapur hendak menyelesaikan masak menu hari ini yaitu, sayur lodeh terong lauk ikan asin.

Somad manggut-manggut sambil berpesan untuk lebih hati-hati bila ada anjingnya, takut kejadian seperti waktu itu. Saodah mengulum senyum ingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Odah nggak menyesal karena, gara-gara ulah Doggy lumayan bisa sedikit membakar lemak di tubuh.

“Beib, gimana kalau hari ini Abang yang keliling, sekali-sekali lah, masa kalah sama cewek-cewek, biar Arum yang di rumah nemenin si Ratih,” ucap Somad mantap. Saodah mengedikkan bahunya seraya berkata “Terserah Abang deh, kalau itu yang terbaik menurut Abang.”

Jadwal oprasional gokil memang di mulai pukul delapan pagi. Jadilah, hari itu Saodah dan Somad yang keliling keluar bareng dari rumah.“Hati-hati ya Pak, Emak juga o iya sama satu lagi yang akur, jangan berantem,” pesan Arum sebelum kedua orang tuanya meluncur. “ Ya elah Rum... lo kata, kita mau boncengan berdua.”Arum, ngakak mendengar protes Somad.

Sinar mentari yang menyengat pagi itu menambah hangat kedekatan Somad dan Saodah. Hingga mereka harus berpisah di tengah jalan. Somad melanjutkan perjalanannya ke rumah pelanggan yang lain, sedangkan Saodah berhenti di rumah Bu Wilson yang memang tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Keluarga GokilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang