#1.

41.9K 1.3K 8
                                        

"Huh."

Helaan nafas terdengar berat dari sang empu yang sudah cukup santai setelah setengah jam lamanya ia diburu buru oleh waktu.

Jena menyisir rambutnya yang setengah basah, tidak mau menyisakan poni karena itu akan terlihat sangat lepek dan dingin di dahinya. Hair clip andalannya menggantung di tali tote bag-itu merupakan salah satu alat tempur yang akan ia butuhkan dalam mengerjakan laporan penelitiannya di siang hari nanti.

Kini semerbak parfum memenuhi setiap sudut ruangan-oh, for your information, semalaman ini Jena membersihkan kamar, yah dari pada menangisi masalah hidup yang tak kunjung selesai, lebih baik waktunya ia gunakan degan sesuatu yang bermanfaat.

Jena tersenyum lebar, auranya secerah langit di siang ini. Ia sempat melirik jam yang menunjukan pukul 8:42 sebelum benar benar pergi meninggalkan kamarnya.

Jena mengunjungi dapur, mengetahui kebiasaan bi Sri yang selalu menyiapkan segelas susu coklat tiap pagi nya.

"Bi, susu coklat Je mana?"

Yang dipanggil menoleh ke belakang, sejenak menghentikan kegiatan cuci piringnya dan menunjuk kulkas yang tersedia di sana.

"Bibi masukin kulkas, tadi pagi ditungguin non-nya nggak turun turun," keluh bi Sri yang kini kembali melanjutkan pekerjaannya di wastafel.

Jena menyengir, ia mengambil minumannya dan memilih duduk di kursi makan.

Setelah membersihkan kamarnya semalam, Jena kelelahan dan tertidur lebih lama dari jadwalnya, alarm saja tidak dapat membuat dia terusik. Bangun bangun kesiangan dan buru buru mengejar waktu agar tidak terlambat.

Kini Jena masih mempunyai waktu 25 menit sebelum kelasnya dimulai, cukup santai karena jarak dari rumahnya menuju fakultas bisa ditempuh dengan waktu kurang dari sepuluh menit.

Sebenarnya, itu bisa dirasa dekat, namun terkadang terasa jauh. Tergantung dari bagaimana keadaan Jena berangkat ke kampus. Kalau terburu buru, tentu saja sepuluh menit itu akan terasa sangat jauh.

"Non mau makan-" ucapan bi Sri terhenti saat ia menoleh dan mendapati Jena yang tengah mengintip ke ruang tengah dari sela sekat rumah.

Terlihat dua orang yang bergandengan tangan terduduk santai di sofa ruang tengah.

Jena memicing, mencoba mengamati perempuan yang akhir akhir ini terus menempeli papanya. Perempuan berpakaian minim dengan make up tebal dan bibir merah, sangat norak sampai sampai Jena ingin menyemburkan minuman di mulutnya agar bedak perempuan itu luntur.

Tapi yang jelas, Tara tidak akan setuju jika ia benar benar melakukannya. Memang siapa sih perempuan centil itu? Menggoda papanya saja!

Jena berdecak sebelum kembali meneguk susu coklatnya hingga tandas. "Dah abis, Je berangkat dulu," pamit Jena yang diangguki bi Sri.

Ia melangkah cepat menuju pintu utama, berharap dua orang yang ia lewati tidak menyadari kehadirannya disana. Namun sial,

"Kamu mau berangkat sekolah ya, cantik?"

Perempuan dengan dress kuning yang menyala terang itu bertanya centil. Sukses menghambat langkah Jena untuk sekedar mendeliknya sebal.

"Sokap."

"Aljena, language!" Peringat Tara, yang digertak hanya memutar bola matanya jengah.

"Malam ini luangkan waktu kamu, ikut papa makan malam dengan keluarga dari mempelai pria."

Demi Tuhan, mendengar kalimat papanya membuat bulu kuduk Jena berdiri sempurna. Apa katanya? Mempelai pria?

"Calon mertua kamu itu rewel, jadi jangan lupa menyiapkan segalanya dengan matang."

ALJENA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang