#9.

21.6K 824 11
                                        

Jena terdiam, benar benar diam hanya untuk memandangi seluruh bagian dari rumah yang ia pijaki sekarang. Rumah yang kedepannya akan ia tinggali bersama Daniel.

"Om, seriusan gak sewa pembantu?"

Daniel yang tengah memasukan koper pun berhenti sejenak di samping Aljena-di lawang pintu.

"Kamu liat muka saya?"

Aljena menoleh, menatap Daniel.

"Keliatan bercanda?"

"Apa gak kasian Je bersih bersih di rumah segede ini?" Kata Jena seraya memandangi isi dari bangunan itu.

"Kamu liat muka saya?"

Jena menoleh lagi.

"Keliatan peduli?"

"OM IH!!!"

Daniel menghela nafas, berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Jena di belakangnya.

"Lagian om kenapa beli rumah segede ini coba. Kita kan tinggal berdua doang," gerutu Jena.

"Uang saya, suka suka saya."

"Ya tapi harus berdasarkan kemauan saya juga."

"Gak ada yang namanya imam mengikuti makmum."

Peduli setan. Jena menyerah. Ia capek adu mulut dengan Daniel. Lebih baik ia pilih kamar untuk di tempati.

"Kamarnya ada berapa, om?"

"Satu."

"Satu?" Tanya Jena memastikan, Daniel mengangguk menatapnya datar.

"Boong. Rumah segede gini masa kamarnya cuma satu?"

Daniel tak menjawab.

"Om sengaja ya milih rumah yang kamarnya satu?" Tuduh Jena.

"PD kamu, kamar disini ada 3. Cuma satunya saya jadiin gudang, satu lagi belum saya isi barang barang."

Jena tahan amarahnya, ia langkahkan kakinya guna mencari salah satu kamar yang Daniel maksud.

"Belok kanan."

"Apaan?

"Kamarnya," beritahu Daniel.

"Oh yah, makasih bang."

Ketemu!

Jena tarik kopernya ke dalam kamar, merapikan baju untuk disusun rapi di dalam lemari.

Ia pikir, tidak masalah sekamar dengan Daniel. Toh, laki laki itu juga keliatannya tidak akan macam macam.

Ruangan ini cukup besar untuk dikatakan sebagai kamar. Terdapat ranjang king size dengan sofa panjang di sudut ruangan.

"Je?"

Lama memperhatikan hingga Jena tak sadar Daniel sudah berdiri di lawang pintu kamar.

"Ada tamu di depan."

"Siapa?"

"Teman saya."

"Terus?"

"Keluar gih, dia nanyain kamu," Daniel memberitahu.

"Malu, om."

"Saya gak punya helm buat nutupin muka kamu."

"Garing."

"Cepatan."

"Bilangin sayanya gak ada, ribet bener dah."

"Saya udah bilang kamu ada di rumah."

Jena berdecak, menutup kopernya sebelum pergi keluar kamar-menemui tamu yang Daniel maksud.

Tidak banyak, hanya dua orang yang mungkin berpasangan.

ALJENA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang