#13.

19.1K 742 8
                                        

Kampus sudah mulai sepi, tak banyak mahasiswa/i yang lalu lalang disana, hanya beberapa.

"Ada apa, om?"

Lama tak ada jawaban. Daniel mengedarkan pandangannya menatap sekitar sebelum kembali pada titik pusat tatapannya di depan-yaitu Jena.

Ia bersandar pada mobil di belakang. Melepas kancing jasnya untuk mengurangi rasa gugup saat melihat putri Gentara.

Jena mengerjap, kepalan tangan pada ransel tasnya mengerat saat detak jantung di dalam sana semakin berdebar kencang.

"Saya gak mau apa apa si, cuma mau ngomong.. selamat and thank you, makasih sudah bertahan sampai di titik ini," kata Daniel.

Jena terenyuh, ia mensyukuri keberadaan laki laki ini di hidupnya, merasa beruntung memiliki Daniel, rasanya memang seperti itu sejak awal.

"Om."

Daniel hanya bergumam pelan.

"Boleh peluk?"

Karena Daniel hanya diam tak menjawab, Jena jadi merasa gondok, sepertinya ia akan tertolak.

"Kalo gak—"

Belum selesai Jena berbicara, Daniel sudah merentangkan tangannya seraya mengangguk.

Jena mengatupkan mulutnya, melihat Daniel seolah berkata. "Iya, sini, saya peluk."

Jena bawa kakinya untuk melangkah menuju pelukan Daniel. Perasaanya campur aduk-sulit untuk dijelaskan.

Daniel pun ikut melangkah agar Jena bisa mendapatkan pelukannya dengan cepat.

Dan saat kedua tubuh itu saling menempel tanpa jarak, saat kedua pasang tangan saling melingkar pada bagian tubuh lawannya, mereka sebagai atma yang fana meminta keabadian kasihnya pada semesta, mengaku pada bumantara bahwa mereka sudah saling jatuh cinta, entah bagaimana.

Keduanya berhasil menarik atensi orang sekitar yang berlalu lalang, tak banyak dari mereka yang memotret, bertepuk tangan dan bersorai bahagia.

Jena sendiri menutup matanya menahan isak, lama sekali ia tidak mendapat dekapan hangat dari seseorang. Kini, Daniel melakukannya. Ia dapat merasakan halus usapan Daniel pada punggungnya.

Saat ransel yang ia sampirkan di bahunya merosot, Jena bergerak untuk membenarkan sekalian menarik diri dari pelukan Daniel.

Laki laki itu merapikan jas nya selagi Jena menengok sekitar.

"Om gak kerja tah hari ini?"

Daniel menggeleng.

"Terus ngapain kesini? Padahal kalo sibuk mah gapapa gak perlu maksain buat kesini," kata Jena.

"Siapa yang kamu sebut maksain? Orang saya kesini karena kebetulan lagi senggang."

Daniel membuka jasnya gerah, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia lipat ke atas. Aromanya menguar menambah kesan maskulin.

Jena akui bahwa keturunan de Darso yang satu ini memang tampannya menembus batas maksimal alias cakep banget ya Tuhan Jena abis melakukan kebaikan apa sebelumnya sampai dikasih modelan begini.

"Wisuda kamu kapan?"

"2-3 bulan lagi."

Daniel mengangguk mengerti, ia tenggakkan kepalanya yang langsung tersorot oleh sinar matahari. "Masuk mobil gih, panasnya terik banget disini," titahnya di turuti Jena.

.

.

Kata Daniel, ia punya banyak waktu luang hari ini. Oleh karena itu, Jena berinisiatif untuk mengajaknya berbelanja di store terdekat.

ALJENA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang