(+)Delapan

30.8K 3.2K 135
                                        

"Jun?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jun?"

Kelu. Entah mengapa indra perasa Juna tiba-tiba terasa kelu, sudah 3 kali suara Vanya menyebutkan namanya namun sang pemilik nama tak kunjung menjawab atau sekedar menyaut. 

Entah mengapa setelah mendengar kalimat yang Vanya ucapkan, hati Juna terasa seperti kehilangan salah satu bagiannya. Badannya terasa lemas, mata coklatnya ingin sekali menjatuhkan air mata yang sudah sedari tadi ingin terjun bebas di pipinya. 

"Jun?" Sudah ke empat kalinya Vanya memanggil nama tunangannya itu, tak kunjung mendapatkan respon, Vanya pun mencoba untuk mendekat,membuat sang pria tersentak begitu melihat tunangannya sudah dihadapannya. 

Juna menatap Vanya, mencoba untuk menyelam lebih dalam agar bisa melihat arti pandangan gadis di hadapannya ini, namun hatinya lebih sakit lagi karna dirinya hanya melihat  kehampa dan kekosongan, gadis ini bahkan tak terlihat menyesal atau setidaknya ragu. 

Juna tersentak saat tangan dingin Vanya menyentuh jari-jari miliknya, Juna mengedipkan matanya mencoba untuk merenggut kembali kesadarannya. Ia melepas tangan Vanya yang mencoba makin menggenggam tangannya, melepaskan ikatan pandangan yang entah sejak kapan terjalin. 

"Kita omongin besok, lu lagi mabuk"

Juna membalikkan badannya, mencoba untuk memasuki mobil dan menghilang rasa sakit yang sejak tadi terdiam nyaman dihatinya. 

"Gua gak mabuk, ya… emang sedikit pusing. Tapi gua gak mabuk!" Ucap Vanya yang sukses membuat Juna menghentikan niatnya untuk menjauh darinya. 

Juna menatap Vanya, kali ini tatapannya memiliki arti, namun lagi-lagi tatapan tunangannya itu bukanlah memiliki arti yang ia mau.

Vanya memelas, menatap Juna seakan meminta agar tunangannya itu tak pergi. 

"Gua mau ngomong Jun, gua mau ngomongin hal yang selama ini lu pengen denger dari mulut gua" Vanya masih bertahan dengan tatapan memelas nya, membuat Juna kembali mendekat ke arah Vanya. 

"Apa?" 

Vanya menggeleng, bahkan disaat seperti ini Juna masih teguh dengan sifat dinginnya. Padahal Vanya tak tahu kalau sang tunangannya itu sedang bersih keras untuk berdiri tegap ditengah pikirannya yang kacau. 

"Gua, setuju kalo kita udahan" Tegas Vanya sekali lagi. 

Juna menelan salivanya setenang mungkin, mencoba untuk tak terlihat gugup. 

"Gua nyerah Jun, gua capek" Tanpa sadar setetes air mata Vanya turun. Sial, sepertinya kalau ia kembali ke tubuh Widya ia akan ikut audisi menjadi seorang aktris. 

"5 tahun Jun, 5 tahun gua nyoba buat nge pertahanin semuanya. Mempertahankan hubungan kita yang bahkan yang bahkan gua rasa gak lu anggap sebuah hubungan" Vanya menghapus air matanya dengan tangan yang sedikit bergetar. 

Antagonist Revenge Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang