(+) Dua Puluh Enam

7.3K 491 18
                                        

"Makasih ya Jun"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Makasih ya Jun"

Vanya tersenyum begitu ia turun dari motor sport Juna. Juna membuka helm berwarna hitam yang menutupi seluruh wajahnya itu dan mengukir sebuah senyum disana.

Sekarang pukul 8 malam, namun Vanya baru menginjakkan kakinya kerumah. Tentu saja pensi sudah selesai sejak tadi, namun karna mood yang tidak bagus Vanya meminta agar Juna mengajaknya berkeliling kota, dan sekarang mereka baru pulang.

Pria itu ikut turun dari motornya dan meletakkan helmnya diatas dashboard motor, membuat Vanya mengerutkan keningnya.

"Jun? Kamu mau ngapain? Emangnya gak puas kita udah keliling kota tadi?" Ucap Vanya iseng yang diakhiri oleh kekehan.

"Engga… boleh gak gua nginep dirumah lu malem ini?" Vanya dengan spontan menghapus senyum diwajahnya begitu mendengar tanggapan dari tunangannya itu.

"Yaampun Juna… Aku bercanda doang kali! Lagian malem ini bi darsih gak dirumah, jadinya aku sendirian" Jelas Vanya sambil sesekali mencoba mendorong Juna agar kembali ke motornya.

"Bagus dong? Kalo gitu kita berduaan aja kan?"

Blush

Ucapan Juna barusan sukses membuat Vanya terdiam dan membuat wajahnya memerah, untung saja sekarang sudah malam, kalau tidak ia pasti akan double malu.

"Juna! Apa-apaan sih, nanti kalo kita berduaan aja terus digrebek warga gimana?" Vanya memukul pelan pangkal lengan Juna, membuat pria itu sedikit meringis.

"Ya gapapa Van, lagian kan kita udah tunangan kalo tiba-tiba digrebek warga ya kita tinggal nikah kan?" Ujar Juna dengan lancar tanpa hambatan.

"Aduh!" Juna kembali meringis saat tangan Vanya dengan mudahnya mencubit dirinya dengan kekuatan maksimal.

"Jangan ngaco ya Jun! Kalo ngomong ngaco lagi aku jambak kamu!" Ucap Vanya emosi, ya sebenarnya ia sedang menahan malu.

"Hahahaha liat? Wajah kamu merah banget" Ucap Juna jahil seraya menunjuk wajah Vanya yang memerah.

"Bodo ah! Aku masuk, ngantuk tau gak!" Vanya membalikkan badannya, ia tak bisa menahan rasa malu nya lebih lama lagi.

Namun baru saja 3 kali melangkah tiba-tiba Vanya merasakan ada sesuatu yang menahan tangannya, ternyata itu ulah Juna.

Vanya membalikkan badannya dengan raut wajah merah, "Apaan?" Ucapnya kesal.

Namun ekspresi kesal Vanya kini mereda saat melihat Juna tak lagi memasang wajah jahilnya, yang ada hanyalah wajah serius yang sedang menunduk.

"Jun?" Panggil Vanya.

Namun bukannya menjawab, Juna malah mendekat kearah Vanya dan memeluknya, pelukan yang sangat erat seakan siapapun tak bisa melepaskan pelukan itu sekarang. Sedangkan Vanya? Yatuhan jangan tanya bagaimana perasaan Vanya sekarang, kalau bisa saat ini ia akan bersembunyi dibalik lubang semut.

Antagonist Revenge Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang