[follow dulu sebelum membaca]
-selesai-
Widya memiliki hobi yang sama dengan kebanyakan wanita remaja pada umumnya, ia sangat suka dengan hal berbau romantis termasuk novel romantis. Suatu hari, sahabatnya merekomendasikan sebuah novel yang sedang h...
Hayo vote dulu coba! Cukupdiasaja yang ghostie, kamujangan! :(
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Siapa? Cowo baru lagi?"
Putri meletakkan jari telunjuknya diatas bibir manisnya, mengisyaratkan agar wanita dengan jarak usia 20 tahun di atasnya itu diam dan menutup mulutnya.
Putri menatap kearah jendela dengan sedikit khawatir, terlihat Adrian baru saja pergi dengan motornya keluar gang rumahnya, akhirnya Putri bernafas lega dan kembali menatap wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
Namanya Yanti, wanita berusia 38 tahun yang memiliki peran sebagai 'ibu tirinya' atau harus Putri bilang… rekan kerja?.
"Gua udah bilang kan? Jangan suka nampakin diri depan temen gua!" Putri menaikkan nada suaranya, menggunakan kata elu-gua yang tentu saja tak pantas ia gunakan untuk wanita yang jauh lebih tua darinya, tapi siapa yang perduli? Ia sendirian saat ini yang berarti ia 'bebas' tanpa menjadi Putri sialan itu
Putri menatap dingin kepada wanita dihadapannya ini dan tentu saja tak digubris sang wanita.
"Hahaha mana ya Putri yang lugu dan polos itu? Putri yang selalu ngepang rambutnya dan pake aku-kamu?" Yanti memiringkan wajahnya sambil tersenyum jahil.
Putri melangkah kakinya mendekati wanita itu masih dengan tatapan dingin tak berperasaan. Tangannya langsung terlipat didepan dadanya begitu sampai didepan wanita itu.
"Putri yang itu udah mati sejak 6 tahun yang lalu, dan gabakal pernah balik lagi" Putri menekan setiap perkataannya yang membuat Yanti spontan mendengus remeh, seperti apa yang ia harapkan.
"Gua harap lu gak terbuai sama temen-temen lu itu, terutama siapa tu namanya? Juna, nah Juna. Inget dia target utama kita" Yanti menaikkan satu alisnya menatap intens Putri seakan sedang 'menggeledahnya'.
Putri terkekeh, "Temen? Mereka lebih pantas disebut sampah".
Putri memundurkan dirinya satu langkah, lehernya sakit mendongak terlalu jauh.
" Gua nyiapin semuanya sejak 6 tahun yang lalu, gua udah mulai dapetin apa yang gua mau. Menurut lu? Dengan bodohnya gua bakal terbawa oleh rencana gua sendiri?"
Putri menurunkan tangan yang sedari tadi ia lipat di depan dadanya.
"Dan gua harap lu juga fokus, kerjain apa yang harus lu kerjain dan gua juga bakal ngelakuin hal yang sama" Putri kembali menatap Yanti seakan hendak menerkam wanita itu.
Ditengah remangnya lampu ruang tamu rumahnya, kedua orang wanita kini saling bertukar tatap,bukan,bukan tatapan hangat seperti para gadis biasanya melainkan tatapan membunuh,tapi hal itu cukup wajar bukan? Mereka menang pembunuh.
"Dan yang satunya lagi? Sicewe itu?"
"Vanya? Lu gak usah takut,semuanya udah gua atur. Mending sekarang lu masak, gua laper" Ucap Putri mengibaskan rambutnya dan memasuki kamarnya.